Monday, June 15, 2009
Hari berikutnya (120609) ke Kab. Boalemo, mengunjungi SDN 1 Tilamuta, SDN 12 Tilamuta, dan ICT Center yg ada di Dinas Pendidikan Kab Boalemo. Pulang ke hotel (Megazanur, Jl. A Yani GTO) sdh menjelang petang, karena sempat mampir ke rmh ibu GA yg ayahnya meninggal hari itu. Aku sempat pula, setelah para pengantar pulang, ke Pasar Tua, membeli dua kain krawang. Aku tulis ini di terminal 3 bandara soetta menunggu waktu check-in mandala ke SRG yg rencananya takeoff jam 14.00. (Karena kesulitan mem-post-kannya ke blogspot, aku pindahin melalui IR ke laptop dan kupublish ke blogspot hari Senin, di ruang dosen).
Friday, April 24, 2009
Pangrango 2, Bogor PJJ PGSD (12-14 April 09)
PGSD Workshop (16-17 April 2009)
Inna Garuda Yogyakarta PJJ PGSD (18-20 April 09)
Inna Grand Bali Beach BERMUTU (21-22 April)
Universitas Negeri Malang ICT PHK-I, Edohotel Jl. Surabaya No. 1, Enny Guest House Jl. Taman Wilis(23-24 April 09)
Juga kedukaan: setelah beberapa kali ke RSPC sejak jatuh di kamar mandi, Eyang Kung Cilacap meninggal dunia 13 April 2009. Hari berikutnya baru aku bisa ke Cilacap dengan menempuh rute Bogor-Jakarta-Jogyakarta-Cilacap.
Sunday, February 01, 2009
Banana Inn (Bandung
Aston Marina Apartment (Jakarta)
Provence (Bandung)
Twin Plaza Hotel (Jakarta)
Bintang Griya Wisata (Jakarta)
Ciputra (Jakarta)
Hotel Mega Anggrek (Jakarta)
Spark (Mangga Besar, Jakarta)
Menara Peninsula Hotel (Jakarta)
Millenium Sirih (Jakarta)
Hotel Bidakara (Jakarta)
Hotel Sultan (Jakarta)
Hotel Century Atlet (Jakarta)
Sempur Park Hotel (Bogor)
Pangrango I (Bogor)
Pangrango II (Bogor)
Inna Garuda Hotel (Jogjakarta)
Hotel Saphir (Jogjakarta)
Hotel Nidya (Pierre Tendean, Jogjakarta)
Hotel Inna Veteran (Denpasar, Bali)
Hotel Palm (Banjarmasin)
Hotel Peony (Pontianak)
Hotel Orchadz (Pontianak)
Hotel Pusako (Bukittinggi)
Grand Kartika (Pontianak)
Inna Dharma Deli (Medan)
Apartemen Sejahtera? (Ciumbelueit, Bandung)
Hotel Clarion (Makassar)
Kota:
Medan
Padang
Jakarta
Bandung
Bogor
Pontianak
Banjarmasin
Makassar
Denpasar
Jayapura
Bogor
Tuesday, January 20, 2009
Semingguan kemarin (12-17 Januari 2009) aku dan tim bu PP ngadain pelatihan ICT plus penelitian pada wanita nelayan Gunungkidul. Peserta pelatihan sekaligus subyek penelitian adalah wanita nelayan pantai Baron. Dimulai dengan TOT untuk guru (kebetulan aku masih punya akses ke guru-guru GK yang pernah aku latih ICT di Unnes) dan memilih 4 dari 20 untuk membantu mendampingi pelatihan ke ibu-ibu nelayan. Asyik sih, nggak nyangka lebih mudah ngajarin ibu-ibu nelayan daripada pengalaman mengajari mahasiswa S2 sembilan tahun yang lalu.
Jadi, seminggu itu aku dua kali ikut ke pantai Baron, sekedar melihat pantai dan makan kepiting asam manis.
Minggu (18 Januari) baru aku balik Semarang setelah semalam menginap di Jakal.
Senin memulai rutinitas baru di Semarang dan Yogya bolah-balik.
Tuesday, January 13, 2009
Senin, 12 Januari, bertiga kami ke dusun Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul untuk mendatangi kantor Kepdes dan melihat kondisi pantai Baron, Drini, Krakal, dll.
Saat ini, 13 Januari, berempat (PP, HRW, BAS, TUT) kami ada di SMKN 2 Wonosari untuk melakukan TOT kepada 20 orang guru (yang datang hanya 18). Selanjutnya dari 18 itu akan diambil 4 orang untuk mendampingi tim melatih ibi-ibu nelayan.
Hari ini juga ada kabar acara tanggal 15 di Jakarta batal. Jadi tangal 15 aku nggak jadi ke Jakarta!!!
Sunday, December 21, 2008
Selepas Padang, aku ngantor sehari di Senayan. (HMA-MTA-MD-TPH-Grg tak perlu aku ceritakan di sini). Berikutnya penugasan ke Papua, untuk pekerjaan yang sama dengan di Padang. Ok, aku berangkat dari SRG jam 17.00 untuk ganti pesawat di CKG dan menuju DJJ jam 21.15 nanti. Ini adalah perjalanan panjang selama bertugas di Bindiklat maupun PJJ. Rute CKG-UPG-Biak-DJJ ditempuh nyaris 8 jam. Kami sampai bandara Sentani ketika jam sudah menunjukkan 07.30 WITA. Berempat dengan sopir, kami menuju LPMP Jayapura, tempat pertemuan diselenggarakan. Bertiga kami menempati salah satu rumah dinas. Mandi, berganti baju, kemudian menemui Ka LPMP, dan dilanjutkan dengan presentasi sampai jam 15.00. Acara ditutup 16.00, lalu kami istirahat sebentar, karena berencana keliling kota malam ini.
Sama seperti kota-kota lain, Jayapura juga kenal macet dan lalu lintas cukup padat sepanjang jalan Skyline, Angkasa, terus berhenti di Dok Dua, sekitar Swiss Belhotel. Sempat melihat-lihat batik tapi tak berminat membeli barang sepotongpun (ada artis psikolog TB yang juga pas sedang cari batik di sana). Makan malam di Dok Dua, berkeliling naik ke Lembah Sunyi, lantas pulang ke LPMP. Hm .. malam yang mengesankan malah kurasakan di sepi malam, di rumah dinas LPMP. Jadi .... ini benar Jayapura!
Tugas. Hanya itu yang terlintas. Sebenarnya malam itu, Kamis 4 Desember harusnya aku sudah menuju ke sana langsung dari Bandara CGK. Saat itu sedang menunggu boarding ketika telepon dari Pp mengharapkan aku tak usah balik Semarang tetapi langsung saja ke Padang. Aku, tentu saja, keberatan. Beres. Nggak nyangka kalau kemudian ketika pesawat landing dan ponsel aku buka, tawaran datang lagi. Pilih satu hari antara 9 - 11 Desember. Setelah itu datang telepon silih berganti: MA, rumah, Pp. Ok, aku setuju pilih tanggal 9. Maka tanggal 9 itu aku berangkat ke Padang. dari SRG aku berangkat pagi. Setelah menunggu transit di CGK aku pindah penerbangan ke Padang. Tengah hari aku sampai. Dijemput orang LPMP, kami menuju kantor LPMP yang terletak di dalam kampus UNP. Berbasa-basi sebentar, kami kemudian meluncur ke hotel Pusako di Bukittinggi, 3 jam perjalanan dari Padang.
Di sana, aku sendirian presentasi malam sampai jam 22.00 lalu dilanjutkan pagi sampai jam 09.00 karena siang itu juga, dengan BTV aku harus ke Jakarta. Ada yang menunggu sehingga aku bergegas. Esok hari aku harus ngantor lagi di Senayan.
Alih-alih ke HMA, aku pesan tempat di TPH, suite 506. (Lintasan HMA-MTA-MD-TPH adalah bagian penting dari perjalanan Padang ini).
Pagi kembali ngantor ke Senayan. Tugas berikutnya adalah ke Papua, bertiga dengan N dan EW, 16 - 18 Desember 2008.
Monday, December 08, 2008
Bagaimanapun kudu-harus mau nggak mau diterima. Nggak puas sih, karena hampir semua anggota tim pengembang level nasional merasa masih banyak yang bisa dibenahi sebelum panduan dicetak skala besar.
Sementara itu, aktivitas sebagai konsultan juga mendekati minggu-minggu terakhir. Canda dan humor kawan-kawan sesama konsultan (dan juga dengan staf administrasi) rasanya masih akan terkenang lama.
Tanggal 4 aku masih menyempatkan diri ke kantor di S dan berencana cabut ke SRG sore itu juga. EW juga punya rencana yang sama. Ia harus segera ke Bdg, katanya ada yang harus diselesaikan di kantor. Tiket untuk terbang jam 17.15 sudah di tangan.
Mengenai tiket ini, ada lucunya juga. Entah gimana, aku begitu yakin bahwa tiket (tepatnya kode booking!) yang aku pegang adalah kode booking Garuda. maka dengan penuh keyakinan aku tunjukan kode booking, GFF, dan KTP untuk cetak tiket di counter yang mbak-nya cantik-cantik itu. Sudah ada rasa nggak enak ketika si-mbak bilang bahwa kode tiketnya kok salah. Aku yakin bilang: "coba di search lewat nama saja mbak! Mbaknya nurut. Tapi rupanya nggak ketemu juga. Tiba-tiba aku ingat sesuatu. Aku ngomong saja ke mbaknya:" Biar aku tanya yang ngurus tiket dulu mbak". Dan GFF + KTP + kertas berisi kode booking itu aku bawa lagi. Nelpon Dwi, yang juga bingung, tapi kemudian menjawab: Iya, ketika kutanya: "Apa tiketku Mandala?".
Maka aku panggillah taksi menuju terminalnya Mandala.
Benar, tiket bisa kucetak di counter Mandala.
Setelah check-in, masuk ke ruang tunggu, nah-kan ketahuan. Penerbangan di-delay. Ini delay yang kayaknya menjadi rutin. Tapi biarlah. Telpon dan SMS-an, lantas duduk manis. Sempat ngobrol dengan teman dari Unnes yang ketemu di ruang tunggu (pak E, dari FIS, dan dua ibu yang namanya aku belum ingat).
Pas pesawat hampir boarding, datang telepon. "Pak bisa nggak kalau langsung ke Padang, nggak usah ke Semarang. Kalau bisa langsung saja beli tiket untuk penerbangan ke Padang malam ini". Wah, gimana? Ya nggak-lah. Lagi, mau disuruh presentasi apa juga masih gelap. Maka dengan meminta maaf, permintaan itu aku tolak.
Aku boarding, pesawat take-off, dan sejam kemudian aku sudah di atas taxi menuju selatan kota semarang. Di bangku belakang taxi mulai aku aktifkan ponsel-ku satu persatu. Rupanya, ada sms yang terkirim beberapa saat setelah pesawat take off. Isinya menanyakan kemungkinan berangkat ke Padang tanggal 9 - 11. Setelah telepon rumah bolak-balik (dan rumah juga bilang telah dihubungi pak MAK, aku telepon balik pengirim SMS. Tanya acara sekaligus jadwal. Ok, clear. Selasa pagi sampai Rabu pagi di Padang (Bukittinggi, tepatnya), Rabu siang balik Jakarta sampai Jum'at. Itu adalah hari teakhir menjadi konsultan. Tahun depan? Wallahualam. Disertasi sudah harus diselesaikan.
Tuesday, October 28, 2008
(grand_kartika@yahoo.com)
Jl. Rahadi Oesman No.2
Pontianak Kalimantan Barat
Tepi Sungai Kapuas 25 Oktober 2008
kamarnya sih sangat biasa, cenderung tua dan kurang nyaman. Bahkan, anak kecoa kecil berlarian di lantai kamar mandi. Tetapi, letaknya yang persis di tepian sungai Kapuas benar-benar menawarkan suasana yang berbeda, lebih romantis daripada hotel Orchadz yang ada di Jalan Gadjahmada.
Tiba di hotel dari Bandara Supadio, dalam rintik hujan bulan Oktober, jam sudah menunjukkan pukul 20.15 WIB. Air hujan yang terus jatuh menambah genangan di sana-sini. Juga di atas jajaran conblok di lahan parkit hotel.
Beberapa men Meski gelap malam, dan lampu-lampu bandara hany abersinar temaram, genangan air cukup jelas terlihat lewat pantulan lampu mobil yang berjalan pelan membelah malam, mencari rumah makan.
Perut sudah kosong.
Bakso Malang 'Oasis' di Bandara Soeta tidak bertahan lama menangsal isi perut. Aku tidak tahu kemana kami akan menuju, lantaran pak HK yang menjemput dan mengantarku hanya bertanya:"Pak Hari mau seafood atau apa?". Aku jawab "Seafood juga oke, asal bukan kepiting porsi besar!". Kepiting saus lada hitam versi porsi besar itu aku temui ketika makan di Pantai Kakap Indah bulan Juni lalu.
Di sebuah bangunan besar dan gelap kami berputar dan berhenti di sudutnya. Lampunya cukup terang, kontras dengan kegelapan bangunan besar di sebelahnya, yang aku tahu adalah sebuah Museum. Nama rumah makannya 'Handayani'. Jawa banget!. Menunya standar, ikan dan ayam dengan berbagai variasi cara pengolahan.
Pilihan konvensional aku, karena adanya juga itu-itu saja, cumi saus padang dan taoge polos (sebetulnya cah taoge). Lalu pak HK menambah menu: ikan kakap merah bakar.
Di tengah makan, datang pak RF, dosen FKIP Untanpura yang juga Direktur STKIP Melawi (650 km dari Pontianak. Lalu kamipun terlibat dalam perbincangan hangat sekitar kebijakan pemerintah dalam meng-S1-kan sekitar 1,4 juta guru yang harus selesai sebelum 2015.
Selesai makan, aku dan pak HK mampir di Jalan Gadjahmada, menikmati beberapa buah durian.
Dan di sinilah akau sekarang. Resto Hotel Grand Kartika, di dekat kapal besar yang sedang bersandar (nama kapalnya: Balam!, melayu banget! Tanya orang Jakarta, berapa banyak yang tahu arti kata balam.)
dari percakapan dengan rombongan Depdagri yang sedang mengedakan pelatihan di PNK ini, tepi sungai sebelah hotel ini adalah juga pelabuhan kapal, yang antara lain menuju ke Jawa. Amboi !!
Saturday, October 25, 2008
9 - 11 Oktober finalisasi Panduan Belajar BERMUTU di Wisma Handayani Cipete Jaksel. Di akhir program ada bisik-bisik undangan ke Lt 15 (PMPTK Senayan) untuk rekruitmen konsultan BERMUTU. Jadi, sore 11 okt pulang, di rumah sampai 13 pagi, jam 06.10 balik ke jakarta lagi.
13 Oktober, pengarahan dan rapat tentang konsultan modul BERMUTU bersama 25 orang lainnya. Aku kebagian peran jadi konsultan ICT. Harus segera minta ijin rektor (#@$%^^&??!!).
22 - 24 Oktober, hadir sebagai konsultan sekaligus mengikuti validasi modul BERMUTU di Wisma Handayani. Pagi 22 mampir dulu ke PMPTK, pengarahan oleh koordinator, siangnya cabut ke Wisma Handayani mengikuti acara validasi modul. Jum'at 24 menjelang siang balik ke Senayan, mulai kerja. Jam 15-an ke Bandara untuk langsung ke Pontianak.
24 malam sampai 25 pagi di Pontianak. Rencana setelah Subuh, 16 Oktober, mau ke Singkawang. Acara: Monev PJJ PGSD.
Thursday, September 25, 2008
Ini catatan-catatan kegiatan. Singkat karena aku tidak punya banyak waktu untuk nulis.
8 - 11 September, kami (tim naional pengembang panduan BERMUTU) ketemu lagi untuk menyelesaikan WS. Kali ini di P4TK Bahasa di Srengseng Sawah.
12 - 13 September, sebagai bagian dari tim PJJ PGSD kami ketemu di Menara Peninsula untuk menyelesaikan Laporan Monitoring dan Evaluasi. Aku sendiri (dan LK) kebagian tugas di Pontianak beberapa bulan yl.
13 - 15 September, dari Menara Peninsula cuma pindah ke Millenium Sirih untuk menyusun panduan-panduan. Aku dan SH kebagian panduan penyusunan bahan ajar berbasis web.
22 - 25 September, menyelesaikan lagi kerjaan BERMUTU. Janjinya akan ada ketemuan lagi besok tanggal 8 10 Oktober. Di hotel Century Atlet ini malam-malam ketemu rombongan Unnes: AW, FR, HS, SPR, dan dua orang lagi yang belum aku kenal.
Wednesday, September 10, 2008
1965-1980
Tinggal di rumah kelahiran, desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Sesungguhnya ini rumah Nenek (Suharmini, 1912-1992?). Bapak dan Ibu (Kadarroesman dan Sabarwati) hanya nebeng sampai ketiga (sesungguhnya 5, meninggal ketika masih kecil 1, dan meninggal di kandungan 1, keduanya laki-laki) anaknya lahir dan besar. Setidaknya sampai aku bisa mengingat, di rumah Mejobo itu ada tinggal: Buyut (meninggal 1972), Nenek (meninggal 1992), Bapak (meninggal 1975), Ibu, Mbak Pur (meninggal bulan Puasa 2007), Aku, Priyo, Osman.
Aku sekolah di SD Mejobo I, tahun 1971 padahal sebenarnya ada sekolah yang lebih dekat yakni SD Mejobo II yang hanya mengasih murid sampai kelas III (setelah itu harus ke SD Mejobo I juga). Bayangkan, anak SD sekolah jaan kaki sampai kira-kira 1 km. Hanya setengah tahun pertama saja aku diantar membonceng sepeda, selebihnya jalan kaki. Awal sekolah juga bukan sesuatu yang menyenangkan. Sempat dipukuli pakai sapu lidi karena menolak masuk ruang kelas semasa SD. Siapa sangka akhirnya malah aku lulus dengan nilai terbaik.
Bulan Januari tahun 1977 mulai sekolah di SMP 2 Kudus. Mencari (tepatnya: membeli) formulir pendaftaran saat itu bukan persoalan mudah. Sepupuku bahkan harus antre 3 hari, itupun mulai dari sebelum subuh, baru dapat formulir. Ada tes masuk waktu itu. Untuk menambah percaya diri, sore sebelum tes Ibu bahkan pergi ke 'orang tua' yang membekaliku dengan sebongkah kemenyan untuk digigit dan disemburkan di ruangan tes setelah tes berlangsung. (Antara percaya dan tidak, aku patuh melakukannya. Apakah aku diterima karena itu? Wallahualam!). Menjelang kelas 3 SMP sekolah diperpanjang setengah tahun, agar tahun ajaran baru dimulai pada bulan Juli. Alasannya, kalau tak salah, agar sama dengan tahun ajaran baru di berbagai tempat di LN. Apa benar begitu, aku belum sempat mengkonfirmasikannya sampai saat ini.
Juli 1980 - Juni 1984
Ini saat aku sekolah di STM Pembangunan Semarang. Sempat dianggap nggak mungkin bisa diterima karena aku cuma anak kampung, tetapi akhirnya bisa diterima juga. Tinggal di rumah Budhe, yang saat itu rumahnya juga menjadi hunian mahasiswa kost dari Kedokteran Undip. Ini tahun-tahun pemandirian. Tinggal di kota besar, mengerjakan segala sesuatu sendiri, banyak asam-garam kehidupan aku alami di sini. Hampir tiap sabtu pulang, dan nyaris selalu dijemput mbak Pur di terminal Kudus. Saat itu terminal ada di lokasi tugu Menara sekarang. Hanya kalau mbak Pur tidak bisa jemput, aku pulang naik becak. Waktu itu, becak dari terminal sampai rumah hanya Rp. 5000.
Masa yang menyenangkan, penuh semangat, sesak oleh cita-cita dan ambisi. Di masa sekolah ini aku sempat pula tinggal 3 bulan di Bandung, di Cisitu, selama Praktek Industri di LEN Jl. Sukarno Hatta. Tinggal sau indekosan dengan sepupu, SS.
Juli 1984 - Februari 1990
Masa sekolah di IKIP Negeri Yogyakarta. Bekalnya: Tunjangan Ikatan Dinas. Nggak pernah bercita-cita jadi guru, malah mendaftar ke SPG yang pernah aku lakukan dulu, bahkan sengaja tidak aku ikuti tes-nya. (Andai aku guru SD, mungkin malah sudah jadi KS atau guru bersertifikat ya?). Pengalaman mandiri di Semarang menjadi semakin tertempa di kota pelajar ini. Masjid, sesuatu yang 'jauh' dari kehidupanku di Kudus maupun Semarang, mulai kudekati. Selama episode Yogya ini aku tinggal hanya di satu tempat indekos Krml A20. Arah hidup makin terbentuk, meskipun karena tidak diterima menjadi dosen, aku sempat ngabur ke Jakarta, menjadi penulis ensiklopedi. Ini episode menyenangkan dalam hidup karena mengerjakan sesuatu yang kusukai. Minusnya: diperintah oleh orang lain, yang memang pemilik perusahaan.
Februari 1990-Februari 1991
Episode Jakarta, Cipta Adi Pustaka, dan Erlangga. Bekerja sebagai editor dan kontributor di PT Cipta Adi Pustaka, yang a.l. menerbitkan Ensiklopedi Nasional Indonesia. Masa yang singkat itu aku mengenal Alm. Hadyana Pudjaatmaka, yang kemudian menjadi 'mentor' yang tak pernah melarangku untuk berselingkuh dengan Erlangga saat seharusnya mengerjakan tenggat penulisan di CAP. Beliau tahu, aku diupah terlalu kecil, jadi membiarkan, bahkan menganjurkan untuk berselingkuh saja. Rentang satu tahun ini aku tinggal di keluarga sepupu, di Rawamangun.
(will be continued)
Wednesday, August 27, 2008
Alhamdulillah, Ido akhirnya jadi dikhitan. Semua bermula ketika hari Sabtu, 23 Agustus 2008. Aku dan Mamanya Ido berkonsultasi dengan dr. Nindyawan mengenai kemungkinan Ido di-sirkumsisi (aku pakai istilah itu agar Ido tidak tahu bahwa konsultasi ini adalah untuk rencana khitannya) beserta cara dan resikonya. Kepada Ido, Mama selalu mengatakan Ido tidak disunat, hanya 'dibersihkan burungnya'. Ketika dokter melakukan pemeriksaan awal, Ido-pun tidak ragu-ragu membuka 'burungnya'. Kami kaget juga ketika dokter mengatakan: "Senin saja tindakannya ya Pak, Bu. Sebaiknya datang siang sekitar jam 13 supaya tidak kena charge dua hari. Sorenya baru dilakukan tindakan"!. Tanpa berpikir panjang, kami mengiyakan. (Berapa biayanya ya?)
Maka hari Minggu, 24 Agustus, aku pesan kamar untuk Ido. Dapat di Angela no 76. Dulunya itu kamar VIP tapi karena fasilitas teleponnya tak ada maka untuk sementara dijadikan kamar kelas 1.
Hari Senin tanggal 25 Agustus, kami bertiga berangkat ke RS Elisabeth, persis sepertinya ketika dulu membawa Mama Ido mau operasi (3 kali operasi besar!). Jam 12 lebih kami telah sampai ke Elisabeth, dan setelah mengurus administrasi (tanpa diharuskan menitip uang dulu!) kami bertiga menuju kamar Angela no. 76. Setelah basa-basi singkat, perawat mengatakan bahwa tindakan akan dilakukan jam 18.00.
Lucunya, tepat jam 18.00, Ido yang gelisah menunggu dokter. Dikatakan kepadanya bahwa 'pembersihan' akan dilakukan di ruangan lain. Ido sempat ke ruang perawat dan menanyakan kapan akan 'dibersihkan' burungnya, tentu dengan Papa sebagai penerjemah kata-katanya. Maka jam 18.20-an, ketika perawat akhirnya datang dengan kursi roda, Ido dengan sigap mengganti bajunya dengan baju putih dari perawat dan duduk di kursi roda. Tentu saja kami terharu melihat dia sama sekali tidak takut (saat itu sudah datang teman-temannya Mama Ido, bu dan pak Warsono dan mbak Atik). Ramai-ramai kami mengantar Ido ke ruang operasi.
Satu-satunya protes Ido adalah ketika mau dibius. Mulut dan hidungnya dipasang masker. Untunglah, protesnya tidak lama, setalah Mamanya membujuk jadilah Ido mau mengenakan masker dan ....... tidur!. Ok, kami keluar dan menunggu. Kira-kira 30 menit operasi selesai. Ido masih tidur di atas bed operasi, tak berdaya. Tak sampai 5 menit, Ido terbangun dan mulai memeriksa 'burungnya'. Protes mau segera kembali ke kamar. Konyolnya, nunggu susternya sampai 10-menitan sebelum akhirnya benar-benar diantar ke kamar dengan kursi roda.
Membayangkan Ido bakal kesakitan sekitar tengah malam membuat kami susah tidur. Anehnya, sampai pagi tidak ada tanda-tanda Ido kesakitan. Bahkan bangun sendiri untuk pipis. Hanya saja, jam 04.30 Ido muntah dan lemas. Paginya, sebelum sarapan, Ido diberi obat oral, katanya untuk pelapis lambung. Sampai dokter datang dan kami konsultasi, Ido belum makan pagi. Nasihat dokter, lebih baik kalau disuntik agar tidak muntah. Untuk mengatakan suntik inipun dokter harus mengajak aku keluar supaya Ido tidak dengar. Pada akhirnya sih Ido nurut disuntik, dan malahan tidak tampak tanda-tanda ia kesakitan. Hanya ketika perawat menekan bekas luka suntik agar perdarahan berhenti, Ido terjingkat: "Sakit"! katanya. Bereslah, setengah jam lagi Ido boleh makan pagi.
Benar juga, sampai siang (jam 11-an) Ido tidak muntah. Lalu kami merencanakan siang itu juga pulang, setelah membereskan urusan administrasi.
Akhirnya kami meninggalkan rumah sakit jam 16-an. Dibekali obat penghilang nyeri dan anti biotika serta salep untuk luka. Sebenarnya, bagi kebanyakan anak, khitan adalah hal biasa. Bagi Ido, sebenarnya bagi kami orangtuanya, khitan adalah peristiwa sangat penting karena beberapa hal. Pertama, karena harus bius total (istilah dokter: general anaesthesi) aku takut dengan proses reanimasinya (menyadarkan kembali dari pengaruh bius). Bius total dilakukan mengingat postur Ido yang tinggi besar (165 cm/69 kg) dan autis. Sulit diduga reaksinya bila ia ketakutan, karena bisa saja ia tidak malu-malu menendang atau lari dari meja operasi. Kedua, Ido mengidap asthma, meskipun jarang sesak napas karena lebih sering muncul seperti gatal-gatal di kulit.
Dalam perjalanan pulang, ia berencana mau mampir ke KFC di Gelael Candi untuk membeli ayam satu ember dan poffertjes. Yang terakhir ini aku sungguh nggak tahu, makanan apa gerangan. Ido tahu dari iklan(!). Yah, diturutin lah, karena dulu ketika aku sunat juga membebani Ibu dengan beberapa keinginan yang juga dengan serta merta diberikan. Yang paling enak dulu adalah, sebagai obat (katanya!) tiap hari aku beroleh lauk istimewa, yakni ikan lele yang dibumbu (namanya bumbu srapah, entah terdiri dari apa saja itu?) dan dibakar. Harap maklum, saat itu lelenya benar-benar lele liar, bukan lele dumbo. Jadi, ya gurih banget. Kalau lele dumbo, sulit dibakar/dipanggang karena dagingnya pasti berjatuhan.
Sampai rumah, Ido kami suruh tidur (kan sudah mandii sore di rumah sakit).
Friday, August 08, 2008
Kalau acara berlangsung tanpa ralat, ini adalah bulan paling heboh. Hari ini (8 ags 2008) sampai Minggu (10 ags 2008) di hotel Sparks, acara PJJ PGSD nyusun panduan2. Pulang tanggal 10 jam 15.25, terus besoknya tanggal 11 jam 09.20 berangkat lagi untuk acara BERMUTU temu wicara di hotel Mega Anggres, pulang tanggal 12 jam 15.25 juga. Sudah gitu untuk acara terusannya yang tanggal 12 aku harus ke Jakarta lagi juga tanggal 13 di Mega Anggrek. Pulang tanggal 15 Ags. Kalau acara dengan paf Sopyan jadi, tanggal 19 - 23 ke Jakarta lagi, untuk kegiatan entah apa, yang diselenggarakan Intel. Bingung ya, kenapa musti bolak-balik. Habis kalau nginep di Jakarta siapa yang bayarin, lagian kan jadi nggak ada bukti keberangkatan (siapa yang suruh boros, coba?). Yang untung tentu aku, GFF-ku jadi nambah banyak pointnya (he ...he...he).
Saturday, August 02, 2008
Dua hari lalu aku melihat yang ganjil di halaman kantor FT. Baliho besar berisi foto-foto pejabat. Mau lihat?

Foto aku ambil tangal 2 Agustus pagi hari (jam 9-an), dan mungkin sudah terpasang di situ beberapa hari atau beberapa minggu. Lebih dari seminggu aku nggak nengok kampus soalnya. Rasanya ada yang aneh! Kalau baliho itu berisi program kerja sih oke-oke saja. tapi ini sih murni nampang. Memang aku bisa membayangkan alasannya: Biar mahasiswa baru kenal tampang para pejabat itu. So what? Kayak politisi saja!
Tuesday, July 29, 2008
Lagi, ini bagian dari kerjaan Bermutu PJJ PGSD. Pelatihan Pengembangan Bahan Ajar Web. Ada 13 peserta dari 13 PT (Unnes, Unej, Unismuh, Unpatti, UKSW, Unlam, Unila, UHAMKA, Undiksha, UNS, Unram, UNG, Unhalu). Kali ini tidak ada bu PP. Biasa saja, mirip dengan kegiatan ICT Advance, hanya saja kali ini pakau Hylite (Moodle-like LMS) . Cape? Tentu saja. Sebelum ini, 20 - 22 aku juga di Yogya, dengan Ido dan MamaIdo. Aku sendiri presentasi di UGM tanggal 21. Sebelumnya, 15-17 dan 17-19 di Hotel Sultan untuk membuat panduan belajar KKG/MGMP. Ini adalah komponen 2.2 proyek Bermutu.
Belum mikir disertasi. Harus selesai, Satu demi satu
4 – 7 Juli 2008
Sekitar jam 06.00 pagi aku sudah siap dan memesan taksi untuk ke Bandara. Tumben, ketika tiba di mulut gang, dari jauh kelihatan taksi sudah menunggu di pos ojek Pasar Damar. Maka pagi itu aku bisa sampai di Bandara jam 06.40, dan 06.45 sudah berada di ruang tunggu. Dari saat check-in, petugas sudah memberitahu kalau pesawat yang dari
Di Bandara sudah menunggu tiga penjemput dari Untan (Kaprodi PGSD: Pak Suhardi, Pengelola PJJ PGSD: Pak Herry Kresnadi, dan satu lagi pengelola lab ICT). Istirahat sebentar di restoran Bandara, kami kemudian meluncur untuk mencari tempat makan siang. Kami makan siang di Cafe Dangau di jalan (by pass) menuju/keluar Bandara. Menu khasnya, apalagi kalau bukan, ikan (termasuk ikan mas) dan aneka seafood. Seperti di Makassar, ada juga sambal mangga muda.
Kami menginap di hotel Orchardz (di daerah Pecinan-nya
- Kampus PGSD Untan, tentu saja
- Cafe Dangau, di Jalan Raya (Bypass) Bandara Supadio
- Pantai Kakap Indah, tempat makan di atas pantai (yang tidak indah sebenarnya, karena banyak sampah dan pasirnya hitam berlumpur). Masakannya lumayan, di sini aku sempat makan 1 porsi kepiting (yang isinya empat ekor!).
- Cafe Grafitasi (bener, pakai 'f'), tempat makan yang jauhnya 50 km dari penginapan. Diantar Dekan dan rombongan, melewati tugu Khatulistiwa (sayang malem hari). Pulang malem banget, sering berpapasan bus yang ulang-alik Pontianak-Kuching (Malaysia)
Thursday, July 17, 2008
Petunjuk ini mungkin Ido perlukan suatu ketika nanti. Kebetulan 2 tahun belakangan ini Papa sering bepergian naik pesawat. Kebanyakan sih memang ke Jakarta, dan sampai saat ini belum pernah ke negara lain. Paling jauh baru ke Medan, Banjarmasin, Denpasar. Berikut ini adalah tahapan atau langkah-langkah kalau mau bepergian dengan pesawat terbang, terutama dari Semarang, meskipun dari kota-kota lain caranya kurang lebih sama.
1. Pertama-tama Ido harus menuju ke Bandara atau Airport di Semarang, yaitu Bandara Ahmad Yani. Letaknya ada di depan Musem Ronggo Warsito (ingat, Ido pernah ke sana bersama teman-teman ketika masih di kelas 2 SD dulu). Dari Banyumanik biasanya Papa naik taksi (bisa Bluebird, bisa Satria/Express). Biayanya kira-kira Rp. 45.000 - Rp. 55.000. Ingat bahwa kita harus check-in paling lambat 30 menit sebelum jam keberangkatan pesawat. Sebaiknya 1 jam sebelumnya. Jadi, bila pesawat akan terbang jam 07.35, usahakan jam 06.30 atau sebelum jam 07.00 Ido harus sudah sampai di Bandara, Karena perjalanan dari Banyumanik ke Bandara perlu waktu 30 menit, maka jam 06.00 Ido sudah harus berangkat. Biasanya Papa sudah memesan taksi sejak jam 06.00 dan seperti biasa Papa akan segera berjalan menuju pos ojek di Pasar Damar agar memudahkan sopir taksi menjemput. Kalau sekiranya jalanan ramai, Papa biasanya meminta sopir untuk lewat jalan tol. Bila harus lewat tol, siapkan uang Rp. 3000 untuk karcis masuk tol dari Banyumanik sampai Krapyak. Siapkan juga uang Rp. 2500 untuk karcis masuk kendaraan ke Bandara Ahmad Yani.
2. Di Bandara, taksi biasanya akan berhenti di pintu keberangkatan.Di pintu masuk ini tas dan seluruh bawaan kita akan diperiksa petugas dengan peralatan sinar-X. Peralatan ini bisa 'melihat' isi tas kita. Bila ada barang-barang mencurigakan, tas akan dibuka dan diperiksa isinya. Pisau, gunting, dan barang-barang berbahaya tidak boleh di bawa ke dalam kabin pesawat. Usahakan jangan membawa barang-barang seperti pisau, gunting kuku, dll ke kabin pesawat. Barang-barangitu harus dimasukkan dalam tas yang harus ditempatkan di bagasi. Papa jarang menyimpan tas di bagasi karena biasanya bawaan Papa tidak banyak. Cukup satu tas kecil dan satu ransel berisi laptop. Tas dan ransel inipun harus melewati pemeriksaan sinar-X. Ponsel, kamera, anak kunci dan barang-barang logam lain yang ada di saku harus dikeluarkan dan diletakkan ke dalam nampan plastik untuk dilewatkan juga dalam pemeriksaan sinar-X.Bila barang-barang tersebut masih ada di saku kita, maka alarm akan berbunyi saat kita melewati tiang detektor logam. Bila ini terjadi, petugas akan meminta kita mengeluarkan barang-barang dalam saku kita. Beberapa kali Papa mengalami hal itu, ketika kunci atau kamera lupa Papa keluarkan dari saku.
3. Setelah melalui pintu masuk ini kita harus menuju counter atau meja untuk check-in. Di counter tersebut ada petugas yang akan melayani kita. Perhatikan tulisan di atas kepala petugas atau di mejanya. Tulisan itu memuat nama pesawat dan tujuannya. Check in adalah melaporkan kedatangan kita dan kesiapan kita untuk berangkat. Nama kita akan didaftar, dicocokkan dengan KTP atau tanda pengenal lainnya. Dari proses check-in ini kita akan mendapat nomor kursi. Bila kita datang agak awal, biasanya kita bisa meminta kursi dekat lorong atau kursi dekat jendela. Kursi dekat lorong memudahkan kita untuk pergi ke toilet sedangkan kursi deket jendela memudahkan kita melihat keadaan di luar pesawat. Dari jendela kita bisa melihat pemandangan menarik saat pesawat take-off ataupun landing. Atap-atap rumah, kelok-kelok sungai, pantai, dan deretan kendaraan di jalan raya. Setelah pesawat berada pada posisi jelajah pemandangan itu tidak bisa kita lihat karena pesawat berada pada ketinggian 30.000 feet atau sekitar 10.000 meter. Yang akan terlihat hanya gumpalan awan di bawah kita atau kilatan-kilatan air laut kalau pandangan kita tidak terhalang awan.
4. Setelah melapor ke counter check-in kita akan mendapatkan kertas semacam tiket yang disebut boarding-pass atau kartu masuk pesawat. Boarding-pass inilah yang selanjutnya kita gunakan, sebagai pengganti tiket. Tiket sudah tidak diperlukan lagi.
5. Dengan boarding pass kita menuju loket pembayaran pajak bandara (airport tax). Di Bandara Ahmad Yani kita harus membayar pajak Rp. 25.000,-. Di bandara lain ada yang Rp. 30.000, misalnya Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Kalau kita bepergian ke luar negeri kita membayar biaya fiskal yang besarnya Rp. 1.000.000,-.
6. Dari loket pajak bandara itu kemudian kita bisa memasuki ruang tunggu. Di Bandara Ahmad Yani Semarang (nama singkatannya adalah SRG) ada dua ruang tunggu. Pertama adalah ruang tunggu luar, yang sebenarnya sih tempatnya sudah di dalam bandara tetapi berada dekat kios-kios dan restoran untuk makan. Ruang tunggu ini digunakan kalau ruang tunggu di dalam penuh atau pesawat yang akan kita tumpangi belum datang. Kita dipersilahkan menuju ruang tunggu dalam kalau pesawat kita sudah datang (biasanya 30 menit sebelum jam masuk pesawat atau jam boarding, jam masuk pesawat umumnya 20 menit sebelum jam take-off pesawat).
7. Dari ruang tunggu luar ke ruang tunggu dalam kita melewati lagi pintu pemeriksaan sinar-X, sama seperti di pintu masuk sebelumnya. Di pintu ini bukti pembayaran pajak bandar diperiksa dan disobek setengahnya untuk bukti pembayaran (dan menghitung pendapatan pemerintah daerah).
8. Kira-kira 10 - 15 menit sebelum pesawat berangkat, kita dipersilahkan memasuki pesawat. Proses memasuki pesawat inilah yang disebut boarding. Di Bandara Ahmad Yani Semarang ada 3 pintu menuju tempat parkir pesawat. Tidak ada fasilitas garbarata yangmenghubungkan pintu ruang tunggu dengan pintu pesawat. Kita harus berjalan menuju tempat parkir pesawat dan menaiki tangga untuk memasuki pesawat. Jadi masih kuno dan tidak nyaman. Apalagi kalau panas menyengat karena pesawat terbang jam 11 atau 12 siang. kalau hujan, petugas menyediakan payung untuk menuju ke pesawat. Di pintu keluar petugas akan menyobek sebagian boarding pass kita, lalu kita berjalan menuju tangga pesawat.
9. Di pesawat, setelah semua penumpang duduk di kursi masing-masing, pramugari akan mendemonstrasikan prosedur penyelamatan, antara lain memberitahu cara memasang sabuk keselamatan dan pelampung. Pada pesawat jenis airbus A-19 dan beberapa pesawat lain, demonstrasi ini dilakukan secara 'live' oleh pramugari (seperti yang kadang-kadang ditirukan oleh Ruben di televisi). Pada pesawat jenis Boeing 737-400 demonstrasi ini ditunjukkan dengan video di monitor televisi pesawat. Penumpang yang duduk di kursi tempat jendela darurat akan diberitahu cara-cara membuka pintu darurat.
Thursday, June 26, 2008
Aku lupa entah yang ke berapa di Acacia ini. Yang jelas seminggu ini ada 2 acara sambung menyambung. Satu: melatih calon reviewer proposal DIP-BP, dua: mereview proposal. Saat aku tulis ini (kamis pagi 26 Juni 2008) dua kerjaan itu sudah aku selesaikan. Tinggal nunggu sampai besok. Jadwal flight-ku besok sore jam 17.05. Acara ke Pontianak juga sudah dipastikan dan aku sudah pesan tiket bolak-balik. Jadinya 4 - 7 Juni 2008 aku akan berada di Pontianak (Untan) untuk monitoring dan evaluasi PJJ PGSD.
That's all.