Sunday, December 13, 2009

Diskon

Pagi ini, menuruti pesanan yg di rumah, aku mampir di antrean para
pembeli donat, di dekat pintu ke luar T3 BSH. Jam boarding masih lama,
dan aku sdh check-in, jadi tidak apa-apa ikut antre yang panjangnya
spt gerbong kereta ekonomi itu. Lumayan lama shg aku bisa menghitung
antrean di depanku, ada 15 ibu (termasuk nona-nona muda dan dua bapak
(that's me and one 'bule'). Semua (ya, semua!) ibu membeli lebih dari
satu lusin donat. Bule di depanku, ketika sampai pada antreannya, cuma
bertanya: "Can I have coffee ?". Pelayan menjawab singkat: "Go right
there, Sir. To the coffee bar." Menydari salah antrean, dengan tenang
dia ke luar antrean menuju coffe bar yang sepi antreannya. Pelajaran
pertam, jangan menggerutu kalau kesalahan pada kita. Antrean sampai
pada giliranku. Sesuai pesanan, aku beli satu lusin. 59 ribu. Mahal?
Ya iyalah, itu senilai upah tukang batu rumahan di Semarang. Tetapi,
bukan itu inti ceritanya. Penjualnya merayu:"Nggak sekalian dua lusin,
Pak? Kami beri harga istimewa untuk lusin kedua dan kelipatannya, lho
Pak?" Aku tersenyum maniez (kali aja). "Nggak, terima kasih". (sambil
berkonklusi: jadi ibu-ibu di depanku tadi memanfaatkan "diskon" untuk
memperoleh donut lusin kedua dengan harga "hanya" 40 ribu. Maka aku
jadi tertarik dengan ibu-ibu di belakangku. Benar juga, setelah dirayu
dan bertanya : "sudah termasuk pajak?", serta dijawab "ya", si ibu
memutuskan membeli lusin kedua, meskipun terlihat bingung memilih
varian donat yg akan dibeli. Hipotesis yang kuajukan: ibu-ibu lebih
mudah terpengaruh bujukan, termasuk bujukan 'diskon', 'menghemat', dsb
meskipun mungkin dengan mengalahkan pertimbangan rasionalnya. (Aku
tahu, ini simpulan gegabah karena aku kenal ibu-ibu yg malah lebih
rasional daripada aku). Dalam konteks membeli donat tadi bukan alasan
rasional yg menyebabkan aku membeli satu lusin, melainkan: (1) istriku
pesan cuma satu lusin dengan pilihan varian yang disukai Ido, (2)
kalau beli terlalu banyak, khawatirnya Ido jadi hiperaktif. Jadi
bujukan tadi gagal karena dua alasan itu. Sayang juga sih, diskon
19-ribu dilewatkan. He ..he..he

Posted via email from catatan's posterous

Wednesday, December 09, 2009

Random Hearts

Aku baru saja selesai mengunduh film arahan Sidney Pollack buatan
tahun 1999 ini. Film ini pernah beberapa kali diputar di TV dan
karenanya aku pingin mendapatkan kembali CD atau DVD-nya untuk
menonton ulang. Setelah pusing mencari-cari, mulai dari tempat
penyewaan sampai lapak-lapak penjual CD ilegal dan tidak ketemu juga,
maka mulailah pencarian dengan bantuan Paman Google ditambah
mengubak-ubak situs-situs file sharing. Ketemulah akhirnya setelah
upaya penuh perjuangan seharian ditambah mengunduh semalaman.

Ceritanya tidak terlalu istimewa dan bisa digolongkan genre
drama-romantik. Selain kuat pengkarakteran tokohnya, film-film arahan
Pollack memang indah garapannya. Sepanjang tayangan film, gambar yang
terambil tampak begitu indah meskipun adegannya sederhana. Bagiku,
baju-baju yang dikenakan artisnya juga tampak sangat elegan. That’s
all for puja-puji mengenai asesorinya.

Saat ini aku ingin bercerita tentang isi cerita Random Hearts.
Kata-kata yang sederhana namun kuat dan bisa mewakili cerita ini
adalah yang diucapkan oleh van de Broecks (kalau tak salah tulis) pada
setengah penggal akhir cerita, ketika ia yakin bahwa isterinya telah
berselingkuh dan menyembunyikannya dengan rapi sampai kecelakaan
pesawat terbang merenggut nyawa isteri dan kekasihnya. Setengah
bergumam ia berkata, pada dirinya sendiri, : “We make loved that
morning”. Ya, pagi itu ia dan isterinya memang bercinta, dan
digambarkan dengan sangat baik. Pagi, diantara ketergesaan isterinya
menerima berbagai telepon dan ia sendiri yang bertugas menjadi sersan
polisi, adegan percintaan itu tergambar dengan sangat baik meskipun
sederhana layaknya gambaran percintaan suami-isteri. Sederhana,
maksudnya tidak ada perilaku menggebu-gebu seperti pasangan yang masih
penuh bara berahi. Cerita selanjutnya lebih menonjolkan liku-liku
cerita van de Broecks mengungkap affair istrinya dan kemudian
terjebak oleh pesona Kay Chandler, istri dari kekasih gelap istrinya.
Bingung? Jangan!

Kay Chandler adalah wanita cantik calon senator partai republik yang
sibuk. Suaminya seorang pengusaha(?). Kehidupan mereka tampak cukup
harmonis. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda ketidakcocokan, tidak
tergambar adanya pertengkaran. Rumah tangga yang biasa saja, tidak
tampak adanya riak-riak yang bisa menjadi benih bagi
ketidakharmonisan. Yang tergambar adalah orang-orang yang sibuk. Maka
Kay Chandler menganggap biasa saja ketika suaminya pamit ke New York
untuk urusan pekerjaan.

Sementara itu, di antara kesibukan sebagai polisi, Van de Broeck
digambarkan sebagai polisi yang sibuk di jalanan. Penggambarannya
sederhana tetapi mengena. Secukupnya, sehingga tidak merusak alur
cerita. Diantara kesibukannya, ketika mampir ke minimarket untuk
membeli beberapa kebutuhan harian, ia juga tidak mencermati berita
kecelakaan pesawat yang nantinya justru akan menjadi pokok cerita.
Seperti biasa, sesampai di rumah ia memutar rekaman-rekaman pesan di
teleponnya. Diantara pesan-pesan itu ada juga pesan istrinya yang
mengatakan sedang di bandara untuk pergi ke Miami. Biasa saja, seperti
pesan hari-hari sebelumnya. Mendengar kata istrinya menuju Miami, dan
secara samar-samar berita tentang kecelakaan pesawat yerbang yang
sedang menuju Miami, tiba-tiba ia tersadar. Mungkinkah istrinya ikut
dalam pesawat itu? Ia telepon maskapai penerbangan yang celaka itu dan
diyakinkan bahwa tidak ada nama istrinya dalam daftar manifes
penumpang. Van de Broeck marah, tetapi petugas maskapai penerbangan
keukeuh menyatakan bahwa tidak ada nama istrinya dalam daftar manifes
pesawat. Kepada petugas yang kemudian mendatanginya, ia
memperdengarkan rekaman pesan istrinya. Van de Broeck bicara pelan
tapi tegas:” Kau dengarkan? Istriku tidak pernah bohong!” Mendengar
keyakinan de Broeck, petuga yang ingin menyanggah menjadi tidak enak
hati untuk mengatakan, bahwa mungkin saja istrinya berbohong. Dengan
hormat dan sambil meminta maaf petugas tersebut tetap pada
pendiriannya dengan mengatakan bahwa tidak ada nama Mrs. Van de Broeck
dalam manifes pesawat, tetapi juga berjanji akan memberi kabar bila
ada perkembangan lain.

Sementara itu, hasil identifikasi jenasah mendapatkan bahwa salah
seorang korban tewas adalah suami Kay Chandler. Tentu Kay Chandler
menyangka petugas telah salah mengidentifikasi. Suaminya terbang ke
New York, bukan ke Miami. Tetapi petugas kukuh menyatakan bahwa hasil
identifikasi benar. Suami Kay Chandler positif ikut tewas dalam
musibah itu. Meskipun bingung, Kay Chandler datang juga ke rumah sakit
untuk mengidentifikasi jenazah yang diduga suaminya. Ternyata benar.
Sementara itu Van de Broeck juga mengidentifikasi jenasah wanita yang
dalam manifes dinyatakan sebagai Ny. Chandler. Keduanya duduk
bersebelahan, dan dalam tayangan kondisi pesawat yang tenggelam di
danau, keduanya diselamatkan terakhir kali. Keduanya duduk
bersebelahan.

Maka mulailah naluri polisi Van de Broeck menyelidiki apa yang
sebenarnya terjadi. Apakah Kay Chandler tahu ada hubungan apa antara
Ny. Broeck dengan suaminya? Sudah berapa lama Kay Chandler tahu? Maka
mulailah Broeck mencekati Kay Chandler untuk mencari tahu hubungan
istrinya dengan Chandler. Ternyata tidak mudah melakukan penyelidikan
melalui Chandler. Chandler ingin mengubur semua pertanyaan-pertanyaan
yang juga ada di benaknya. Baginya semua telah usai, dan ia tidak
ingin membuka lagi luka dengan mencari tahu adakah affair antara
suaminya dengan istri Broeck. Berkat usaha keras dan pantang menyerah
oleh Broeck akhirnya Kay Chandler pun mencoba menyelidiki ada apa
sebenarnya antara suaminya dengan Ny. Broeck. Apalagi gelang indah
yang disangka hadiah untuk ulang tahun putri mereka, dan tersimpan
dalam kopor yang diserahkan oleh petugas maskapai penerbangan ternyata
berisi inisial nama kekasih suaminya itu. Satu demi satu terbuka, dan
menorehkan luka di hati keduanya, baik Broeck maupun Kay Chandler.
Ternyata affair sepasang kekasih itu sudah terjadi lama sekali. Mereka
bahkan punya apartemen di Miami, masing-masing memegang kuncinya.
Maka, pada suatu ketika Broeck dan Kay Chandler ketemu di apartemen
yang disewa sepasang kekasih itu. Keduanya makin dekat satu sama lain
sebagai seorang yang senasib. Kedekatan mereka digambarkan dengan
indah. Mulai dari cumbuan yang menggebu-gebu antara marah bercampur
berahi yang terpendam, sampai adegan percintaan yang romantis di dalam
kabin kecil di tengah hutan ataupun adegan romantis yang samar lewat
ucapan dan kerlingan mata Kay Chandler dan Van de Broeck. Maka lupalah
kita bahwa keduanya adalah orang-orang yang merasa dikhianati. Mereka
kemudian menjadi sepasang kekasih yang saling mendukung dan berani
menunjukkan kedekatan di depan umum meskipun disadari itu bisa
menjatuhkan popularitas Chandler sebagai calon senator. Ketika sang
calon senator ditanya wartawan:”Apakah benar suami anda punya affair
dengan istri sersan Broeck?” Dengan tenang dan jelas Kay Chandler
menjawab:” Ya benar”. Ketika wartawan mencecarnya lagi: “Benarkah Anda
ada hubungan khusus dengan sersan Broeck?”. Dengan lancar Kay
Chandler menjawab: “ Ya benar, dia adalah tipe teman yang
sebenar-benarnya teman. Dia ada ketika saya mebutuhkan seorang teman”.
Dan filmpun berakhir, sementara penonton dibiarkan menebak sendiri
kelanjutannya dengan memegang satu fakta: keduanya terlihat saling
sayang dan saling membutuhkan. Kehebatan film ini terletak pada
penggarapan Sidney Pollack. Kalau anda pernah membaca novelnya, yang
ditulis oleh Warren Adler tahun 1984, jangan bingung dengan profesi
para tokohnya yang berbeda dengan filmnya. Juga anak Kay Chandler yang
dalam film digambarkan sebagai perempuan, dalam novelnya adalah anak
laki-laki. Selebihnya, alur ceritanya sama.

Posted via email from catatan's posterous

Friday, December 04, 2009

Rama, Sinta, dan Rahwana

Dalam cerita klasik Ramayana, hitam putihnya tokoh dibuat begitu
nyata. Jelas bahwa tokoh hitam adalah Rahwana, seorang raksasa rakus
yang yang memaksa menculik Sinta untuk diperistri. Dan, Rama adalah
seorang raja tampan bijaksana, kekasih para dewa. Sesungguhnya Rama
adalah juga titisan Dewa Wisnu, sang penguasa jagad.
Mengapa Rahwana menculik dan ingin memperistri Sinta, padahal dia
adalah raja sebuah kerajaan besar. Istri-istrinya adalh wanita-wanita
cantik dari seluruh negeri. Dia juga orang raja yang amat sakti.
Akan halnya Sinta, ia adalah putri raja yang diperistri Rama dari
sebuah lomba mengangkat busur panah pusaka, yang tak seorangpun
manusia mampu menggerakkannya. Bukan hanya mampu mengangkat, iapun
bahkan mematahkan Busur panah pusaka menjadi berkeping-keping. Sinta
adalah perempuan setia yang diculik oleh karena Rahwana percaya bahwa
siapapun yang bisa memperistri Sinta akan menjadi raja agung yang
sangat disegani. Setelah melihat sendiri pesona wanita bernama Sinta,
tekad Rahwana untuk menculik Sinta semakin besar. Ia benar-benar jatuh
cinta pada Sinta. Oleh karena berhadapan muka berperang dengan Rama
pasti ia akan kalah, maka dipakailah tipu daya. Singkat cerita,
Sintapun didapat, dan dikurungnya di dalam istana yang megah. Apapun
yang diinginkan Sinta, pati dikabulkan, asal ia tidak minta
dipulangkan pada Rama. Tidak ada satupun versi yang menceritakan bahwa
Rahwana memaksa, apalagi memperkosa Sinta. Meski berwujud raksasa,
sesungguhnya ia lembut hati. Kekuasaan dan ambisilah yang menjadikan
ia tampak jahat. Yang ia lakukan adalah membujuk Sinta, dengan segala
upaya, agar Sinta mau menjadi istrinya. Seorang dayang ditugaskan
untuk melayani semua kebutuhan Sinta.
Dan Sinta adalah wanita yang lembut hati. Rasa ibanya muncul sedikit
demi sedikit. Ia sadar, kalau Rahwana mau ia bisa memaksanya tanpa
Sinta bisa melawan. Begitulah, sebagai wanita ia juga mulai membuka
diri, terharu oleh kegigihan Rahwana dalam membujuk dan merayunya.
Tampaklah oleh Sinta bahwa Rahwana benar-benar mencintainya. Cara dan
waktunya saja yang salah. Sinta sangat menyadari posisinya sebagai
seorang istri. Kesetiaan ia junjung sangat tinggi hingga sampai detik
terakhir Rama membebaskannya, ia tetaplah istri yang setia. Dengan
bantuan tentara kera yang dipimpin Anoman, Rama dapat kembali merebut
Sinta. Tapi, Rama adalah juga manusia meskipun ia titisan dewa. Ia
meragukan kesucian dan kesetiaan Sinta. Bagaimanapun, Rama tahu bahwa
Rahwana adalah raja yang sangat piawai menaklukkan wanita. Ia khawatir
bahwa istrinya telah dinodai oleh Rahwana. Ia mau menerima Sinta
kembali asalkan Sinta bisa membuktikan dirinya masih suci, belum
dijamah Rahwana. Caranya, Sinta hars sanggup terjun ke dalam api suci.
Ia akan mati terbakar bila memang sudah tidak suci lagi, dan
sebaliknya bila ia masih suci, api tidak akan mampu membakar tubuhnya.
Meski dengan berurai air mata, Sinta dengan tabah menjalani perintah
suaminya. Oleh karena Sinta sesungguhnya tetap setia pada suaminya,
meskipun pesona Rahwana nyaris memikatnya. Dalam salah satu versi,
Sinta sempat menangis berupaya mencegah Rahwana berperang menghadapi
Rama, karena ia tahu bahwa Rahwana pasti akan mati karena tidak
mungk8n menang melawan Rama. Apa jawab Rahwana: "Adindaku Sinta,
terima kasih Adinda mengkhawatirkan aku. Aku bahagia dan akan membawa
rasa bahagiaku ini kepada dewa kematian yang sebentar lagi akan datang
kepadaku. Seluruh tentaraku telah habis dan kini akulah yang harus
menghadapi Rama, suamimu, titisan Dewa Wisnu". Hampir d iluar
kesadarannya sendiri, terbawa rasa haru dan kagum, pada raksasa yang
menculiknya namun tidak pernah berani menyentuh karena kekukuhan
hatinya itu, Sinta berkata: "Baginda raja bisa lari atau berbah wujud
jadi apapun, agar bisa menyelamatkan diri" Rahwana tersenyum kecut. "A
tidak mau hidup hanya untuk Melihat diriku menjadi manusia pengecut
dan egois. Seluruh balatentaraku gugur membela kepentinganku. Aku
tidak ingin mengkhianati mereka". Dan sambil mengucapkan terima kasih
atas perhatian Sinta, Rahwanapun menghadapi Rama, nenjemput
kematiannya sendiri. Itulah terakhir kalinya Sinta melihat Rahwana.
Dan kini, ia harus menerima kenyataan bahwa suami yang sangat ia
cintai, yang sanggup membuatnya menahan segala derita dalam
mempertahankan kesucian dan kesetiaannya, tega menyuruhnya terjun ke
dalam api yang bisa merenggut kematiannya. Sinta mampu melalui ujian
itu, dan keluar dari kobaran api tanpa luka sama sekali. Rama
tersenyum bahagia dan bersiap memeluk istrinya tanda Rama mau menerima
Sinta kembali. Tapi sayang, kobaran api suci memang tidak mampu
melukai kulit mulus Sinta. Hanya hatinya yang tersayat dan tercabik
oleh kecurigaan Rama. Maka, Sintapun menolak direngkuh ke dalam
pelukan Rama. "Kakanda, mohom maaf, cinta adinda telah musnah oleh
kobaran api suci yang membakar adinda tadi. Sinta yang kakanda cintai
telah mati. Yang ada di hadapan Kakanda ini adalah wanita yang jatuh
hina karena direndahkan oleh suaminya sendiri. Mohon pamit Kakanda.
Adinda mohon diri, semoga kelak kita bertemu di Suarga loka" Maka
semestapun menangisi suratan nasib sinta, mengutuk keegoisan Rama.
Mendung mengiringi langkah kaki Sinta sehingga terik sang Surya
terhalang jatuh ke tubuh ringkih Sinta, perempuan yang kukuh pada
kesetiaan dan harga diri yang ditanamnya dalam-dalam di hatinya ...

Posted via email from catatan's posterous

Thursday, December 03, 2009

Desember 3, 2009

Sampai di bandara belum jam 5 pagi. Jadi, spt biasa, pintu bandarapun bahkan belum dibuka. Di depan pintu serombongan anak muda dari PTS lumayan terkenal sudah antre mau check-in. Agaknya mereka rombongan muhibah seni ke  Malaysia, tepatnya ke Melaka. Itu terlihat dari sticker yg dipasang di koper2 mereka.

 

[Selintas, tiba2 ingat hujan rintik suatu siang 3 oktober 2009 di depan BTC. Pesan pendek barusan kukirim, telling that I should go to J. I spend 3 days 2 night at Dg Pkr, and because there is no chance to met for lunch or just cheat n chat, I decided to go back to J as early as possible. 30 minute was passing by, and still no response).

 

jam 05.00 barulah pintu masuk dibuka. Aku berderet dalam antrean bersama calon passanger lain. Nggak sampai lima menit aku dapat boarding pass dan tentu saja nomor tempat duduk. Aku minta dekat lorong, dapat nomor 23D. Nyaris bagian ekor.

 

(Jadi ingat penerbangan Papua-Jakarta, hampir setahun lalu. Di bangku paling belakang pesawat MD90 Lion, pemandangan di sebelah kiri adalah mesin jet)

 

Terlihat rombongan penumpang mulai masuk ke ruang tunggu dalam Aku ikut rombongan, antre masuk bersama penumpang yg didominasi rombongan muhibah seni tadi.

 

(45 minutes just passed by, and still no response)

 

Saat ini aku sdh di bangku 23d. Berita dari Ibr, hari ini DitProvPen ketemuan utk koordinasi di Millenium.

 

Nyaris setengah penerbangan aku terkantuk2. Tidak  enaknya pakai Garuda untuk penerbangan pendek adalah terpaksa bangun untuk menerima kotak snack dan tawaran minum. Memang, bisa saja aku tersin tidur, tapi suara penumpang sebelah saat ditawari minum atau menerima snack, cukup membuatku terbangun. Kadang, kalau tidak tidur, saat di pesawat spt sekarang aku gunakan untuk  melamun. Ya, karena lebih sering aku terbang sendiri.

'

Seingatku, selain dg Ido dan Mamanya, aku hanya 4 kali terbang bersebelahan dg teman yang kukenal, yaitu penerbangan CKG-PNK, GTO-CGK, CKG-Pap-CKG, dan Pap-CKG. Selebihnya, sendirian.

 

(Still no response, so I send another message, telling that I already have arrive at J. Well I guess, she wouldn't response too..)

 

Posted via email from catatan's posterous

Saturday, November 28, 2009

Gedung Sate

Peletakan batu pertama pembangunan komplek
Gedung Sate pada tanggal 27 Juli 1920

Gedung Sate dibangun pada tahun 1920-1924 di Wilhelmina Boulevard (Sekarang Jalan Diponegoro), peletakan batu pertama oleh Nona Johana Catherina Coops, puteri sulung Walikota Bandung B.Coops dan Nona Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia.

Batu-batu dari Ujung Berung diangkut dengan
menggunakan lori dan kereta gantung.

Gedung Sate merupakan karya monumental dari arsitek Ir Gerber. Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan langgam arsitektur tradisional Indonesia dan teknik konstruksi Barat, sehingga disebut Indo Eropeesche Architectuur StiiJln. Arsitektur Gedung Sate merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Italia dan Moor dari zaman Renaissance dengan gaya arsitektur Hindu dan Islam .

Ornamen enam tiang dengan bulatan berbentuk mirip tusuk sate ditempatkan pada puncak atap tumpak, sebagai lambang biaya pembangunan Gedung Sate sebesar Rp.6000.000 gulden.

Tempoe Doeloe gedung ini disebut Gouvernements Bedrijven (GB). Gedung ini kemudian disebut dengan Gedung Sate berdasarkan bentuk ornamen pada puncak atap tumpak tersebut yang terdiri dari 6 buah yang berbentuk seperti tusuk sate. Gedung Sate sekarang menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat.

by : Sudarsono katam /Lulus Abadi

Bandung tempo dulu. Entah kenapa mendengar kata Bandung terasa ada lonceng berdentang di dalam hatiku. Padahal, aku bukanlah orang Bandung, juga bukan orang yang besar atau menghabiskan waktu lama di Bandung. Hanya 3 bulan di tahun 1983, 2 bulan di tahun 1992, dan beberapa kali singgah di Bandung untuk rapat ataupun kegiatan lain terkait pekerjaanku. Rasanya memang ada sesuatu antara aku dan Bandung. Dejavu....

Posted via web from catatan's posterous

Tie the yellow ribbons ....

Lagu "Tie the yellow ribbon round the Old Oak tree" ini berdasarkan pada kisah nyata yang dimuat pada tahun 1971 surat kabar New York Post tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya.

Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, “Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku.

Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan?

Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan…kita mesti lihat apa yang akan terjadi…”

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras.

Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya…

Dia tidak melihat sehelai pita kuning…

Tidak ada sehelai pita kuning….

Tidak ada sehelai……

Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning….bergantungan di pohon beringin itu…Ooh…seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning…!!!!!!!!!!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree”, dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.

Syairnya:

I’m coming home
I’ve done my time And I have to know what is or isn’t mine
If you received my letter telling you I’d soon be free
Then you’d know just what to do
If you still want me
If you still want me
Oh tie a yellow ribbon
‘Round the old oak tree It’s been three long years
Do you still want me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
Bus driver please look for me ‘Cause I couldn’t bare to see what I might see
I’m really still in prison And my love she holds the key
A simple yellow ribbon’s all I need to set me free
I wrote and told her please
Oh tie a yellow ribbon ‘Round the old oak tree It’s been three long years
Do you still want me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
Now the whole damn bus is cheering And I can’t believe
I see A hundred yellow ribbons ‘Round the old, the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree…

Posted via email from catatan's posterous

Saturday, November 14, 2009

Pagi, 1 November sekitar jam 08.00 aku sudah mulai bergegas memanggil taksi menuju Bandara. Lagi-lagi ninggalin Ido dan Mamanya untuk pergi selama seminggu. Rencananya, tgl 1-3 di Kendari. Pulang tanggal 3 sore, malam hari sampai Jakarta, menginap 1 hari, soalnya harus nongol di Lantai 15 Rabu pagi (jadwal ini lancar adanya, akhirnya aku nginap di HMA). Rabu sore itu juga aku berangkat ke Lampung untuk moniev di Unila dari 4-6 November 2009.
Dua bulan terakhir ini kegiatan2 terkait BERMUTU mulai berjalan lagi. Selintas yang teringat adalah sbb:
  • Pertemuan di Sahid Jaya Solo, mereview dan mem-validasi modul untuk KKKS dan KKPS. Baru tahu kalau modul manajemen (itu istilah tim lama untuk modul KKKS dan KKPS) telah beruabh total dari modul yang dibuat dibawah koordinasi Bu MS dan Bu PP. Di bawah YP modul berubah total.
  • Sebelum itu ada pertemuan2 di PItagiri. Untuk pertama kalinya baru tahu kalau NCT bentukan tahun lalu masih ilegal karena tak ada SK. Saat itulah tim lama mulai bertemu dengan tin dari ProfPen dan Tendik (ada MW, DW, dan YP)
  • Dari Pitagiri pula tahu bahwa ada tagihan2 yang perlu dicermati. YP punya tim baru untuk mengembangkan modul KKKS dan KKPS.
  • Lalu ada pertemuan agak luas dengan tim pengembang modul KKG dan MGMP. Ada W di sana, dan mulailah diidentifikasi modul-modul suplemen yang diperlukan.
  • Rencana yang disepakati di Pitagiri, yakni pembentukan tim-tim dengan tugas mengembangkan masing-masing modul suplemen, pada akhirnya tidak ditindaklanjuti. Muncul rumor akan direkrut konsultan untuk menyelesaikan modul-modul suplemen itu
  • Bersama Ib dan Sal sempat terlibat workshop di Pramesthi, Puncak, untuk menyelesaikan modul-modul suplemen oleh P4TK Bahasa.
  • Pramesthi, Permata, dan Sahid Jaya, pindah-pindah dalam 5 hari bekerja.
  • Mengisi Workshop PCT (25-10-09) dan DCT (31-10-09) di The Sunan Hotel.
  • Sejak Oktober, kembali menjadi konsultan jangka pendek di Bindiklat, sampai Desember.

Friday, September 11, 2009

24-26 Ags, Shd Jy Sl
3-4 Sept, Permata Bgr
4-7 Sept, Pramesthi Puncak
9-11 Sept, Acacia Kramat Raya
11-13 Sept, Shd Sudirman
15 Sept, UGM
Ini tentang program skala nasional yang melibatkan aku di dalamnya. Ternyata sampai saat ini (Acacia, 9-11 Sept) masih banyak silang sengkarut dan ketidak jelasan, justru pada level top management. Lagi-lagi aku berfikir, kalau begini gambaran 'pusat', pantas saja dengan yang terjadi di 'lokal' tempat kerjaku. Tapi, the show must go on' toh. Apalagi salah seorang mantan mahasiswa PPs tempat aku pernah mengajar mengatakan bahwa keretanya sudah berjalan sampai ke distrik, dan seperti kata seorang pejabat di Sny, kereta tidak dapat lagi dihentikan. Yang ada hanya menyusulkan logistik, bukan merubah jalur apalagi menghentikan kereta. Aneh, berdasarkan apa yang kualami sejak Ptgr, Sahid Jaya, Acc jadi terasa aroma 'pergesekan' antar unit dalam satu lembaga besar. Ini seperti intrik antar fakultas dalam sebuah universitas, maksudnya antar dekan di bawah rektor.
Hal lain, hari ini aku hanya pindah tempat, dari Acc ke Shd Sudirman. Untuk program yang payungnya sama cuma segmennya berbeda. Ini komunitas tempat aku lebih duu terlibat, jadi anggap saja hiburan. Masih harus di J sampai Minggu sore. Mudah-mudahan ini kegiatan terakhir sebelum Idul Fitri.....

Tuesday, August 25, 2009

Tangal 24-26 ini ngendon di HSJ Solo. Urusan review BBM KKKS, MKKS, KKPS, MKPS. Kayaknya ada tugas juga untuk menyusun course development untuk ICT for Education. Pinginnya dolan ke luar hotel, tapi g ada waktu ......

Sunday, August 16, 2009

Tanggal 11 Februari 2009, setelah ditunda 10 hari dari waktu seharusnya, akhirnya jadi juga mengisi Widya Telewicara (Video Teleconference). Aku sendiri ada di Gedung Depdiknas Senayan. Kuliah umum itu diikuti oleh 23 LPTK peserta konsorsium PJJ S-1 PGSD se Indonesia. Makalah dan bahan presentasi ada di sini.

Tanggal 20 Juni 2009, mempresentasikan makalah pada Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Jl. Kaliurang km 14,5 Yogyakarta. Makalahnya aku upload di sini.

Tanggal 4 Agustus 2009, mempresentasikan makalah pada Conference on Information Technology and Electrical Engineering (CITEE) 2009 di Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Berikut ini link makalahnya.

Tanggal 13-14 Agustus 2009, menjadi narasumber kegiatan Workshop Evaluasi Penyelenggaraan ICT-based Learning bagi SMA/SMK yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Jl. Prof. Dr. Hamka No. 15 Semarang. Berikut ini link makalah dan slide presentasinya.

Tanggal 19 Agustus 2009, menjadi narasumber untuk kegiatan Workshop Pengembangan E-Learning Program Pengembangan Guru MIPA Bertaraf Internasional Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta. Makalah dan slide presentasinya bisa diunduh di sini.

Wednesday, July 01, 2009

Ke UM untuk monev dari 28 Jun sampai 1 Jul. Berangkat 09.40 dari SRG menuju SUB dengan SJ (karena SJ adalah satu2nya flight dari SRG ke SUB). Dari SUB ke MLG pake taksi (336ths IDR), melewati jalanan macet di sepanjang tepian tanggul lumpur dan jalanan padat Sidoarjo. Jam 13 sdh check in dan tidur di Regent's Park. Malam hari makan malam di Prambanan, bertiga saja karena L tidak mau ikut. Paginya memulai monev dengan permisi ke PR1, wawancara dengan Dekanat, pengelola, dosen, dan mahasiswa (oleh L). Hari berikutnya ke SD Sawojajar I ketemu mhs PPL, Kepsek, dan guru pamong kemudian ke SD Tanjungsari II.
Sorenya sudah sendirian lagi di hotel, sampai pagi ini. Rencana ke SUB pakai trv Karina jam 12.00 dan ke SRG dengan SJ jam 18.30.
Di UPI dari 23-24 Juni 2009. Berangkat dari JOG dengan JT-... menuju CKG sejak jam 06.40. Sempat ketemu dan ngobrol dengan teman semasa S2, Marsekal AU dia sekarang. Sampai di CKG langsung ganti Trv CPG ke BTC. Sempat makan tahu bakso dan kemudian ke Sindang Reret. Sore itu langsung masuk ke IsResort. Dijemput tim UPI (Ah, Joh, Wul, Tt) makan malam di SrSnd. Paginya ketemu D dan staf dulu, wawancara dengan pengelola PJJ dan dosen, sementara AR wawancara dengan mhs. Siangnya ketemu PR1 (ChA). Makan siang di (lupa) lalu meneruskan wawancara di ruang pertemuan FIP.
Hari kedua ketemu dengan Kepsek dan melihat ICT Center di SMK4. Sempat makan siang di D'cost. Masih sempat nge-mie di Naripan. Sejak sore itu free. Sempat ke BTC, mie kocok, W, dan Drag me to the Hell. Pulangnya beli brownies. Pulang ke JOG dengan Lodaya pagi jam 08.00 dari Kebonkawung. Sampai di JOG sudah jam 17.00. Esok harinya (Jumat) ngajak Ido ke Amplaz, dan malamnya balik ke SRG, karena Minggu harus ke SUB untuk monev di UM.

Monday, June 15, 2009

Tiba di GTO nyaris malam, 10 juni 2009. Jam 06.35 dg SJ brkt dari SRG menuju CKG. Jam 07.35, setelah nyaris beku 50 menitan di kabin SJ, sampai juga di CKG. Masih harus menunggu sampai 11.35 untuk terbang dg SJ juga ke GTO. Transit 20 menit di UPG, 1 jam penerbangan dari CKG. Penerbangan dilanjutkan ke GTO, kira2 2 jam. Sampai di bandara Djalaludin sudah dijemput teman2 UNG. Kami (hrw, hbs, asj) sebenarnya satu fligth dg hfd dari UPI. Belakangan aku tahu mereka memberi kuliah pd mhs 'eksekutif' dari UNG dan pejabat2 di GTO (s2 dan s3). Esok harinya ktm jajaran pimpinan ung dan fip-ung untuk wawancara monev. Sorenya sempat ke SMK Wirabakti yang jadi salah satu ICT Center untuk mhs PJJ-S1 PGSD UNG. Smk ini dimiliki oleh yayasan dibawah Ny. Uga Wiranto yg asli GTO. Dari ICT Center, sempat ke kantor Gubernur GTO yg ada di puncak bukit.
Hari berikutnya (120609) ke Kab. Boalemo, mengunjungi SDN 1 Tilamuta, SDN 12 Tilamuta, dan ICT Center yg ada di Dinas Pendidikan Kab Boalemo. Pulang ke hotel (Megazanur, Jl. A Yani GTO) sdh menjelang petang, karena sempat mampir ke rmh ibu GA yg ayahnya meninggal hari itu. Aku sempat pula, setelah para pengantar pulang, ke Pasar Tua, membeli dua kain krawang. Aku tulis ini di terminal 3 bandara soetta menunggu waktu check-in mandala ke SRG yg rencananya takeoff jam 14.00. (Karena kesulitan mem-post-kannya ke blogspot, aku pindahin melalui IR ke laptop dan kupublish ke blogspot hari Senin, di ruang dosen).

Friday, April 24, 2009

Bulan yang sibuk:

Pangrango 2, Bogor PJJ PGSD (12-14 April 09)
PGSD Workshop (16-17 April 2009)
Inna Garuda Yogyakarta PJJ PGSD (18-20 April 09)
Inna Grand Bali Beach BERMUTU (21-22 April)
Universitas Negeri Malang ICT PHK-I, Edohotel Jl. Surabaya No. 1, Enny Guest House Jl. Taman Wilis(23-24 April 09)


Juga kedukaan: setelah beberapa kali ke RSPC sejak jatuh di kamar mandi, Eyang Kung Cilacap meninggal dunia 13 April 2009. Hari berikutnya baru aku bisa ke Cilacap dengan menempuh rute Bogor-Jakarta-Jogyakarta-Cilacap.

Sunday, February 01, 2009

Daftar Hotel:
Banana Inn (Bandung
Aston Marina Apartment (Jakarta)
Provence (Bandung)
Twin Plaza Hotel (Jakarta)
Bintang Griya Wisata (Jakarta)
Ciputra (Jakarta)
Hotel Mega Anggrek (Jakarta)
Spark (Mangga Besar, Jakarta)
Menara Peninsula Hotel (Jakarta)
Millenium Sirih (Jakarta)
Hotel Bidakara (Jakarta)
Hotel Sultan (Jakarta)
Hotel Century Atlet (Jakarta)
Sempur Park Hotel (Bogor)
Pangrango I (Bogor)
Pangrango II (Bogor)
Inna Garuda Hotel (Jogjakarta)
Hotel Saphir (Jogjakarta)
Hotel Nidya (Pierre Tendean, Jogjakarta)
Hotel Inna Veteran (Denpasar, Bali)
Hotel Palm (Banjarmasin)
Hotel Peony (Pontianak)
Hotel Orchadz (Pontianak)
Hotel Pusako (Bukittinggi)
Grand Kartika (Pontianak)
Inna Dharma Deli (Medan)
Apartemen Sejahtera? (Ciumbelueit, Bandung)
Hotel Clarion (Makassar)

Kota:
Medan
Padang
Jakarta
Bandung
Bogor
Pontianak
Banjarmasin
Makassar
Denpasar
Jayapura
Bogor

Tuesday, January 20, 2009

20 Januari 2009
Semingguan kemarin (12-17 Januari 2009) aku dan tim bu PP ngadain pelatihan ICT plus penelitian pada wanita nelayan Gunungkidul. Peserta pelatihan sekaligus subyek penelitian adalah wanita nelayan pantai Baron. Dimulai dengan TOT untuk guru (kebetulan aku masih punya akses ke guru-guru GK yang pernah aku latih ICT di Unnes) dan memilih 4 dari 20 untuk membantu mendampingi pelatihan ke ibu-ibu nelayan. Asyik sih, nggak nyangka lebih mudah ngajarin ibu-ibu nelayan daripada pengalaman mengajari mahasiswa S2 sembilan tahun yang lalu.
Jadi, seminggu itu aku dua kali ikut ke pantai Baron, sekedar melihat pantai dan makan kepiting asam manis.
Minggu (18 Januari) baru aku balik Semarang setelah semalam menginap di Jakal.
Senin memulai rutinitas baru di Semarang dan Yogya bolah-balik.

Tuesday, January 13, 2009

Kamis, 8 Januari, pagi-pagi, kami bertiga bertaxi menuju Cilacap. Eyang Kung nya Ido jatuh dan diopname di rumah sakit. Sebenarnya sih hari ini mau menjemput Eyang Kudus untuk dibawa ke Magelang menengok Om EDR yang lagi sakit. Tapi, itulah. Ada yang lebih perlu di dahulukan. Di Cilacap sampai Sabtu pagi, langsung ke YK bareng mbak T karena harus gabung dengan teman-teman UT untuk memulai penelitian di GK. Seharusnya Minggu kami sudah kumpul, tetapi karena praktis tak ada hal penting maka aku ijin untuk gabung hari Senin saja. Langsung balik ke Jakal setelah beberapa saat di hotel Nidya untuk ketemu tim.
Senin, 12 Januari, bertiga kami ke dusun Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul untuk mendatangi kantor Kepdes dan melihat kondisi pantai Baron, Drini, Krakal, dll.
Saat ini, 13 Januari, berempat (PP, HRW, BAS, TUT) kami ada di SMKN 2 Wonosari untuk melakukan TOT kepada 20 orang guru (yang datang hanya 18). Selanjutnya dari 18 itu akan diambil 4 orang untuk mendampingi tim melatih ibi-ibu nelayan.
Hari ini juga ada kabar acara tanggal 15 di Jakarta batal. Jadi tangal 15 aku nggak jadi ke Jakarta!!!

Sunday, December 21, 2008

Papua, 16-18 Desember 2008

Selepas Padang, aku ngantor sehari di Senayan. (HMA-MTA-MD-TPH-Grg tak perlu aku ceritakan di sini). Berikutnya penugasan ke Papua, untuk pekerjaan yang sama dengan di Padang. Ok, aku berangkat dari SRG jam 17.00 untuk ganti pesawat di CKG dan menuju DJJ jam 21.15 nanti. Ini adalah perjalanan panjang selama bertugas di Bindiklat maupun PJJ. Rute CKG-UPG-Biak-DJJ ditempuh nyaris 8 jam. Kami sampai bandara Sentani ketika jam sudah menunjukkan 07.30 WITA. Berempat dengan sopir, kami menuju LPMP Jayapura, tempat pertemuan diselenggarakan. Bertiga kami menempati salah satu rumah dinas. Mandi, berganti baju, kemudian menemui Ka LPMP, dan dilanjutkan dengan presentasi sampai jam 15.00. Acara ditutup 16.00, lalu kami istirahat sebentar, karena berencana keliling kota malam ini.
Sama seperti kota-kota lain, Jayapura juga kenal macet dan lalu lintas cukup padat sepanjang jalan Skyline, Angkasa, terus berhenti di Dok Dua, sekitar Swiss Belhotel. Sempat melihat-lihat batik tapi tak berminat membeli barang sepotongpun (ada artis psikolog TB yang juga pas sedang cari batik di sana). Makan malam di Dok Dua, berkeliling naik ke Lembah Sunyi, lantas pulang ke LPMP. Hm .. malam yang mengesankan malah kurasakan di sepi malam, di rumah dinas LPMP. Jadi .... ini benar Jayapura!
Padang, 9-10 Desember 2008

Tugas. Hanya itu yang terlintas. Sebenarnya malam itu, Kamis 4 Desember harusnya aku sudah menuju ke sana langsung dari Bandara CGK. Saat itu sedang menunggu boarding ketika telepon dari Pp mengharapkan aku tak usah balik Semarang tetapi langsung saja ke Padang. Aku, tentu saja, keberatan. Beres. Nggak nyangka kalau kemudian ketika pesawat landing dan ponsel aku buka, tawaran datang lagi. Pilih satu hari antara 9 - 11 Desember. Setelah itu datang telepon silih berganti: MA, rumah, Pp. Ok, aku setuju pilih tanggal 9. Maka tanggal 9 itu aku berangkat ke Padang. dari SRG aku berangkat pagi. Setelah menunggu transit di CGK aku pindah penerbangan ke Padang. Tengah hari aku sampai. Dijemput orang LPMP, kami menuju kantor LPMP yang terletak di dalam kampus UNP. Berbasa-basi sebentar, kami kemudian meluncur ke hotel Pusako di Bukittinggi, 3 jam perjalanan dari Padang.
Di sana, aku sendirian presentasi malam sampai jam 22.00 lalu dilanjutkan pagi sampai jam 09.00 karena siang itu juga, dengan BTV aku harus ke Jakarta. Ada yang menunggu sehingga aku bergegas. Esok hari aku harus ngantor lagi di Senayan.
Alih-alih ke HMA, aku pesan tempat di TPH, suite 506. (Lintasan HMA-MTA-MD-TPH adalah bagian penting dari perjalanan Padang ini).
Pagi kembali ngantor ke Senayan. Tugas berikutnya adalah ke Papua, bertiga dengan N dan EW, 16 - 18 Desember 2008.

Monday, December 08, 2008

Tanggal 1-3 Desember 2008 kemarin dulu adalah saat finish etape pertama kegiatan maraton penyusunan panduan belajar yang akan mulai digunakan untuk program BERKUALITAS (sorry, berhubung posisiku tidak memungkinkan penyebutan nama program kecuali diijinkan oleh Direktur) tahun 2009. Menurut beberapa teman, kegiatan finalisasi ini aneh karena bahan yang sama telah di-TOT-kan di level nasional dan bahkan tim provinsi sudah ada yang memulai kegiatan TOT level berikutnya pada tangal 1-3 ini.
Bagaimanapun kudu-harus mau nggak mau diterima. Nggak puas sih, karena hampir semua anggota tim pengembang level nasional merasa masih banyak yang bisa dibenahi sebelum panduan dicetak skala besar.
Sementara itu, aktivitas sebagai konsultan juga mendekati minggu-minggu terakhir. Canda dan humor kawan-kawan sesama konsultan (dan juga dengan staf administrasi) rasanya masih akan terkenang lama.
Tanggal 4 aku masih menyempatkan diri ke kantor di S dan berencana cabut ke SRG sore itu juga. EW juga punya rencana yang sama. Ia harus segera ke Bdg, katanya ada yang harus diselesaikan di kantor. Tiket untuk terbang jam 17.15 sudah di tangan.
Mengenai tiket ini, ada lucunya juga. Entah gimana, aku begitu yakin bahwa tiket (tepatnya kode booking!) yang aku pegang adalah kode booking Garuda. maka dengan penuh keyakinan aku tunjukan kode booking, GFF, dan KTP untuk cetak tiket di counter yang mbak-nya cantik-cantik itu. Sudah ada rasa nggak enak ketika si-mbak bilang bahwa kode tiketnya kok salah. Aku yakin bilang: "coba di search lewat nama saja mbak! Mbaknya nurut. Tapi rupanya nggak ketemu juga. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku ngomong saja ke mbaknya:" Biar aku tanya yang ngurus tiket dulu mbak". Dan GFF + KTP + kertas berisi kode booking itu aku bawa lagi. Nelpon Dwi, yang juga bingung, tapi kemudian menjawab: Iya, ketika kutanya: "Apa tiketku Mandala?".
Maka aku panggillah taksi menuju terminalnya Mandala.
Benar, tiket bisa kucetak di counter Mandala.
Setelah check-in, masuk ke ruang tunggu, nah-kan ketahuan. Penerbangan di-delay. Ini delay yang kayaknya menjadi rutin. Tapi biarlah. Telpon dan SMS-an, lantas duduk manis. Sempat ngobrol dengan teman dari Unnes yang ketemu di ruang tunggu (pak E, dari FIS, dan dua ibu yang namanya aku belum ingat).
Pas pesawat hampir boarding, datang telepon. "Pak bisa nggak kalau langsung ke Padang, nggak usah ke Semarang. Kalau bisa langsung saja beli tiket untuk penerbangan ke Padang malam ini". Wah, gimana? Ya nggak-lah. Lagi, mau disuruh presentasi apa juga masih gelap. Maka dengan meminta maaf, permintaan itu aku tolak.
Aku boarding, pesawat take-off, dan sejam kemudian aku sudah di atas taxi menuju selatan kota semarang. Di bangku belakang taxi mulai aku aktifkan ponsel-ku satu persatu. Rupanya, ada sms yang terkirim beberapa saat setelah pesawat take off. Isinya menanyakan kemungkinan berangkat ke Padang tanggal 9 - 11. Setelah telepon rumah bolak-balik (dan rumah juga bilang telah dihubungi pak MAK, aku telepon balik pengirim SMS. Tanya acara sekaligus jadwal. Ok, clear. Selasa pagi sampai Rabu pagi di Padang (Bukittinggi, tepatnya), Rabu siang balik Jakarta sampai Jum'at. Itu adalah hari teakhir menjadi konsultan. Tahun depan? Wallahualam. Disertasi sudah harus diselesaikan.

Tuesday, October 28, 2008

27-28 Oktober
Dikurung di Wisma Lansia Langen Wredha, Lerep Ungaran (ternyata, katanya, di sini tinggal juga NH Dini, penulis wanita era 66-an yang masih aktif sampai sekarang)
Restorant Hotel Grand Kartika
(grand_kartika@yahoo.com)
Jl. Rahadi Oesman No.2
Pontianak Kalimantan Barat

Tepi Sungai Kapuas 25 Oktober 2008
kamarnya sih sangat biasa, cenderung tua dan kurang nyaman. Bahkan, anak kecoa kecil berlarian di lantai kamar mandi. Tetapi, letaknya yang persis di tepian sungai Kapuas benar-benar menawarkan suasana yang berbeda, lebih romantis daripada hotel Orchadz yang ada di Jalan Gadjahmada.
Tiba di hotel dari Bandara Supadio, dalam rintik hujan bulan Oktober, jam sudah menunjukkan pukul 20.15 WIB. Air hujan yang terus jatuh menambah genangan di sana-sini. Juga di atas jajaran conblok di lahan parkit hotel.
Beberapa men Meski gelap malam, dan lampu-lampu bandara hany abersinar temaram, genangan air cukup jelas terlihat lewat pantulan lampu mobil yang berjalan pelan membelah malam, mencari rumah makan.
Perut sudah kosong.
Bakso Malang 'Oasis' di Bandara Soeta tidak bertahan lama menangsal isi perut. Aku tidak tahu kemana kami akan menuju, lantaran pak HK yang menjemput dan mengantarku hanya bertanya:"Pak Hari mau seafood atau apa?". Aku jawab "Seafood juga oke, asal bukan kepiting porsi besar!". Kepiting saus lada hitam versi porsi besar itu aku temui ketika makan di Pantai Kakap Indah bulan Juni lalu.
Di sebuah bangunan besar dan gelap kami berputar dan berhenti di sudutnya. Lampunya cukup terang, kontras dengan kegelapan bangunan besar di sebelahnya, yang aku tahu adalah sebuah Museum. Nama rumah makannya 'Handayani'. Jawa banget!. Menunya standar, ikan dan ayam dengan berbagai variasi cara pengolahan.
Pilihan konvensional aku, karena adanya juga itu-itu saja, cumi saus padang dan taoge polos (sebetulnya cah taoge). Lalu pak HK menambah menu: ikan kakap merah bakar.
Di tengah makan, datang pak RF, dosen FKIP Untanpura yang juga Direktur STKIP Melawi (650 km dari Pontianak. Lalu kamipun terlibat dalam perbincangan hangat sekitar kebijakan pemerintah dalam meng-S1-kan sekitar 1,4 juta guru yang harus selesai sebelum 2015.
Selesai makan, aku dan pak HK mampir di Jalan Gadjahmada, menikmati beberapa buah durian.
Dan di sinilah akau sekarang. Resto Hotel Grand Kartika, di dekat kapal besar yang sedang bersandar (nama kapalnya: Balam!, melayu banget! Tanya orang Jakarta, berapa banyak yang tahu arti kata balam.)
dari percakapan dengan rombongan Depdagri yang sedang mengedakan pelatihan di PNK ini, tepi sungai sebelah hotel ini adalah juga pelabuhan kapal, yang antara lain menuju ke Jawa. Amboi !!

Saturday, October 25, 2008

Lagi:
9 - 11 Oktober finalisasi Panduan Belajar BERMUTU di Wisma Handayani Cipete Jaksel. Di akhir program ada bisik-bisik undangan ke Lt 15 (PMPTK Senayan) untuk rekruitmen konsultan BERMUTU. Jadi, sore 11 okt pulang, di rumah sampai 13 pagi, jam 06.10 balik ke jakarta lagi.
13 Oktober, pengarahan dan rapat tentang konsultan modul BERMUTU bersama 25 orang lainnya. Aku kebagian peran jadi konsultan ICT. Harus segera minta ijin rektor (#@$%^^&??!!).
22 - 24 Oktober, hadir sebagai konsultan sekaligus mengikuti validasi modul BERMUTU di Wisma Handayani. Pagi 22 mampir dulu ke PMPTK, pengarahan oleh koordinator, siangnya cabut ke Wisma Handayani mengikuti acara validasi modul. Jum'at 24 menjelang siang balik ke Senayan, mulai kerja. Jam 15-an ke Bandara untuk langsung ke Pontianak.
24 malam sampai 25 pagi di Pontianak. Rencana setelah Subuh, 16 Oktober, mau ke Singkawang. Acara: Monev PJJ PGSD.

Thursday, September 25, 2008

Century Atlet, 25 September 2008

Ini catatan-catatan kegiatan. Singkat karena aku tidak punya banyak waktu untuk nulis.

8 - 11 September, kami (tim naional pengembang panduan BERMUTU) ketemu lagi untuk menyelesaikan WS. Kali ini di P4TK Bahasa di Srengseng Sawah.

12 - 13 September, sebagai bagian dari tim PJJ PGSD kami ketemu di Menara Peninsula untuk menyelesaikan Laporan Monitoring dan Evaluasi. Aku sendiri (dan LK) kebagian tugas di Pontianak beberapa bulan yl.

13 - 15 September, dari Menara Peninsula cuma pindah ke Millenium Sirih untuk menyusun panduan-panduan. Aku dan SH kebagian panduan penyusunan bahan ajar berbasis web.

22 - 25 September, menyelesaikan lagi kerjaan BERMUTU. Janjinya akan ada ketemuan lagi besok tanggal 8 10 Oktober. Di hotel Century Atlet ini malam-malam ketemu rombongan Unnes: AW, FR, HS, SPR, dan dua orang lagi yang belum aku kenal.

Wednesday, September 10, 2008

Di mana saja aku pernah tinggal?

1965-1980
Tinggal di rumah kelahiran, desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Sesungguhnya ini rumah Nenek (Suharmini, 1912-1992?). Bapak dan Ibu (Kadarroesman dan Sabarwati) hanya nebeng sampai ketiga (sesungguhnya 5, meninggal ketika masih kecil 1, dan meninggal di kandungan 1, keduanya laki-laki) anaknya lahir dan besar. Setidaknya sampai aku bisa mengingat, di rumah Mejobo itu ada tinggal: Buyut (meninggal 1972), Nenek (meninggal 1992), Bapak (meninggal 1975), Ibu, Mbak Pur (meninggal bulan Puasa 2007), Aku, Priyo, Osman.
Aku sekolah di SD Mejobo I, tahun 1971 padahal sebenarnya ada sekolah yang lebih dekat yakni SD Mejobo II yang hanya mengasih murid sampai kelas III (setelah itu harus ke SD Mejobo I juga). Bayangkan, anak SD sekolah jaan kaki sampai kira-kira 1 km. Hanya setengah tahun pertama saja aku diantar membonceng sepeda, selebihnya jalan kaki. Awal sekolah juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Sempat dipukuli pakai sapu lidi karena menolak masuk ruang kelas semasa SD. Siapa sangka akhirnya malah aku lulus dengan nilai terbaik.
Bulan Januari tahun 1977 mulai sekolah di SMP 2 Kudus. Mencari (tepatnya: membeli) formulir pendaftaran saat itu bukan persoalan mudah. Sepupuku bahkan harus antre 3 hari, itupun mulai dari sebelum subuh, baru dapat formulir. Ada tes masuk waktu itu. Untuk menambah percaya diri, sore sebelum tes Ibu bahkan pergi ke 'orang tua' yang membekaliku dengan sebongkah kemenyan untuk digigit dan disemburkan di ruangan tes setelah tes berlangsung. (Antara percaya dan tidak, aku patuh melakukannya. Apakah aku diterima karena itu? Wallahualam!). Menjelang kelas 3 SMP sekolah diperpanjang setengah tahun, agar tahun ajaran baru dimulai pada bulan Juli. Alasannya, kalau tak salah, agar sama dengan tahun ajaran baru di berbagai tempat di LN. Apa benar begitu, aku belum sempat mengkonfirmasikannya sampai saat ini.

Juli 1980 - Juni 1984
Ini saat aku sekolah di STM Pembangunan Semarang. Sempat dianggap nggak mungkin bisa diterima karena aku cuma anak kampung, tetapi akhirnya bisa diterima juga. Tinggal di rumah Budhe, yang saat itu rumahnya juga menjadi hunian mahasiswa kost dari Kedokteran Undip. Ini tahun-tahun pemandirian. Tinggal di kota besar, mengerjakan segala sesuatu sendiri, banyak asam-garam kehidupan aku alami di sini. Hampir tiap sabtu pulang, dan nyaris selalu dijemput mbak Pur di terminal Kudus. Saat itu terminal ada di lokasi tugu Menara sekarang. Hanya kalau mbak Pur tidak bisa jemput, aku pulang naik becak. Waktu itu, becak dari terminal sampai rumah hanya Rp. 5000.
Masa yang menyenangkan, penuh semangat, sesak oleh cita-cita dan ambisi. Di masa sekolah ini aku sempat pula tinggal 3 bulan di Bandung, di Cisitu, selama Praktek Industri di LEN Jl. Sukarno Hatta. Tinggal sau indekosan dengan sepupu, SS.

Juli 1984 - Februari 1990
Masa sekolah di IKIP Negeri Yogyakarta. Bekalnya: Tunjangan Ikatan Dinas. Nggak pernah bercita-cita jadi guru, malah mendaftar ke SPG yang pernah aku lakukan dulu, bahkan sengaja tidak aku ikuti tes-nya. (Andai aku guru SD, mungkin malah sudah jadi KS atau guru bersertifikat ya?). Pengalaman mandiri di Semarang menjadi semakin tertempa di kota pelajar ini. Masjid, sesuatu yang 'jauh' dari kehidupanku di Kudus maupun Semarang, mulai kudekati. Selama episode Yogya ini aku tinggal hanya di satu tempat indekos Krml A20. Arah hidup makin terbentuk, meskipun karena tidak diterima menjadi dosen, aku sempat ngabur ke Jakarta, menjadi penulis ensiklopedi. Ini episode menyenangkan dalam hidup karena mengerjakan sesuatu yang kusukai. Minusnya: diperintah oleh orang lain, yang memang pemilik perusahaan.

Februari 1990-Februari 1991
Episode Jakarta, Cipta Adi Pustaka, dan Erlangga. Bekerja sebagai editor dan kontributor di PT Cipta Adi Pustaka, yang a.l. menerbitkan Ensiklopedi Nasional Indonesia. Masa yang singkat itu aku mengenal Alm. Hadyana Pudjaatmaka, yang kemudian menjadi 'mentor' yang tak pernah melarangku untuk berselingkuh dengan Erlangga saat seharusnya mengerjakan tenggat penulisan di CAP. Beliau tahu, aku diupah terlalu kecil, jadi membiarkan, bahkan menganjurkan untuk berselingkuh saja. Rentang satu tahun ini aku tinggal di keluarga sepupu, di Rawamangun.

(will be continued)

Wednesday, August 27, 2008

27 Agustus 2008
Alhamdulillah, Ido akhirnya jadi dikhitan. Semua bermula ketika hari Sabtu, 23 Agustus 2008. Aku dan Mamanya Ido berkonsultasi dengan dr. Nindyawan mengenai kemungkinan Ido di-sirkumsisi (aku pakai istilah itu agar Ido tidak tahu bahwa konsultasi ini adalah untuk rencana khitannya) beserta cara dan resikonya. Kepada Ido, Mama selalu mengatakan Ido tidak disunat, hanya 'dibersihkan burungnya'. Ketika dokter melakukan pemeriksaan awal, Ido-pun tidak ragu-ragu membuka 'burungnya'. Kami kaget juga ketika dokter mengatakan: "Senin saja tindakannya ya Pak, Bu. Sebaiknya datang siang sekitar jam 13 supaya tidak kena charge dua hari. Sorenya baru dilakukan tindakan"!. Tanpa berpikir panjang, kami mengiyakan. (Berapa biayanya ya?)
Maka hari Minggu, 24 Agustus, aku pesan kamar untuk Ido. Dapat di Angela no 76. Dulunya itu kamar VIP tapi karena fasilitas teleponnya tak ada maka untuk sementara dijadikan kamar kelas 1.
Hari Senin tanggal 25 Agustus, kami bertiga berangkat ke RS Elisabeth, persis sepertinya ketika dulu membawa Mama Ido mau operasi (3 kali operasi besar!). Jam 12 lebih kami telah sampai ke Elisabeth, dan setelah mengurus administrasi (tanpa diharuskan menitip uang dulu!) kami bertiga menuju kamar Angela no. 76. Setelah basa-basi singkat, perawat mengatakan bahwa tindakan akan dilakukan jam 18.00.
Lucunya, tepat jam 18.00, Ido yang gelisah menunggu dokter. Dikatakan kepadanya bahwa 'pembersihan' akan dilakukan di ruangan lain. Ido sempat ke ruang perawat dan menanyakan kapan akan 'dibersihkan' burungnya, tentu dengan Papa sebagai penerjemah kata-katanya. Maka jam 18.20-an, ketika perawat akhirnya datang dengan kursi roda, Ido dengan sigap mengganti bajunya dengan baju putih dari perawat dan duduk di kursi roda. Tentu saja kami terharu melihat dia sama sekali tidak takut (saat itu sudah datang teman-temannya Mama Ido, bu dan pak Warsono dan mbak Atik). Ramai-ramai kami mengantar Ido ke ruang operasi.
Satu-satunya protes Ido adalah ketika mau dibius. Mulut dan hidungnya dipasang masker. Untunglah, protesnya tidak lama, setalah Mamanya membujuk jadilah Ido mau mengenakan masker dan ....... tidur!. Ok, kami keluar dan menunggu. Kira-kira 30 menit operasi selesai. Ido masih tidur di atas bed operasi, tak berdaya. Tak sampai 5 menit, Ido terbangun dan mulai memeriksa 'burungnya'. Protes mau segera kembali ke kamar. Konyolnya, nunggu susternya sampai 10-menitan sebelum akhirnya benar-benar diantar ke kamar dengan kursi roda.
Membayangkan Ido bakal kesakitan sekitar tengah malam membuat kami susah tidur. Anehnya, sampai pagi tidak ada tanda-tanda Ido kesakitan. Bahkan bangun sendiri untuk pipis. Hanya saja, jam 04.30 Ido muntah dan lemas. Paginya, sebelum sarapan, Ido diberi obat oral, katanya untuk pelapis lambung. Sampai dokter datang dan kami konsultasi, Ido belum makan pagi. Nasihat dokter, lebih baik kalau disuntik agar tidak muntah. Untuk mengatakan suntik inipun dokter harus mengajak aku keluar supaya Ido tidak dengar. Pada akhirnya sih Ido nurut disuntik, dan malahan tidak tampak tanda-tanda ia kesakitan. Hanya ketika perawat menekan bekas luka suntik agar perdarahan berhenti, Ido terjingkat: "Sakit"! katanya. Bereslah, setengah jam lagi Ido boleh makan pagi.
Benar juga, sampai siang (jam 11-an) Ido tidak muntah. Lalu kami merencanakan siang itu juga pulang, setelah membereskan urusan administrasi.
Akhirnya kami meninggalkan rumah sakit jam 16-an. Dibekali obat penghilang nyeri dan anti biotika serta salep untuk luka. Sebenarnya, bagi kebanyakan anak, khitan adalah hal biasa. Bagi Ido, sebenarnya bagi kami orangtuanya, khitan adalah peristiwa sangat penting karena beberapa hal. Pertama, karena harus bius total (istilah dokter: general anaesthesi) aku takut dengan proses reanimasinya (menyadarkan kembali dari pengaruh bius). Bius total dilakukan mengingat postur Ido yang tinggi besar (165 cm/69 kg) dan autis. Sulit diduga reaksinya bila ia ketakutan, karena bisa saja ia tidak malu-malu menendang atau lari dari meja operasi. Kedua, Ido mengidap asthma, meskipun jarang sesak napas karena lebih sering muncul seperti gatal-gatal di kulit.
Dalam perjalanan pulang, ia berencana mau mampir ke KFC di Gelael Candi untuk membeli ayam satu ember dan poffertjes. Yang terakhir ini aku sungguh nggak tahu, makanan apa gerangan. Ido tahu dari iklan(!). Yah, diturutin lah, karena dulu ketika aku sunat juga membebani Ibu dengan beberapa keinginan yang juga dengan serta merta diberikan. Yang paling enak dulu adalah, sebagai obat (katanya!) tiap hari aku beroleh lauk istimewa, yakni ikan lele yang dibumbu (namanya bumbu srapah, entah terdiri dari apa saja itu?) dan dibakar. Harap maklum, saat itu lelenya benar-benar lele liar, bukan lele dumbo. Jadi, ya gurih banget. Kalau lele dumbo, sulit dibakar/dipanggang karena dagingnya pasti berjatuhan.
Sampai rumah, Ido kami suruh tidur (kan sudah mandii sore di rumah sakit).

Sebelum burung dibersihkan
Di depan ruang operasi, menunggu perawat menjemput (ka-ki: perawat, ido, pak wrs, mama ido)

Friday, August 08, 2008

Bandara A. Yani 080808 08:30
Kalau acara berlangsung tanpa ralat, ini adalah bulan paling heboh. Hari ini (8 ags 2008) sampai Minggu (10 ags 2008) di hotel Sparks, acara PJJ PGSD nyusun panduan2. Pulang tanggal 10 jam 15.25, terus besoknya tanggal 11 jam 09.20 berangkat lagi untuk acara BERMUTU temu wicara di hotel Mega Anggres, pulang tanggal 12 jam 15.25 juga. Sudah gitu untuk acara terusannya yang tanggal 12 aku harus ke Jakarta lagi juga tanggal 13 di Mega Anggrek. Pulang tanggal 15 Ags. Kalau acara dengan paf Sopyan jadi, tanggal 19 - 23 ke Jakarta lagi, untuk kegiatan entah apa, yang diselenggarakan Intel. Bingung ya, kenapa musti bolak-balik. Habis kalau nginep di Jakarta siapa yang bayarin, lagian kan jadi nggak ada bukti keberangkatan (siapa yang suruh boros, coba?). Yang untung tentu aku, GFF-ku jadi nambah banyak pointnya (he ...he...he).

Saturday, August 02, 2008

2 Agustus 2008

Dua hari lalu aku melihat yang ganjil di halaman kantor FT. Baliho besar berisi foto-foto pejabat. Mau lihat?


Foto aku ambil tangal 2 Agustus pagi hari (jam 9-an), dan mungkin sudah terpasang di situ beberapa hari atau beberapa minggu. Lebih dari seminggu aku nggak nengok kampus soalnya. Rasanya ada yang aneh! Kalau baliho itu berisi program kerja sih oke-oke saja. tapi ini sih murni nampang. Memang aku bisa membayangkan alasannya: Biar mahasiswa baru kenal tampang para pejabat itu. So what? Kayak politisi saja!

Tuesday, July 29, 2008

23 - 29 Juli 2009

Lagi, ini bagian dari kerjaan Bermutu PJJ PGSD. Pelatihan Pengembangan Bahan Ajar Web. Ada 13 peserta dari 13 PT (Unnes, Unej, Unismuh, Unpatti, UKSW, Unlam, Unila, UHAMKA, Undiksha, UNS, Unram, UNG, Unhalu). Kali ini tidak ada bu PP. Biasa saja, mirip dengan kegiatan ICT Advance, hanya saja kali ini pakau Hylite (Moodle-like LMS) . Cape? Tentu saja. Sebelum ini, 20 - 22 aku juga di Yogya, dengan Ido dan MamaIdo. Aku sendiri presentasi di UGM tanggal 21. Sebelumnya, 15-17 dan 17-19 di Hotel Sultan untuk membuat panduan belajar KKG/MGMP. Ini adalah komponen 2.2 proyek Bermutu.
Belum mikir disertasi. Harus selesai, Satu demi satu

4 – 7 Juli 2008

Sekitar jam 06.00 pagi aku sudah siap dan memesan taksi untuk ke Bandara. Tumben, ketika tiba di mulut gang, dari jauh kelihatan taksi sudah menunggu di pos ojek Pasar Damar. Maka pagi itu aku bisa sampai di Bandara jam 06.40, dan 06.45 sudah berada di ruang tunggu. Dari saat check-in, petugas sudah memberitahu kalau pesawat yang dari Jakarta ke Pontianak bakalan terlambat. Mereka bilang jam 12.15 baru akan take-off (pada e-ticket tercatat keberangkatan jam 11.00, pada boarding pass jam 11.55). Kenyataannya, pesawat baru take-off jam 12.30. Jadi kami (aku dan LK) sampai di Bandara Supadio sudah jam 14.00.

Di Bandara sudah menunggu tiga penjemput dari Untan (Kaprodi PGSD: Pak Suhardi, Pengelola PJJ PGSD: Pak Herry Kresnadi, dan satu lagi pengelola lab ICT). Istirahat sebentar di restoran Bandara, kami kemudian meluncur untuk mencari tempat makan siang. Kami makan siang di Cafe Dangau di jalan (by pass) menuju/keluar Bandara. Menu khasnya, apalagi kalau bukan, ikan (termasuk ikan mas) dan aneka seafood. Seperti di Makassar, ada juga sambal mangga muda.

Kami menginap di hotel Orchardz (di daerah Pecinan-nya Pontianak, Jl. Gadjah Mada no 89, www.orchardzhotel.com). Malamnya, lagi-lagi kami makan di resto seafood, dan mampir di kios durian di Jl. Gadjah Mada. Hmmm ... lumayan, habis 3 buah (kecil sih!).

Tempat yang sempat dikunjungi:
  • Kampus PGSD Untan, tentu saja
  • Cafe Dangau, di Jalan Raya (Bypass) Bandara Supadio
  • Pantai Kakap Indah, tempat makan di atas pantai (yang tidak indah sebenarnya, karena banyak sampah dan pasirnya hitam berlumpur). Masakannya lumayan, di sini aku sempat makan 1 porsi kepiting (yang isinya empat ekor!).
  • Cafe Grafitasi (bener, pakai 'f'), tempat makan yang jauhnya 50 km dari penginapan. Diantar Dekan dan rombongan, melewati tugu Khatulistiwa (sayang malem hari). Pulang malem banget, sering berpapasan bus yang ulang-alik Pontianak-Kuching (Malaysia)


Pemandangan di depan Hotel Orchardz PNK

Thursday, July 17, 2008

Petunjuk ini mungkin Ido perlukan suatu ketika nanti. Kebetulan 2 tahun belakangan ini Papa sering bepergian naik pesawat. Kebanyakan sih memang ke Jakarta, dan sampai saat ini belum pernah ke negara lain. Paling jauh baru ke Medan, Banjarmasin, Denpasar. Berikut ini adalah tahapan atau langkah-langkah kalau mau bepergian dengan pesawat terbang, terutama dari Semarang, meskipun dari kota-kota lain caranya kurang lebih sama.

1. Pertama-tama Ido harus menuju ke Bandara atau Airport di Semarang, yaitu Bandara Ahmad Yani. Letaknya ada di depan Musem Ronggo Warsito (ingat, Ido pernah ke sana bersama teman-teman ketika masih di kelas 2 SD dulu). Dari Banyumanik biasanya Papa naik taksi (bisa Bluebird, bisa Satria/Express). Biayanya kira-kira Rp. 45.000 - Rp. 55.000. Ingat bahwa kita harus check-in paling lambat 30 menit sebelum jam keberangkatan pesawat. Sebaiknya 1 jam sebelumnya. Jadi, bila pesawat akan terbang jam 07.35, usahakan jam 06.30 atau sebelum jam 07.00 Ido harus sudah sampai di Bandara, Karena perjalanan dari Banyumanik ke Bandara perlu waktu 30 menit, maka jam 06.00 Ido sudah harus berangkat. Biasanya Papa sudah memesan taksi sejak jam 06.00 dan seperti biasa Papa akan segera berjalan menuju pos ojek di Pasar Damar agar memudahkan sopir taksi menjemput. Kalau sekiranya jalanan ramai, Papa biasanya meminta sopir untuk lewat jalan tol. Bila harus lewat tol, siapkan uang Rp. 3000 untuk karcis masuk tol dari Banyumanik sampai Krapyak. Siapkan juga uang Rp. 2500 untuk karcis masuk kendaraan ke Bandara Ahmad Yani.

2. Di Bandara, taksi biasanya akan berhenti di pintu keberangkatan.Di pintu masuk ini tas dan seluruh bawaan kita akan diperiksa petugas dengan peralatan sinar-X. Peralatan ini bisa 'melihat' isi tas kita. Bila ada barang-barang mencurigakan, tas akan dibuka dan diperiksa isinya. Pisau, gunting, dan barang-barang berbahaya tidak boleh di bawa ke dalam kabin pesawat. Usahakan jangan membawa barang-barang seperti pisau, gunting kuku, dll ke kabin pesawat. Barang-barangitu harus dimasukkan dalam tas yang harus ditempatkan di bagasi. Papa jarang menyimpan tas di bagasi karena biasanya bawaan Papa tidak banyak. Cukup satu tas kecil dan satu ransel berisi laptop. Tas dan ransel inipun harus melewati pemeriksaan sinar-X. Ponsel, kamera, anak kunci dan barang-barang logam lain yang ada di saku harus dikeluarkan dan diletakkan ke dalam nampan plastik untuk dilewatkan juga dalam pemeriksaan sinar-X.Bila barang-barang tersebut masih ada di saku kita, maka alarm akan berbunyi saat kita melewati tiang detektor logam. Bila ini terjadi, petugas akan meminta kita mengeluarkan barang-barang dalam saku kita. Beberapa kali Papa mengalami hal itu, ketika kunci atau kamera lupa Papa keluarkan dari saku.

3. Setelah melalui pintu masuk ini kita harus menuju counter atau meja untuk check-in. Di counter tersebut ada petugas yang akan melayani kita. Perhatikan tulisan di atas kepala petugas atau di mejanya. Tulisan itu memuat nama pesawat dan tujuannya. Check in adalah melaporkan kedatangan kita dan kesiapan kita untuk berangkat. Nama kita akan didaftar, dicocokkan dengan KTP atau tanda pengenal lainnya. Dari proses check-in ini kita akan mendapat nomor kursi. Bila kita datang agak awal, biasanya kita bisa meminta kursi dekat lorong atau kursi dekat jendela. Kursi dekat lorong memudahkan kita untuk pergi ke toilet sedangkan kursi deket jendela memudahkan kita melihat keadaan di luar pesawat. Dari jendela kita bisa melihat pemandangan menarik saat pesawat take-off ataupun landing. Atap-atap rumah, kelok-kelok sungai, pantai, dan deretan kendaraan di jalan raya. Setelah pesawat berada pada posisi jelajah pemandangan itu tidak bisa kita lihat karena pesawat berada pada ketinggian 30.000 feet atau sekitar 10.000 meter. Yang akan terlihat hanya gumpalan awan di bawah kita atau kilatan-kilatan air laut kalau pandangan kita tidak terhalang awan.

4. Setelah melapor ke counter check-in kita akan mendapatkan kertas semacam tiket yang disebut boarding-pass atau kartu masuk pesawat. Boarding-pass inilah yang selanjutnya kita gunakan, sebagai pengganti tiket. Tiket sudah tidak diperlukan lagi.

5. Dengan boarding pass kita menuju loket pembayaran pajak bandara (airport tax). Di Bandara Ahmad Yani kita harus membayar pajak Rp. 25.000,-. Di bandara lain ada yang Rp. 30.000, misalnya Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Kalau kita bepergian ke luar negeri kita membayar biaya fiskal yang besarnya Rp. 1.000.000,-.

6. Dari loket pajak bandara itu kemudian kita bisa memasuki ruang tunggu. Di Bandara Ahmad Yani Semarang (nama singkatannya adalah SRG) ada dua ruang tunggu. Pertama adalah ruang tunggu luar, yang sebenarnya sih tempatnya sudah di dalam bandara tetapi berada dekat kios-kios dan restoran untuk makan. Ruang tunggu ini digunakan kalau ruang tunggu di dalam penuh atau pesawat yang akan kita tumpangi belum datang. Kita dipersilahkan menuju ruang tunggu dalam kalau pesawat kita sudah datang (biasanya 30 menit sebelum jam masuk pesawat atau jam boarding, jam masuk pesawat umumnya 20 menit sebelum jam take-off pesawat).

7. Dari ruang tunggu luar ke ruang tunggu dalam kita melewati lagi pintu pemeriksaan sinar-X, sama seperti di pintu masuk sebelumnya. Di pintu ini bukti pembayaran pajak bandar diperiksa dan disobek setengahnya untuk bukti pembayaran (dan menghitung pendapatan pemerintah daerah).

8. Kira-kira 10 - 15 menit sebelum pesawat berangkat, kita dipersilahkan memasuki pesawat. Proses memasuki pesawat inilah yang disebut boarding. Di Bandara Ahmad Yani Semarang ada 3 pintu menuju tempat parkir pesawat. Tidak ada fasilitas garbarata yangmenghubungkan pintu ruang tunggu dengan pintu pesawat. Kita harus berjalan menuju tempat parkir pesawat dan menaiki tangga untuk memasuki pesawat. Jadi masih kuno dan tidak nyaman. Apalagi kalau panas menyengat karena pesawat terbang jam 11 atau 12 siang. kalau hujan, petugas menyediakan payung untuk menuju ke pesawat. Di pintu keluar petugas akan menyobek sebagian boarding pass kita, lalu kita berjalan menuju tangga pesawat.

9. Di pesawat, setelah semua penumpang duduk di kursi masing-masing, pramugari akan mendemonstrasikan prosedur penyelamatan, antara lain memberitahu cara memasang sabuk keselamatan dan pelampung. Pada pesawat jenis airbus A-19 dan beberapa pesawat lain, demonstrasi ini dilakukan secara 'live' oleh pramugari (seperti yang kadang-kadang ditirukan oleh Ruben di televisi). Pada pesawat jenis Boeing 737-400 demonstrasi ini ditunjukkan dengan video di monitor televisi pesawat. Penumpang yang duduk di kursi tempat jendela darurat akan diberitahu cara-cara membuka pintu darurat.

Thursday, June 26, 2008

The Acacia 23 - 27 Juni 2008

Aku lupa entah yang ke berapa di Acacia ini. Yang jelas seminggu ini ada 2 acara sambung menyambung. Satu: melatih calon reviewer proposal DIP-BP, dua: mereview proposal. Saat aku tulis ini (kamis pagi 26 Juni 2008) dua kerjaan itu sudah aku selesaikan. Tinggal nunggu sampai besok. Jadwal flight-ku besok sore jam 17.05. Acara ke Pontianak juga sudah dipastikan dan aku sudah pesan tiket bolak-balik. Jadinya 4 - 7 Juni 2008 aku akan berada di Pontianak (Untan) untuk monitoring dan evaluasi PJJ PGSD.

That's all.

Tuesday, June 24, 2008

23 Juni 2008

Tidak tahu harus menulis apa. Mungkin kata dan frasa ini mewakili:
  • Metro
  • Hitam Kelam
  • Merah membara
  • Putih pucat sipit
  • Dosa
  • 2206 junior suite

Ditbindiklat PMPTK, 17 Juni 2008

Aku pakai pesawat pagi (SJ 221) yang berangkat dari Semarang 06.20. Musti buru-buru sebab acara rapat Sajian rancangan dari tim ICT dan RPL (Recognition of Prior Learning), dimulai jam 09.30. Untung Sriwijaya tepat waktu, jadi jam 07.00 aku sudah naik bus Damri Jurusan Blok M. Menurut pak sopir, aku harus turun di Ratu Plaza karena tujuanku Gedung Depdiknas berada di dekat situ.

Jam 08.30 aku sudah sampai di Lantai 15 Gedung D Depdiknas, Jl. Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan Jakarta 10270. Ini rapat macam apa, aku belum tahu, tapi kayaknya (seperti tertera dalam undangan) ini baru pertemuan awal. Jadi akan ada pertemuan-pertemuan lanjutan. Bu PP akan mempresentasikan rencana terkait ICT untuk BERMUTU, yang slide-nya sudah sempat aku baca dan berikan komentar/saran kemarin dulu. Ikuti sajalah, entah bagaimanan nanti.

Habis rapat datang tugas: hari ini sampai besok bantuin bu PP menyelesaikan exposition paper untuk dukungan ICT bagi program Bermutu. Idenya adalah membuat modul, pelatihan, dan situs web yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pengembangan profesionalisme guru secara berkelanjutan.

Berikut kutipan draft proposal (yang akan dilengkapi dan diperbaiki oleh bu PP menjadi proposal lengkap):

………..

Pengembangan profesi guru secara berkelanjutan memerlukan berbagai sumber daya, antara lain: tersedianya buku-buku rujukan mutakhir dan relevan dengan bidang profesinya, tersedianya nara sumber yang dapat diandalkan untuk membantu memecahkan masalah-masalah terkait dengan tanggung jawab profesinya, tersedianya kesempatan mengikuti pelatihan atau kursus-kursus penyegaran untuk menyegarkan dan memperdalam kemampuan profesionalnya, dan tersedianya akses komunikasi yang luas dengan rekan-rekan sejawat untuk keperluan pengembangan profesinya.

ICT memberikan kesempatan luas bagi guru maupun profesional lain untuk mengembangkan dan menyegarkan pengetahuannya melalui forum diskusi dengan sejawat, pencarian informasi mutakhir dalam bidang keilmuan terkait profesinya, serta pembentukan dan penyebarluasan gagasan di antara rekan-rekan seprofesi.

ICT, melalui subsistem Internetnya, menyediakan kemungkinan berkomunikasi secara mudah dan murah melalui pemanfaatan email untuk surat menyurat secara elektronis, newsgroup untuk forum komunikasi berbasis email, dan chatting untuk berkomunikasi secara sinkron-realtime. Sistem komunikasi semacam ini dapat digunakan sebagai sarana diskusi antar sejawat maupun berdiskusi dengan narasumber.

Meskipun fasilitas komunikasi berbasis web tersedia di Internet, tetapi untuk keperluan komunikasi antara guru dan rekan sejawatnya, perlu dirancang sarana komunikasi di dalam situs web. Sistem komunikasi dalam situs web merupakan submenu dari sebuah portal sehingga hanya bisa diakses atau digunakan bila pengunjung masuk (log-in) ke dalam portal tersebut.

Internet adalah juga gudang informasi yang sangat besar. Berbagai informasi dari banyak bidang terkumpul dan dapat diakses dari manapun selama tersedia akses Internet. Dari sisi pengguna, masalahnya adalah bagaimana cara memperoleh informasi yang berkualitas dari ‘gudang’ informasi tersebut. Untuk itu diperlukan paket pembelajaran mandiri (modul) yang dapat digunakan sebagai panduan bagi guru untuk: (1) mencari informasi di internet secara efektif dan efisien, (2) mengevaluasi informasi yang di dapat di Internet. Pencarian informasi secara efektif dan efisien dapat dilakukan dengan berbagai mesin pencari yang ada di Internet. Google (http://www.google.com) dan Yahoo! (http://www.yahoo.com) adalah dua diantara banyak mesin pencari paling populer di Internet. Teknik dan trik-trik pencarian dengan mesin pencari perlu dipelajari agar guru terampil melakukan pencarian informasi secara cepat. Sedangkan kemampuan mengevaluasi informasi dari Internet perlu dipelajari agar guru dapat menghindarkan diri dari memakai ataupun menyebarluaskan informasi yang palsu ataupun yang tidak dapat dipercayai karena berasal dari sumber yang tidak jelas. Dukungan bagi guru untuk memanfaatkan Internet sebagai gudang informasi dilakukan dengan cara mengembangkan paket belajar mandiri atau panduan, untuk: (1) menggunakan mesin pencari di Internet, dan (2) mengevaluasi sumber informasi di Internet (information literacy)

Guru adalah juga narasumber bagi peserta didik maupun bagi sejawatnya. Oleh karena itu, pertukaran informasi dan pengetahuan antara guru dengan peserta didik serta antar guru sebagai sesama rekan sejawat juga perlu difasilitasi. Banyak pengalaman guru di lapangan yang bisa saling dipertukarkan. Banyak pula perangkat-perangkat pembelajaran yang dikembangkan oleh guru dan bisa menjadi bahan ajar bagi guru di tempat lain. Bila informasi-informasi dan dokumen-dokumen yang dihasilkan oleh guru bisa saling dipertukarkan, maka bisa saling belajar dengan teman sejawatnya. Sebagai dampai ikutan, kualitas pembelajaran siswa akan meningkat dari waktu ke waktu. Untuk memfasilitasi pertukaran informasi ini perlu dirancang: (1) situs repositori objek ajar, yang berisi berbagai objek ajar (learning object) yang dikembangkan oleh guru, (2) blog guru, yang berisi tulisan-tulisan guru mengenai berbagai hal terkait bidang profesinya.

Beberapa keterampilan dasar ICT yang diperlukan untuk mendukung pengembangan profesional guru secara berkelanjutan ditabulasikan pada tabel berikut ini.

dst ......

Itu substansi akademiknya. ‘Sentuhan’ lainnya adalah pengalaman 3 jam di perjalanan, berganti 5 moda angkutan: Kijang F1 (ini istilah pak Abdor untuk mobil pak Hasan), Helikopter (bemo, pak Abdor), Metromini ke Manggarai (turun di Ramayana), Metromini ke Pasar Minggu, dan lalu ganti angkot S15 turun di LPMP (karena Metromini Ps Minggu nggak mau masuk ke Poltangan (tempatnya LPMP Jakarta). Atas jasa pak Abdor, malam itu aku nginep di LPMP (gratis ..tis). Pagi jam 04.30 sudah cabut, pakai Metromini ke Manggarai, terus ganti lagi ke Senayan. Jam 06.30 sudah sampai ke kantor PMPTK di Senayan.

Siang hari kerjaan selesai, jam 14.00 cabut ke Bandara dan malam hari sudah sampai di Semarang.

Lesson study, 9-10 Juni 2008

Kali ini aku ke Bandung. SMS bu Paulina jam 13.50 siang tadi (9/6/08) berbunyi: “Pak Sukirman n p Hari, help me ya. Besok Bpk2 diundang ke sumedang olh pmptk. Tlg hadir ya kalau bisa. Sy blm dpt ijin dari ut nih, Trims berat.” Cukup panjang dan nadanya menjadikan aku harus berusaha sedapat mungkin datang. Sebenarnya SMS itu belum sempat kubaca karena aku masih di jalan saat itu, tepatnya di depan Plasa Telkom Banyumanik, tempat aku mau membayar telepon bulanan.

Lantas datang telepon dari wanita yang mengenalkan diri sebagai Tasya, dari Dit Bindiklat PMPTK menginformasikan datangnya undangan untuk aku. Kurang yakin aku tanya, apa benar undangan untukku? Dia jawab: iya, atas rekomendasi bu Paulina. Jadi, ini kerjaan baru bu Paulina di PMPTK seperti yang diberitahukan beberapa waktu yang lalu. Lantas aku minta bu Tasya (atau mbak/dik ya?) mengirim fax ke nomor fax-ku. Thanks God, aku sudah pasang fax di rumah, jadi nggak perlu repot-repot balik ke kantor hanya untuk mengambil fax.

Di rumah, fax datang, 3 lembar. Jadi ada direktorrat yang namanya Dit Bindiklat di PMPTK yang sedang mengembangkan pelatihan di KKG dan MGMP, yang antara lain menggunakan model Lesson Study.

Mamanya Ido tentu bengong, kok kerjaan macam begini. Baru malem kemarin sampai rumah (setelah 6-8 Juni menyelesaikan persiapan pelatihan reviewer DIPBP Bermutu) kok sudah pergi lagi? Aku Cuma senyum kecut, minta maaf. Lantas pesan tiket untuk ke Jakarta. Aku pikir dari Cengkareng nanti aku bisa pakai Cipaganti atau Prima Jasa ke Bandung. Ido, karena ada maunya, menemani aku mengambil tiket di Laena.

Oke, aku berangkat jam 17 lewat karena pesawat (Mandala) takeoff jam 18.30. Sampai di Jakarta jam 19.30, dan langsung pesan tiket Prima Jasa ke Bandung. Berangkat ke Bandung jam 20.30, dan disinilah aku sekarang. Jam 24.00 sudah di fo Hotel Aston Tropicana, Jl. Cihampelas, sebelahan sama McDonald Cihampelas. Berseberangan, agak ke timur (atau utara ya) ada jalan menuju Kebon Bibit Barat, tempat aku indekos waktu magang di ITB dulu. Buset dah, hotel di Bandung memang muahal. Masak paling murah 1 juta, dan suitenya hampir 4 juta. Aku sekamar dengan teman dari Direktorat Pembinaan Diklat (baru kutahu ada instansi ini di bawah PMPTK), Andhika di kamar 519.

Jam 06.00 pagi, malah kurang ‘kali, aku turun makan pagi di lantai I Aston Tropicana. Mulailah aku bingung. Kemana acara pagi ini. Ke UPI? Atau ke mana. Barulah ngeh setelah tanya-tanya sana sini. Rupanya pagi ini rombongan langsung ke Sumedang. Aku bergabung dengan 4 orang lain (3 dari Bindiklat: Agus, Andhika, Tasya Kacita, 1 dari Antara?). Tujuan: SMP Negeri Tomo 1. Misi: mengamati pelaksanaan Lesson Study.

Kegiatan pelatihan Lesson Study diadakan oleh PMPTK dengan bantuan dana dari JICA dan resource person dari UPI. Bu PP rupanya menghendaki kegiatan Lesson Study bisa menggantikan PPL mahasiswa PJJ PGSD.

Monday, May 12, 2008

UPG 9 – 11 Mei 2008


Aku ketik ini di ruang tunggu Bandara Juanda (di depan kios buku Periplus, di pilar yang ada stop kontaknya), 11 Mei 2008, dari tulisan tangan yang kubuat di Bandara Hasanuddin Makassar.

Date of event: 9 Mei 2008

(Meet new friends: Pak Muslimin, Pak Sawal (udin?))

Ini kedua kalinya aku ke UPG. Acara visitasi ini sempat mundur dari rencana semula tanggal 5 – 7 Mei 2008. Berangkat dari Semarang tanggal 9 Mei, setelah pesen tiket ke Widy Laena. Berangkat dipilihkan rute SRG – CKG – UPG dengan SJ setelah mempertimbangkan plafon yang diberikan oleh Ditnaga. Take-off sesua jadwal, 06.15 WIB dari Bandara A. Yani, transit di CKG 07.00 – 10.55. SJ mendarat nyaris tepat waktu di Bandara Hasanuddin UPG. Aku jadi orang pertama yang muncul di pintu kedatangan. Langsung mata tertuju ke orang yang berbaju PSH-Pemda warna kehijauan yang sedang memencet tombol-tombol ponsel. Selagi di pesawat tadi ada SMS dari UNM-Mslm bahwa ybs menunggu sudah ada di Bandara. Langsung aku yakin, itulah orangnya. Dan benar, memang dia. Berempat, dengan Innova plat merah, aku – UNM Mslm, UNM Sawal, driver – menuju kota Makassar. Dalam perjalanan, informasi bahwa banyak pejabat nanti tidak bisa menemui karena harus mengantar Dirnaga ke Pare-pare, diulang kembali. No problema, gak masalah sama sekali. Yang penting ada orang untuk di-kulonuwun-i. Di perjalanan diberitahu juga bahwa hotel sudah di-book, Clarion Hotel di Pettarrani. Hotel yang sama yang setahun lalu digunakan untuk menginap instruktur dan peserta pelatihan ICT Dikti.

Sebelum sampai hotel, kami mampir di rumah makan. Bangunannya sama sekali tidak mewah, malah nyaris kumuh seperti warung-warung kecil di Jawa, tapi spanduk di depan pintunya yang bergambar Kapolda (Hariyanto?) mempromosikan warung ini tampaknya ini resto terkenal. Artis juga banyak ke sini, kata salah satu teman UNM. Nama restonya aku lupa, yang jelas kami makan sup kepala ikan (yang telah dimutilasi habis, jadi nggak jelas lagi bentuk kepalanya) dan ikan goreng lengkap dengan sambal mangga muda (yang tidak berasa pedas sama sekali). Kata mereka, di sini mangga nggak kenal musim, jadi tidak perlu khawatir nggak bisa bikin sambal (ini respon ketika aku tanya: kalau nggak musim mangga, buah apa yang disambal?). Bagaimanapun, makan mengudap di resto itu jauh lebih enak daripada mbayangin makan di hotel, kelas Clarion sekalipun. Sayang nama restonya aku lupa, yang jelas di jalan Pettaranni.

Rasa masakannya memang yummy juga. Sambal mangga (golek?) hanya berasa asam saja (entah asamnya mangga, entah memang dikasih cuka) sungguh kurang pas dengan sup dan goreng ikannya. Tapi, okelah. Gratis pula :).

Tiba di hotel, check-in dapat kamar #931. Seperti banyak hotel baru di kelasnya, Clarion pakai kunci kamar bentuk kartu magnetik (yang nantinya bikin masalah). Janjian akan dijemput untuk makan malam oleh UNM-Swl, setelah sebelumnya UNM-Mslm menyatakan nggak bisa menemani karena harus mengantar Dirnaga ke Pare-pare.


Jam 19.00 lewat dijemput untuk makan malam. Tujuan: pantai Losari. Masuk rumah makan yang rame banget (restoran Lae?. Menu: ikan bakar, udang bakar, kangkung tumis, sayur asam. Ikannya gede, seperti ikan-ikan yang dijual di Makassar pada umumnya. Di Semarang, ikan seperti ini harganya dihitung kiloan. Di sini dihitung ekoran (satu ekor entah berapa, pastinya lebih murah dari Semarang).

Yummy juga, tapi lagi-lagi sambalnya (mangga muda, tetep!) sama sekali tidak pedas, sedikit pula. Rasanya satu ekor ikan (dan beberapa ekor udang) sudah penuh berdesakan di lambung, jadi nggak mungkin diisi lagi.

Back to hotel and get sleep. Janjian disemput esok hari jam 07.00.


Date of event: 10 Mei 2008

(Meet new friends: Rohana, Mappasaro, Dewi, Nurhaidah)

Dijemput jam 07.30, langsung ke Dekanat. Ditemui PD3 (Mpsr) berbasa-basi sebentar lalu menuju ruang pertemuan di lantai 1. Urusan lancar, selesai jam 11.00. Swl langsung mengantar ke Unmuh Makassar (baru belakangan tahu bahwa singkatan resminya adalah Unismuh, bukan ‘Unmuh Makassar’ seperti yang selalu disebut oleh ‘orang Jakarta’)


(Meet new friends: Sulfasyah, Dr. Sukri (Dean), Dr. Bahrun (VD1))

Di Unismuh ketemu ditemui oleh contact person, bu SFS, PD1 dan D. Setelah mengenalkan diri dan berbasa-basi sebentar, langsung disuguh makan siang. Menu andalan Makassar keluar lagi: ikan bakar utuh – besar, ikan goreng utuh juga, tumis kangkung, dan sambal yang juga sama sekali tidak pedas. Eh, ada otak-otak juga! (tapi yang ini otak-otak versi tengiri/entah, bukan otak-otak bandeng yang ‘very rare’ itu). Snacknya: biji nangka (bukan yang asli, tetapi dibuat dari tepung dan telur dibentuk secara nggak mirip dengan biji nangka, lebih berbentuk raindrops raksasa), ‘pepes’ getuk pisang basah (entah apa namanya, tetapi mengingatkan aku pada kolak roti berlumur santan yang dikukus berbungkus daun pisang), dan yang tidak asing: pastel basah.

Wawancara dan diskusi dengan 13-an mahasiswa, 4 dosen, termasuk SFS dan PD3.

Jam 15.30 acara selesai, dihantar UNM Swl ke hotel dan janji dijemput makan malam.

Jam 18.30 dijemput di lobby, menyelesaikan urusan penggantian tiket, dan meluncur makan malam di resto Sederhana.

11 Mei 2008

Here I am. In front of gate 6 Hasanuddin Airport, ready to go back to SRG via SUB. Back to routines. Yesterday VR4 ask me (via SMS) to coordinate team for TVS Labschool in presenting proposal draft before discussing it with Dinas Provinsi and Dinas Kota. I tell him to shedule the task in Tue or Wed (13 or 14 May) because in Thu until Sun I have to go to Jakarta for PJJ meeting. (Latest info from Syahid: meeting was delayed untuil 16-17 May).

Bogor, 29 April 2008 (Hotel Pangrango 1)

Sampai jam 23.00 meeting belum juga berakhir. Teman-teman tim ngeledek aku yang sudah harus cabut dari hotel jam 04.00 mengejar pesawat jam 08.00. Sampai jam 24 lebih pertemuan baru berakhir dengan menyepakati agenda baru: separo tim pergi visitasi ke beberapa tempat yang telah ditentukan, separo lainnya menyiapkan pelatihan calon reviewer yang rencananya akan diselengggarakan di Jakarta 7 – 9 April 2008 (tempatnya belum jelas). Visitasi dilakukan ke : Makassar (UNM dan Unmuh, aku sendiri), Malang (UM dan UMM, RDR), Palembang (Unsri, AS), Bandung (UPI, SKM), NTT (Undana, ED). Masing-masing tim terdiri atas PJJ-ers ditambah pendamping dari Ditnaga. Jadilah kerja maraton. Visitasi mulai tanggal 5 April, bisa sampai tanggal 6 atau 7, dan tanggal 7 – 9 bergabung lagi di Jakarta untuk membuat laporan visitasi dan melakukan pelatihan reviewer baru.

Ruang tunggu B6, Bandara Sukarno – Hatta Jakarta

Bus Damri Bogor – Jakarta yang berangkat 04.00 masuk bandara jam 05.15. Jadi, aku yang harus terbang ke Semarang jam 08.00 sudah berada di ruang check-in jam 05.30. Loket (tepatnya meja) check-in untuk penerbangan ke Semarang belum dibuka. Loket baru buka setelah kira-kira 30 menit menunggu.

SMS VR4 menyebutkan pertemuan dengan Dir SMK jadi dilaksanakan di ruang 405 Gedung H. Konfirmasi dengan Lina juga sudah aku lakukan. Kepada keduanya aku sudah bilang bahwa baru pukul 08.00 pesawatku take-off. Jadi aku bergabung pada pukul 09.30, kira-kira. Acara Dir SMK pagi itu adalah memberikan kuliah umum dan menandatangani MOU (entah tentang apa aku tak tahu). Yang jelas, kalau benar terjadwal, diskusi dengan Dir SMK dan Ka Dinas (Prov dan Kota) baru akan dilangsungkan setelah makan siang.

What a hectic day!

“Mengapa yang tadi dipanggil Teteh?”

RDR, koordinator PJJ-ers BERMUTU sekaligus pengocol di antara kami, menceritakan kekonyolan yang dilakukannya. Konon, pada suatu pagi di Bandung – lagi BT-Btnya – ia pergi ke tukang fotokopi. Untuk mem-fotokopi tentunya. Rupanya RDR ini termasuk mahasiswa yang cukup rajin, rajin fotokopi maksudnya. Si tkang fotokopi baru saja melayani mahasiswi muda dan kinclong, yang dipanggilnya ‘Teteh” (“Mbak” Jw.) Tibalah giliran RDR, yang juga mahasiswa, meskipun yang ini mahasiswa S3.
“Dikopi berapa kali, Bu?” tanya si tukang fotokopi dengan amat sopan. RDR, yang lagi BT, pasang muka kenceng dan serius, siap ngerjain si tukang.
“Mengapa cewek tadi dipanggil Teteh. Kok gue dipanggil Ibu? Lu kira gue udah tua banget?”
Muka kenceng si teteh, eh Bu RDR, masih terpasang, dan benar-benar bikin tukang fotokopi salah tingkah. “Eh .. Ehm, .. bukan begitu Teh “. Si tukang bingung, nggak tahu harus ngomong apa. Si “Teteh” eh “Ibu RDR” tetap pasang muka serius (meski dalam hati ngakak berat).


Mouse – Tetikus – Cecurut

Ini kisah JI, orang yang menurut simolek-ers (gang Pondok Cabe Pojok), paling rewel soal bahasa. Baru-baru ini di kantor simolek-ers terjadi pergantian Direktur. Direktur baru membawa gerbong yang, antara lain, jagoan gaek yang sama ribetnya soal bahasa. Cerita pertama tentang “meng-organize”. Kata gado-gado semacam itu sering berhamburan di antara simolek-ers yang memang sehari-harinya lingkup kerjanya yang Asean memungkinkan kata-kata campur-aduk itu berhamburan setiap hari. Sang jagoan gaek pun berkomentar mengenai “meng-organize” itu. “Pakai istilah mengorganisasikan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang memelihara bahasa kita?”
Simolek-ers pun patuh, dan dalam hati membenarkan petuah sang kakek. Sampai suatu saat sang kakek memaksakan idenya untuk menggunakan istilah ‘tetikus’ menggantikan ‘mouse’, peranti paling penting untuk mengendalikan komputer. Jengkel dengan pemaksaan itu, JI pun menggunakan istilah “cecurut” sebagai ganti “mouse”. Konyolnya, istilah itu dipakainya ketika sedang kumpul-kumpul dengan PJJ-ers, yang merupakan komunitas berbeda dengan komunitas simolek-ers. (Yang belum tahu bedanya simole-ers dan PJJ-ers, nanti akan dijelaskan).
Jadi, JI akan berteriak “Mana nih cecurutku?” kalau mouse-nya nyelip entah di mana.