Wednesday, December 09, 2009
Random Hearts
tahun 1999 ini. Film ini pernah beberapa kali diputar di TV dan
karenanya aku pingin mendapatkan kembali CD atau DVD-nya untuk
menonton ulang. Setelah pusing mencari-cari, mulai dari tempat
penyewaan sampai lapak-lapak penjual CD ilegal dan tidak ketemu juga,
maka mulailah pencarian dengan bantuan Paman Google ditambah
mengubak-ubak situs-situs file sharing. Ketemulah akhirnya setelah
upaya penuh perjuangan seharian ditambah mengunduh semalaman. Ceritanya tidak terlalu istimewa dan bisa digolongkan genre
drama-romantik. Selain kuat pengkarakteran tokohnya, film-film arahan
Pollack memang indah garapannya. Sepanjang tayangan film, gambar yang
terambil tampak begitu indah meskipun adegannya sederhana. Bagiku,
baju-baju yang dikenakan artisnya juga tampak sangat elegan. That’s
all for puja-puji mengenai asesorinya. Saat ini aku ingin bercerita tentang isi cerita Random Hearts.
Kata-kata yang sederhana namun kuat dan bisa mewakili cerita ini
adalah yang diucapkan oleh van de Broecks (kalau tak salah tulis) pada
setengah penggal akhir cerita, ketika ia yakin bahwa isterinya telah
berselingkuh dan menyembunyikannya dengan rapi sampai kecelakaan
pesawat terbang merenggut nyawa isteri dan kekasihnya. Setengah
bergumam ia berkata, pada dirinya sendiri, : “We make loved that
morning”. Ya, pagi itu ia dan isterinya memang bercinta, dan
digambarkan dengan sangat baik. Pagi, diantara ketergesaan isterinya
menerima berbagai telepon dan ia sendiri yang bertugas menjadi sersan
polisi, adegan percintaan itu tergambar dengan sangat baik meskipun
sederhana layaknya gambaran percintaan suami-isteri. Sederhana,
maksudnya tidak ada perilaku menggebu-gebu seperti pasangan yang masih
penuh bara berahi. Cerita selanjutnya lebih menonjolkan liku-liku
cerita van de Broecks mengungkap affair istrinya dan kemudian
terjebak oleh pesona Kay Chandler, istri dari kekasih gelap istrinya.
Bingung? Jangan! Kay Chandler adalah wanita cantik calon senator partai republik yang
sibuk. Suaminya seorang pengusaha(?). Kehidupan mereka tampak cukup
harmonis. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda ketidakcocokan, tidak
tergambar adanya pertengkaran. Rumah tangga yang biasa saja, tidak
tampak adanya riak-riak yang bisa menjadi benih bagi
ketidakharmonisan. Yang tergambar adalah orang-orang yang sibuk. Maka
Kay Chandler menganggap biasa saja ketika suaminya pamit ke New York
untuk urusan pekerjaan. Sementara itu, di antara kesibukan sebagai polisi, Van de Broeck
digambarkan sebagai polisi yang sibuk di jalanan. Penggambarannya
sederhana tetapi mengena. Secukupnya, sehingga tidak merusak alur
cerita. Diantara kesibukannya, ketika mampir ke minimarket untuk
membeli beberapa kebutuhan harian, ia juga tidak mencermati berita
kecelakaan pesawat yang nantinya justru akan menjadi pokok cerita.
Seperti biasa, sesampai di rumah ia memutar rekaman-rekaman pesan di
teleponnya. Diantara pesan-pesan itu ada juga pesan istrinya yang
mengatakan sedang di bandara untuk pergi ke Miami. Biasa saja, seperti
pesan hari-hari sebelumnya. Mendengar kata istrinya menuju Miami, dan
secara samar-samar berita tentang kecelakaan pesawat yerbang yang
sedang menuju Miami, tiba-tiba ia tersadar. Mungkinkah istrinya ikut
dalam pesawat itu? Ia telepon maskapai penerbangan yang celaka itu dan
diyakinkan bahwa tidak ada nama istrinya dalam daftar manifes
penumpang. Van de Broeck marah, tetapi petugas maskapai penerbangan
keukeuh menyatakan bahwa tidak ada nama istrinya dalam daftar manifes
pesawat. Kepada petugas yang kemudian mendatanginya, ia
memperdengarkan rekaman pesan istrinya. Van de Broeck bicara pelan
tapi tegas:” Kau dengarkan? Istriku tidak pernah bohong!” Mendengar
keyakinan de Broeck, petuga yang ingin menyanggah menjadi tidak enak
hati untuk mengatakan, bahwa mungkin saja istrinya berbohong. Dengan
hormat dan sambil meminta maaf petugas tersebut tetap pada
pendiriannya dengan mengatakan bahwa tidak ada nama Mrs. Van de Broeck
dalam manifes pesawat, tetapi juga berjanji akan memberi kabar bila
ada perkembangan lain. Sementara itu, hasil identifikasi jenasah mendapatkan bahwa salah
seorang korban tewas adalah suami Kay Chandler. Tentu Kay Chandler
menyangka petugas telah salah mengidentifikasi. Suaminya terbang ke
New York, bukan ke Miami. Tetapi petugas kukuh menyatakan bahwa hasil
identifikasi benar. Suami Kay Chandler positif ikut tewas dalam
musibah itu. Meskipun bingung, Kay Chandler datang juga ke rumah sakit
untuk mengidentifikasi jenazah yang diduga suaminya. Ternyata benar.
Sementara itu Van de Broeck juga mengidentifikasi jenasah wanita yang
dalam manifes dinyatakan sebagai Ny. Chandler. Keduanya duduk
bersebelahan, dan dalam tayangan kondisi pesawat yang tenggelam di
danau, keduanya diselamatkan terakhir kali. Keduanya duduk
bersebelahan. Maka mulailah naluri polisi Van de Broeck menyelidiki apa yang
sebenarnya terjadi. Apakah Kay Chandler tahu ada hubungan apa antara
Ny. Broeck dengan suaminya? Sudah berapa lama Kay Chandler tahu? Maka
mulailah Broeck mencekati Kay Chandler untuk mencari tahu hubungan
istrinya dengan Chandler. Ternyata tidak mudah melakukan penyelidikan
melalui Chandler. Chandler ingin mengubur semua pertanyaan-pertanyaan
yang juga ada di benaknya. Baginya semua telah usai, dan ia tidak
ingin membuka lagi luka dengan mencari tahu adakah affair antara
suaminya dengan istri Broeck. Berkat usaha keras dan pantang menyerah
oleh Broeck akhirnya Kay Chandler pun mencoba menyelidiki ada apa
sebenarnya antara suaminya dengan Ny. Broeck. Apalagi gelang indah
yang disangka hadiah untuk ulang tahun putri mereka, dan tersimpan
dalam kopor yang diserahkan oleh petugas maskapai penerbangan ternyata
berisi inisial nama kekasih suaminya itu. Satu demi satu terbuka, dan
menorehkan luka di hati keduanya, baik Broeck maupun Kay Chandler.
Ternyata affair sepasang kekasih itu sudah terjadi lama sekali. Mereka
bahkan punya apartemen di Miami, masing-masing memegang kuncinya.
Maka, pada suatu ketika Broeck dan Kay Chandler ketemu di apartemen
yang disewa sepasang kekasih itu. Keduanya makin dekat satu sama lain
sebagai seorang yang senasib. Kedekatan mereka digambarkan dengan
indah. Mulai dari cumbuan yang menggebu-gebu antara marah bercampur
berahi yang terpendam, sampai adegan percintaan yang romantis di dalam
kabin kecil di tengah hutan ataupun adegan romantis yang samar lewat
ucapan dan kerlingan mata Kay Chandler dan Van de Broeck. Maka lupalah
kita bahwa keduanya adalah orang-orang yang merasa dikhianati. Mereka
kemudian menjadi sepasang kekasih yang saling mendukung dan berani
menunjukkan kedekatan di depan umum meskipun disadari itu bisa
menjatuhkan popularitas Chandler sebagai calon senator. Ketika sang
calon senator ditanya wartawan:”Apakah benar suami anda punya affair
dengan istri sersan Broeck?” Dengan tenang dan jelas Kay Chandler
menjawab:” Ya benar”. Ketika wartawan mencecarnya lagi: “Benarkah Anda
ada hubungan khusus dengan sersan Broeck?”. Dengan lancar Kay
Chandler menjawab: “ Ya benar, dia adalah tipe teman yang
sebenar-benarnya teman. Dia ada ketika saya mebutuhkan seorang teman”.
Dan filmpun berakhir, sementara penonton dibiarkan menebak sendiri
kelanjutannya dengan memegang satu fakta: keduanya terlihat saling
sayang dan saling membutuhkan. Kehebatan film ini terletak pada
penggarapan Sidney Pollack. Kalau anda pernah membaca novelnya, yang
ditulis oleh Warren Adler tahun 1984, jangan bingung dengan profesi
para tokohnya yang berbeda dengan filmnya. Juga anak Kay Chandler yang
dalam film digambarkan sebagai perempuan, dalam novelnya adalah anak
laki-laki. Selebihnya, alur ceritanya sama.
Friday, December 04, 2009
Rama, Sinta, dan Rahwana
nyata. Jelas bahwa tokoh hitam adalah Rahwana, seorang raksasa rakus
yang yang memaksa menculik Sinta untuk diperistri. Dan, Rama adalah
seorang raja tampan bijaksana, kekasih para dewa. Sesungguhnya Rama
adalah juga titisan Dewa Wisnu, sang penguasa jagad.
Mengapa Rahwana menculik dan ingin memperistri Sinta, padahal dia
adalah raja sebuah kerajaan besar. Istri-istrinya adalh wanita-wanita
cantik dari seluruh negeri. Dia juga orang raja yang amat sakti.
Akan halnya Sinta, ia adalah putri raja yang diperistri Rama dari
sebuah lomba mengangkat busur panah pusaka, yang tak seorangpun
manusia mampu menggerakkannya. Bukan hanya mampu mengangkat, iapun
bahkan mematahkan Busur panah pusaka menjadi berkeping-keping. Sinta
adalah perempuan setia yang diculik oleh karena Rahwana percaya bahwa
siapapun yang bisa memperistri Sinta akan menjadi raja agung yang
sangat disegani. Setelah melihat sendiri pesona wanita bernama Sinta,
tekad Rahwana untuk menculik Sinta semakin besar. Ia benar-benar jatuh
cinta pada Sinta. Oleh karena berhadapan muka berperang dengan Rama
pasti ia akan kalah, maka dipakailah tipu daya. Singkat cerita,
Sintapun didapat, dan dikurungnya di dalam istana yang megah. Apapun
yang diinginkan Sinta, pati dikabulkan, asal ia tidak minta
dipulangkan pada Rama. Tidak ada satupun versi yang menceritakan bahwa
Rahwana memaksa, apalagi memperkosa Sinta. Meski berwujud raksasa,
sesungguhnya ia lembut hati. Kekuasaan dan ambisilah yang menjadikan
ia tampak jahat. Yang ia lakukan adalah membujuk Sinta, dengan segala
upaya, agar Sinta mau menjadi istrinya. Seorang dayang ditugaskan
untuk melayani semua kebutuhan Sinta.
Dan Sinta adalah wanita yang lembut hati. Rasa ibanya muncul sedikit
demi sedikit. Ia sadar, kalau Rahwana mau ia bisa memaksanya tanpa
Sinta bisa melawan. Begitulah, sebagai wanita ia juga mulai membuka
diri, terharu oleh kegigihan Rahwana dalam membujuk dan merayunya.
Tampaklah oleh Sinta bahwa Rahwana benar-benar mencintainya. Cara dan
waktunya saja yang salah. Sinta sangat menyadari posisinya sebagai
seorang istri. Kesetiaan ia junjung sangat tinggi hingga sampai detik
terakhir Rama membebaskannya, ia tetaplah istri yang setia. Dengan
bantuan tentara kera yang dipimpin Anoman, Rama dapat kembali merebut
Sinta. Tapi, Rama adalah juga manusia meskipun ia titisan dewa. Ia
meragukan kesucian dan kesetiaan Sinta. Bagaimanapun, Rama tahu bahwa
Rahwana adalah raja yang sangat piawai menaklukkan wanita. Ia khawatir
bahwa istrinya telah dinodai oleh Rahwana. Ia mau menerima Sinta
kembali asalkan Sinta bisa membuktikan dirinya masih suci, belum
dijamah Rahwana. Caranya, Sinta hars sanggup terjun ke dalam api suci.
Ia akan mati terbakar bila memang sudah tidak suci lagi, dan
sebaliknya bila ia masih suci, api tidak akan mampu membakar tubuhnya.
Meski dengan berurai air mata, Sinta dengan tabah menjalani perintah
suaminya. Oleh karena Sinta sesungguhnya tetap setia pada suaminya,
meskipun pesona Rahwana nyaris memikatnya. Dalam salah satu versi,
Sinta sempat menangis berupaya mencegah Rahwana berperang menghadapi
Rama, karena ia tahu bahwa Rahwana pasti akan mati karena tidak
mungk8n menang melawan Rama. Apa jawab Rahwana: "Adindaku Sinta,
terima kasih Adinda mengkhawatirkan aku. Aku bahagia dan akan membawa
rasa bahagiaku ini kepada dewa kematian yang sebentar lagi akan datang
kepadaku. Seluruh tentaraku telah habis dan kini akulah yang harus
menghadapi Rama, suamimu, titisan Dewa Wisnu". Hampir d iluar
kesadarannya sendiri, terbawa rasa haru dan kagum, pada raksasa yang
menculiknya namun tidak pernah berani menyentuh karena kekukuhan
hatinya itu, Sinta berkata: "Baginda raja bisa lari atau berbah wujud
jadi apapun, agar bisa menyelamatkan diri" Rahwana tersenyum kecut. "A
tidak mau hidup hanya untuk Melihat diriku menjadi manusia pengecut
dan egois. Seluruh balatentaraku gugur membela kepentinganku. Aku
tidak ingin mengkhianati mereka". Dan sambil mengucapkan terima kasih
atas perhatian Sinta, Rahwanapun menghadapi Rama, nenjemput
kematiannya sendiri. Itulah terakhir kalinya Sinta melihat Rahwana.
Dan kini, ia harus menerima kenyataan bahwa suami yang sangat ia
cintai, yang sanggup membuatnya menahan segala derita dalam
mempertahankan kesucian dan kesetiaannya, tega menyuruhnya terjun ke
dalam api yang bisa merenggut kematiannya. Sinta mampu melalui ujian
itu, dan keluar dari kobaran api tanpa luka sama sekali. Rama
tersenyum bahagia dan bersiap memeluk istrinya tanda Rama mau menerima
Sinta kembali. Tapi sayang, kobaran api suci memang tidak mampu
melukai kulit mulus Sinta. Hanya hatinya yang tersayat dan tercabik
oleh kecurigaan Rama. Maka, Sintapun menolak direngkuh ke dalam
pelukan Rama. "Kakanda, mohom maaf, cinta adinda telah musnah oleh
kobaran api suci yang membakar adinda tadi. Sinta yang kakanda cintai
telah mati. Yang ada di hadapan Kakanda ini adalah wanita yang jatuh
hina karena direndahkan oleh suaminya sendiri. Mohon pamit Kakanda.
Adinda mohon diri, semoga kelak kita bertemu di Suarga loka" Maka
semestapun menangisi suratan nasib sinta, mengutuk keegoisan Rama.
Mendung mengiringi langkah kaki Sinta sehingga terik sang Surya
terhalang jatuh ke tubuh ringkih Sinta, perempuan yang kukuh pada
kesetiaan dan harga diri yang ditanamnya dalam-dalam di hatinya ...
Thursday, December 03, 2009
Desember 3, 2009
Sampai di bandara belum jam 5 pagi. Jadi, spt biasa, pintu bandarapun bahkan belum dibuka. Di depan pintu serombongan anak muda dari PTS lumayan terkenal sudah antre mau check-in. Agaknya mereka rombongan muhibah seni ke Malaysia, tepatnya ke Melaka. Itu terlihat dari sticker yg dipasang di koper2 mereka.
[Selintas, tiba2 ingat hujan rintik suatu siang 3 oktober 2009 di depan BTC. Pesan pendek barusan kukirim, telling that I should go to J. I spend 3 days 2 night at Dg Pkr, and because there is no chance to met for lunch or just cheat n chat, I decided to go back to J as early as possible. 30 minute was passing by, and still no response).
jam 05.00 barulah pintu masuk dibuka. Aku berderet dalam antrean bersama calon passanger lain. Nggak sampai lima menit aku dapat boarding pass dan tentu saja nomor tempat duduk. Aku minta dekat lorong, dapat nomor 23D. Nyaris bagian ekor.
(Jadi ingat penerbangan Papua-Jakarta, hampir setahun lalu. Di bangku paling belakang pesawat MD90 Lion, pemandangan di sebelah kiri adalah mesin jet)
Terlihat rombongan penumpang mulai masuk ke ruang tunggu dalam Aku ikut rombongan, antre masuk bersama penumpang yg didominasi rombongan muhibah seni tadi.
(45 minutes just passed by, and still no response)
Saat ini aku sdh di bangku 23d. Berita dari Ibr, hari ini DitProvPen ketemuan utk koordinasi di Millenium.
Nyaris setengah penerbangan aku terkantuk2. Tidak enaknya pakai Garuda untuk penerbangan pendek adalah terpaksa bangun untuk menerima kotak snack dan tawaran minum. Memang, bisa saja aku tersin tidur, tapi suara penumpang sebelah saat ditawari minum atau menerima snack, cukup membuatku terbangun. Kadang, kalau tidak tidur, saat di pesawat spt sekarang aku gunakan untuk melamun. Ya, karena lebih sering aku terbang sendiri.
'
Seingatku, selain dg Ido dan Mamanya, aku hanya 4 kali terbang bersebelahan dg teman yang kukenal, yaitu penerbangan CKG-PNK, GTO-CGK, CKG-Pap-CKG, dan Pap-CKG. Selebihnya, sendirian.
(Still no response, so I send another message, telling that I already have arrive at J. Well I guess, she wouldn't response too..)
Saturday, November 28, 2009
Gedung Sate
Peletakan batu pertama pembangunan komplek
Gedung Sate pada tanggal 27 Juli 1920Gedung Sate dibangun pada tahun 1920-1924 di Wilhelmina Boulevard (Sekarang Jalan Diponegoro), peletakan batu pertama oleh Nona Johana Catherina Coops, puteri sulung Walikota Bandung B.Coops dan Nona Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jendral Hindia Belanda di Batavia.
Batu-batu dari Ujung Berung diangkut dengan
menggunakan lori dan kereta gantung.Gedung Sate merupakan karya monumental dari arsitek Ir Gerber. Gaya arsitekturnya merupakan perpaduan langgam arsitektur tradisional Indonesia dan teknik konstruksi Barat, sehingga disebut Indo Eropeesche Architectuur StiiJln. Arsitektur Gedung Sate merupakan perpaduan antara gaya arsitektur Italia dan Moor dari zaman Renaissance dengan gaya arsitektur Hindu dan Islam .
Ornamen enam tiang dengan bulatan berbentuk mirip tusuk sate ditempatkan pada puncak atap tumpak, sebagai lambang biaya pembangunan Gedung Sate sebesar Rp.6000.000 gulden.
Tempoe Doeloe gedung ini disebut Gouvernements Bedrijven (GB). Gedung ini kemudian disebut dengan Gedung Sate berdasarkan bentuk ornamen pada puncak atap tumpak tersebut yang terdiri dari 6 buah yang berbentuk seperti tusuk sate. Gedung Sate sekarang menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat.
by : Sudarsono katam /Lulus Abadi
Bandung tempo dulu. Entah kenapa mendengar kata Bandung terasa ada lonceng berdentang di dalam hatiku. Padahal, aku bukanlah orang Bandung, juga bukan orang yang besar atau menghabiskan waktu lama di Bandung. Hanya 3 bulan di tahun 1983, 2 bulan di tahun 1992, dan beberapa kali singgah di Bandung untuk rapat ataupun kegiatan lain terkait pekerjaanku. Rasanya memang ada sesuatu antara aku dan Bandung. Dejavu....
Tie the yellow ribbons ....
I’ve done my time And I have to know what is or isn’t mine
If you received my letter telling you I’d soon be free
Then you’d know just what to do
If you still want me
If you still want me
Oh tie a yellow ribbon
‘Round the old oak tree It’s been three long years
Do you still want me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
Bus driver please look for me ‘Cause I couldn’t bare to see what I might see
I’m really still in prison And my love she holds the key
A simple yellow ribbon’s all I need to set me free
I wrote and told her please
Oh tie a yellow ribbon ‘Round the old oak tree It’s been three long years
Do you still want me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
I’ll stay on the bus, forget about us
Put the blame on me If I don’t see a yellow ribbon ‘Round the old oak tree
Now the whole damn bus is cheering And I can’t believe
I see A hundred yellow ribbons ‘Round the old, the old oak tree
Tie a ribbon ’round the old oak tree…
Saturday, November 14, 2009
Dua bulan terakhir ini kegiatan2 terkait BERMUTU mulai berjalan lagi. Selintas yang teringat adalah sbb:
- Pertemuan di Sahid Jaya Solo, mereview dan mem-validasi modul untuk KKKS dan KKPS. Baru tahu kalau modul manajemen (itu istilah tim lama untuk modul KKKS dan KKPS) telah beruabh total dari modul yang dibuat dibawah koordinasi Bu MS dan Bu PP. Di bawah YP modul berubah total.
- Sebelum itu ada pertemuan2 di PItagiri. Untuk pertama kalinya baru tahu kalau NCT bentukan tahun lalu masih ilegal karena tak ada SK. Saat itulah tim lama mulai bertemu dengan tin dari ProfPen dan Tendik (ada MW, DW, dan YP)
- Dari Pitagiri pula tahu bahwa ada tagihan2 yang perlu dicermati. YP punya tim baru untuk mengembangkan modul KKKS dan KKPS.
- Lalu ada pertemuan agak luas dengan tim pengembang modul KKG dan MGMP. Ada W di sana, dan mulailah diidentifikasi modul-modul suplemen yang diperlukan.
- Rencana yang disepakati di Pitagiri, yakni pembentukan tim-tim dengan tugas mengembangkan masing-masing modul suplemen, pada akhirnya tidak ditindaklanjuti. Muncul rumor akan direkrut konsultan untuk menyelesaikan modul-modul suplemen itu
- Bersama Ib dan Sal sempat terlibat workshop di Pramesthi, Puncak, untuk menyelesaikan modul-modul suplemen oleh P4TK Bahasa.
- Pramesthi, Permata, dan Sahid Jaya, pindah-pindah dalam 5 hari bekerja.
- Mengisi Workshop PCT (25-10-09) dan DCT (31-10-09) di The Sunan Hotel.
- Sejak Oktober, kembali menjadi konsultan jangka pendek di Bindiklat, sampai Desember.
Friday, September 11, 2009
Hal lain, hari ini aku hanya pindah tempat, dari Acc ke Shd Sudirman. Untuk program yang payungnya sama cuma segmennya berbeda. Ini komunitas tempat aku lebih duu terlibat, jadi anggap saja hiburan. Masih harus di J sampai Minggu sore. Mudah-mudahan ini kegiatan terakhir sebelum Idul Fitri.....
Tuesday, August 25, 2009
Sunday, August 16, 2009
Tanggal 11 Februari 2009, setelah ditunda 10 hari dari waktu seharusnya, akhirnya jadi juga mengisi Widya Telewicara (Video Teleconference). Aku sendiri ada di Gedung Depdiknas Senayan. Kuliah umum itu diikuti oleh 23 LPTK peserta konsorsium PJJ S-1 PGSD se Indonesia. Makalah dan bahan presentasi ada di sini.
Tanggal 20 Juni 2009, mempresentasikan makalah pada Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009 yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Jl. Kaliurang km 14,5 Yogyakarta. Makalahnya aku upload di sini.
Tanggal 4 Agustus 2009, mempresentasikan makalah pada Conference on Information Technology and Electrical Engineering (CITEE) 2009 di Jurusan Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Berikut ini link makalahnya.
Tanggal 13-14 Agustus 2009, menjadi narasumber kegiatan Workshop Evaluasi Penyelenggaraan ICT-based Learning bagi SMA/SMK yang diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Jl. Prof. Dr. Hamka No. 15 Semarang. Berikut ini link makalah dan slide presentasinya.
Tanggal 19 Agustus 2009, menjadi narasumber untuk kegiatan Workshop Pengembangan E-Learning Program Pengembangan Guru MIPA Bertaraf Internasional Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Yogyakarta. Makalah dan slide presentasinya bisa diunduh di sini.
Wednesday, July 01, 2009
Sorenya sudah sendirian lagi di hotel, sampai pagi ini. Rencana ke SUB pakai trv Karina jam 12.00 dan ke SRG dengan SJ jam 18.30.
Hari kedua ketemu dengan Kepsek dan melihat ICT Center di SMK4. Sempat makan siang di D'cost. Masih sempat nge-mie di Naripan. Sejak sore itu free. Sempat ke BTC, mie kocok, W, dan Drag me to the Hell. Pulangnya beli brownies. Pulang ke JOG dengan Lodaya pagi jam 08.00 dari Kebonkawung. Sampai di JOG sudah jam 17.00. Esok harinya (Jumat) ngajak Ido ke Amplaz, dan malamnya balik ke SRG, karena Minggu harus ke SUB untuk monev di UM.
Monday, June 15, 2009
Hari berikutnya (120609) ke Kab. Boalemo, mengunjungi SDN 1 Tilamuta, SDN 12 Tilamuta, dan ICT Center yg ada di Dinas Pendidikan Kab Boalemo. Pulang ke hotel (Megazanur, Jl. A Yani GTO) sdh menjelang petang, karena sempat mampir ke rmh ibu GA yg ayahnya meninggal hari itu. Aku sempat pula, setelah para pengantar pulang, ke Pasar Tua, membeli dua kain krawang. Aku tulis ini di terminal 3 bandara soetta menunggu waktu check-in mandala ke SRG yg rencananya takeoff jam 14.00. (Karena kesulitan mem-post-kannya ke blogspot, aku pindahin melalui IR ke laptop dan kupublish ke blogspot hari Senin, di ruang dosen).
Friday, April 24, 2009
Pangrango 2, Bogor PJJ PGSD (12-14 April 09)
PGSD Workshop (16-17 April 2009)
Inna Garuda Yogyakarta PJJ PGSD (18-20 April 09)
Inna Grand Bali Beach BERMUTU (21-22 April)
Universitas Negeri Malang ICT PHK-I, Edohotel Jl. Surabaya No. 1, Enny Guest House Jl. Taman Wilis(23-24 April 09)
Juga kedukaan: setelah beberapa kali ke RSPC sejak jatuh di kamar mandi, Eyang Kung Cilacap meninggal dunia 13 April 2009. Hari berikutnya baru aku bisa ke Cilacap dengan menempuh rute Bogor-Jakarta-Jogyakarta-Cilacap.
Sunday, February 01, 2009
Banana Inn (Bandung
Aston Marina Apartment (Jakarta)
Provence (Bandung)
Twin Plaza Hotel (Jakarta)
Bintang Griya Wisata (Jakarta)
Ciputra (Jakarta)
Hotel Mega Anggrek (Jakarta)
Spark (Mangga Besar, Jakarta)
Menara Peninsula Hotel (Jakarta)
Millenium Sirih (Jakarta)
Hotel Bidakara (Jakarta)
Hotel Sultan (Jakarta)
Hotel Century Atlet (Jakarta)
Sempur Park Hotel (Bogor)
Pangrango I (Bogor)
Pangrango II (Bogor)
Inna Garuda Hotel (Jogjakarta)
Hotel Saphir (Jogjakarta)
Hotel Nidya (Pierre Tendean, Jogjakarta)
Hotel Inna Veteran (Denpasar, Bali)
Hotel Palm (Banjarmasin)
Hotel Peony (Pontianak)
Hotel Orchadz (Pontianak)
Hotel Pusako (Bukittinggi)
Grand Kartika (Pontianak)
Inna Dharma Deli (Medan)
Apartemen Sejahtera? (Ciumbelueit, Bandung)
Hotel Clarion (Makassar)
Kota:
Medan
Padang
Jakarta
Bandung
Bogor
Pontianak
Banjarmasin
Makassar
Denpasar
Jayapura
Bogor
Tuesday, January 20, 2009
Semingguan kemarin (12-17 Januari 2009) aku dan tim bu PP ngadain pelatihan ICT plus penelitian pada wanita nelayan Gunungkidul. Peserta pelatihan sekaligus subyek penelitian adalah wanita nelayan pantai Baron. Dimulai dengan TOT untuk guru (kebetulan aku masih punya akses ke guru-guru GK yang pernah aku latih ICT di Unnes) dan memilih 4 dari 20 untuk membantu mendampingi pelatihan ke ibu-ibu nelayan. Asyik sih, nggak nyangka lebih mudah ngajarin ibu-ibu nelayan daripada pengalaman mengajari mahasiswa S2 sembilan tahun yang lalu.
Jadi, seminggu itu aku dua kali ikut ke pantai Baron, sekedar melihat pantai dan makan kepiting asam manis.
Minggu (18 Januari) baru aku balik Semarang setelah semalam menginap di Jakal.
Senin memulai rutinitas baru di Semarang dan Yogya bolah-balik.
Tuesday, January 13, 2009
Senin, 12 Januari, bertiga kami ke dusun Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul untuk mendatangi kantor Kepdes dan melihat kondisi pantai Baron, Drini, Krakal, dll.
Saat ini, 13 Januari, berempat (PP, HRW, BAS, TUT) kami ada di SMKN 2 Wonosari untuk melakukan TOT kepada 20 orang guru (yang datang hanya 18). Selanjutnya dari 18 itu akan diambil 4 orang untuk mendampingi tim melatih ibi-ibu nelayan.
Hari ini juga ada kabar acara tanggal 15 di Jakarta batal. Jadi tangal 15 aku nggak jadi ke Jakarta!!!
Sunday, December 21, 2008
Selepas Padang, aku ngantor sehari di Senayan. (HMA-MTA-MD-TPH-Grg tak perlu aku ceritakan di sini). Berikutnya penugasan ke Papua, untuk pekerjaan yang sama dengan di Padang. Ok, aku berangkat dari SRG jam 17.00 untuk ganti pesawat di CKG dan menuju DJJ jam 21.15 nanti. Ini adalah perjalanan panjang selama bertugas di Bindiklat maupun PJJ. Rute CKG-UPG-Biak-DJJ ditempuh nyaris 8 jam. Kami sampai bandara Sentani ketika jam sudah menunjukkan 07.30 WITA. Berempat dengan sopir, kami menuju LPMP Jayapura, tempat pertemuan diselenggarakan. Bertiga kami menempati salah satu rumah dinas. Mandi, berganti baju, kemudian menemui Ka LPMP, dan dilanjutkan dengan presentasi sampai jam 15.00. Acara ditutup 16.00, lalu kami istirahat sebentar, karena berencana keliling kota malam ini.
Sama seperti kota-kota lain, Jayapura juga kenal macet dan lalu lintas cukup padat sepanjang jalan Skyline, Angkasa, terus berhenti di Dok Dua, sekitar Swiss Belhotel. Sempat melihat-lihat batik tapi tak berminat membeli barang sepotongpun (ada artis psikolog TB yang juga pas sedang cari batik di sana). Makan malam di Dok Dua, berkeliling naik ke Lembah Sunyi, lantas pulang ke LPMP. Hm .. malam yang mengesankan malah kurasakan di sepi malam, di rumah dinas LPMP. Jadi .... ini benar Jayapura!
Tugas. Hanya itu yang terlintas. Sebenarnya malam itu, Kamis 4 Desember harusnya aku sudah menuju ke sana langsung dari Bandara CGK. Saat itu sedang menunggu boarding ketika telepon dari Pp mengharapkan aku tak usah balik Semarang tetapi langsung saja ke Padang. Aku, tentu saja, keberatan. Beres. Nggak nyangka kalau kemudian ketika pesawat landing dan ponsel aku buka, tawaran datang lagi. Pilih satu hari antara 9 - 11 Desember. Setelah itu datang telepon silih berganti: MA, rumah, Pp. Ok, aku setuju pilih tanggal 9. Maka tanggal 9 itu aku berangkat ke Padang. dari SRG aku berangkat pagi. Setelah menunggu transit di CGK aku pindah penerbangan ke Padang. Tengah hari aku sampai. Dijemput orang LPMP, kami menuju kantor LPMP yang terletak di dalam kampus UNP. Berbasa-basi sebentar, kami kemudian meluncur ke hotel Pusako di Bukittinggi, 3 jam perjalanan dari Padang.
Di sana, aku sendirian presentasi malam sampai jam 22.00 lalu dilanjutkan pagi sampai jam 09.00 karena siang itu juga, dengan BTV aku harus ke Jakarta. Ada yang menunggu sehingga aku bergegas. Esok hari aku harus ngantor lagi di Senayan.
Alih-alih ke HMA, aku pesan tempat di TPH, suite 506. (Lintasan HMA-MTA-MD-TPH adalah bagian penting dari perjalanan Padang ini).
Pagi kembali ngantor ke Senayan. Tugas berikutnya adalah ke Papua, bertiga dengan N dan EW, 16 - 18 Desember 2008.
Monday, December 08, 2008
Bagaimanapun kudu-harus mau nggak mau diterima. Nggak puas sih, karena hampir semua anggota tim pengembang level nasional merasa masih banyak yang bisa dibenahi sebelum panduan dicetak skala besar.
Sementara itu, aktivitas sebagai konsultan juga mendekati minggu-minggu terakhir. Canda dan humor kawan-kawan sesama konsultan (dan juga dengan staf administrasi) rasanya masih akan terkenang lama.
Tanggal 4 aku masih menyempatkan diri ke kantor di S dan berencana cabut ke SRG sore itu juga. EW juga punya rencana yang sama. Ia harus segera ke Bdg, katanya ada yang harus diselesaikan di kantor. Tiket untuk terbang jam 17.15 sudah di tangan.
Mengenai tiket ini, ada lucunya juga. Entah gimana, aku begitu yakin bahwa tiket (tepatnya kode booking!) yang aku pegang adalah kode booking Garuda. maka dengan penuh keyakinan aku tunjukan kode booking, GFF, dan KTP untuk cetak tiket di counter yang mbak-nya cantik-cantik itu. Sudah ada rasa nggak enak ketika si-mbak bilang bahwa kode tiketnya kok salah. Aku yakin bilang: "coba di search lewat nama saja mbak! Mbaknya nurut. Tapi rupanya nggak ketemu juga. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku ngomong saja ke mbaknya:" Biar aku tanya yang ngurus tiket dulu mbak". Dan GFF + KTP + kertas berisi kode booking itu aku bawa lagi. Nelpon Dwi, yang juga bingung, tapi kemudian menjawab: Iya, ketika kutanya: "Apa tiketku Mandala?".
Maka aku panggillah taksi menuju terminalnya Mandala.
Benar, tiket bisa kucetak di counter Mandala.
Setelah check-in, masuk ke ruang tunggu, nah-kan ketahuan. Penerbangan di-delay. Ini delay yang kayaknya menjadi rutin. Tapi biarlah. Telpon dan SMS-an, lantas duduk manis. Sempat ngobrol dengan teman dari Unnes yang ketemu di ruang tunggu (pak E, dari FIS, dan dua ibu yang namanya aku belum ingat).
Pas pesawat hampir boarding, datang telepon. "Pak bisa nggak kalau langsung ke Padang, nggak usah ke Semarang. Kalau bisa langsung saja beli tiket untuk penerbangan ke Padang malam ini". Wah, gimana? Ya nggak-lah. Lagi, mau disuruh presentasi apa juga masih gelap. Maka dengan meminta maaf, permintaan itu aku tolak.
Aku boarding, pesawat take-off, dan sejam kemudian aku sudah di atas taxi menuju selatan kota semarang. Di bangku belakang taxi mulai aku aktifkan ponsel-ku satu persatu. Rupanya, ada sms yang terkirim beberapa saat setelah pesawat take off. Isinya menanyakan kemungkinan berangkat ke Padang tanggal 9 - 11. Setelah telepon rumah bolak-balik (dan rumah juga bilang telah dihubungi pak MAK, aku telepon balik pengirim SMS. Tanya acara sekaligus jadwal. Ok, clear. Selasa pagi sampai Rabu pagi di Padang (Bukittinggi, tepatnya), Rabu siang balik Jakarta sampai Jum'at. Itu adalah hari teakhir menjadi konsultan. Tahun depan? Wallahualam. Disertasi sudah harus diselesaikan.