Jakarta, 11 Desember 2007
Kali ini aku ke Jakarta, pakai RI-291 berangkat dengan Mandala jam 7.30 dari Semarang untuk kegiatan penyusunan guideline hibah Bermutu. Binatang apa itu, biar terjawab nanti. Seharusnya aku ikut diundang pada pertemuan pertama dulu, tapi karena bu RDY tahu aku di Medan maka aku tidak diundang. Rencanaku berangkat jam 06.00, tertunda sebentar karena ibu telepon tentang situasi terbaru mengenai ganti rugi tanah di kebun bambu belakang. YSN ngedumel merasa tidak dilibatkan. Aku bilang, biarin. Tidak usah dipikir.
Sialnya, ternyata taksi mogok, demo memprotes rencana masuknya Blue Bird ke Semarang. Jadilah aku, setelah turun dari angkot di dekat ADA, kembali naik angkot lagi turun sambil berfir bagaimana cara sampai ke airport tanpa telat. Akhirnya aku turun di pasar Jatingaleh, nawar ojek ke bandara (tukang ojek hanya minta 20.000, kirain sampai 50.000 seperti ongkos taksi!). Jadilah, di pagi yang ramai, tukang ojek membawaku ngebut melewati Kaliwiru - Sultan Agung - S. Parman – Pamularsih – Bandara. Sampai di counter check – in rupanya aku orang terakhir yang check – in karena setelah itu sounter ditutup. Lalu larilah aku ke counter airport tax, nyempatin beli asuransi biarpun cuma yang 10.000-an (biar kalau ada apa-apa dengan aku, ada tambahan sedikit buat Ido dan Mamanya). In flight, right after me (seat number 27F) is beautiful – chinese girl around 30. Sitting still with her pseudo-blondie hair, almost bloody-red lips and pearl-white skin. Hmm .. good looking!
Jam 08.20 sudah sampai di CKG, lalu bengong sambil mikir: langsung taksi ke hotel atau jalan ke Gambir dulu pakai bus DAMRI. Akhirnya aku pilih DAMRI sambil ngelihat dan ngapalin jalan (sambil otakku mengingat peta yang kubuka tadi di halte bandara). Oke, ngeliwati Taman Anggrek (kok kayak apartemen, bukan mall?). ‘Kan Twin Plasa dekat Taman Anggrek, di mana? Lewat! Habis aku nggak tahu. Sangkain juga yang tadi bukan mall Taman Anggrek meskipun jelas-jelas titelnya Taman Anggrek (gak pakai mall atau mal, soalnya). (Baru kemudian aku tahu bahwa itulah memang mall Taman Anggrek, hanya saja meskipun dekat dari Twin Plaza, ke sananya musti pakai taksi! Tak mungkinlah menyeberangi 5-6 jalan tol yang bersilang sengkarut nggak keruan)
Sampai di Gambir 1 jam kemudian, sempatin makan di warung Padang lalu cari Blue Bird. Ternyata pangkalan Blue Bird ada di belakang, disamping Musholla Sta Gambir. Jadilah aku pakai Blue Bird ke Twin Plaza. Hanya 20.000. Check in dapat kamar 508. Saat ini lagi nungguin waktu meeting yang katanya nanti jam 16.00.
Setelah rapat baru aku tahu lebih jelas bahwa acaranya adalah menyusun guideline hibah untuk pengembangan bahan ajar pjj s1 pgsd. Ini proyek yang bakalan mengkompetisikan hibah senilai 90 – 135 juta untuk menyusun satu perangkat ajar beserta pernak-perniknya. Ada 5 anggota tim yang datang (Aku, SKM, Y, H, dan RDR) dari sejumlah undangan yang namanya tercantum di daftar. Jadi, ini pengalaman pertama aku ikut menyelesaikan guideline hibah yang didanai World Bank. Biasanya hanya menjadi penyusun proposal untuk meraih hibah saja!. Bila dana dari World Bank jadi turun, tampaknya bakal ada hibah yang cukup besar bagi teman-teman pgsd sampai tahun 2011. Nggak tahu, dilibatkan jadi apa lagi nanti. Wait and see saja, lagian banyak yang harus aku rencanakan untuk 2008. malu sama pak Adi kalau nggak segera nyelesaiin sekolahku!
Sementara itu, Ana (dari lab SETS-nya prof. Bin) mengingatkan untuk menandatangani form proposal konsultan ICT di wilayah DIY. Apa daya, saat ini aku masih di Jakarta. Ana bilang, berkas akan dikirim via email untuk ditandatangani dan kemudian dikirim sendiri ke suatu alamat di Jakarta. NPWP bisa menyusul. Gak tahulah, gimana nanti saja!
Percakapan rame-rama 3 pihak: ibu E (ITB), tim kami, dan Dikti menjadi inspirasi setidaknya dalam 2 hal, yaitu:
• Kok begitu cara berfikirnya ibu E yang notabene dosen eksakta di PT unggulan di Indonesia?
• Apa benar bahwa teman-teman PGSD (sebenarnya: LPTK secara umum) benar-benar seperti yang digambarkan: terlalu sedikit orang dan terlalu rendah kualitasnya untuk menerima guyuran dana antara 90 – 135 juta untuk pengembangan satu mata kuliah?
Ibu E mempertanyakan begitu besarnya dana yang diguyurkan (diantara banyak dana-dana dan program lain yang bisa membuat teman-teman PGSD ‘keplepeken’), padahal buku kualitas bagus lengkap dengan teaching kit (ppt, web ready LOM) hanya berharga 1-2 juta. Dari sisi ini saja sudah ada cara pikir yang salah, yaitu membandingkan produk jadi yang dibeli eceran tiap eksemplar dengan ‘biaya pengembangan’. Aku menyarankan untuk membuat pembandingan yang lebih rasional: bandingkan biaya pengembangan buku PJJ PGSD yang nilainya 90 – 135 juta itu dengan misalnya, membeli hak cipta buku yang bagus namun ‘murah’ itu (plus biaya menterjemahkan dan memproduksinya), atau dengan bila pemerintah membeli buku tersebut sebanyak 1000 eksemplar lebih (sesuai jumlah mahasiswa PGSD). Pasti akan jauh lebih mahal membeli buku itu. Lagian, dengan memproduksi (yang hanya berbiaya 90 – 135 juta) teman-teman di PGSD mendapat pengalaman menulis dan mengembangkan kit pelengkapnya. Ini semacam hidden agenda dari rencana kompetisi DIPBP. Memang, akhir-akhir ini di PGSD terlalu banyak hibah untuk dikerjakan dengan baik. Bahkan terkesan orang-orang di luar PGSD terkesan menjadi seperti semut mendekati gula karenanya. Tentu ini sebenarnya kesalahan Pusat dalam mencermati kapasitas institusi yang diawasinya.
OK, at least tugas penyusunan Guideline DIPBP untuk sementara telah berakhir. Jam 09.15 aku bergegas ke bandara. Dari Twin Plaza lalu lintas cukup lancar. Ongkos taksi yang aku bulatkan menjadi 80.000 rasanya menjadi cukup mahal mengingat apa yang diberikan Dikti sebagai honor atau pokoknya ‘take home pay’ (artinya termasuk bati dari tiket) selalu berkecenderungan mengecil dari hari ke hari, dari subdit satu ke subdit lain. Tidak terlalu menjadi persoalan sebenarnya. Anggap sebagai pengalaman saja. Rasanya aku sudah harus mulai fokus ke aplikasi ICT di pendidikan saja deh setelah selesai sekolah.
Setengah jan kemudian aku sampi di bandara SH. Sialnya, penerbangan pesawat ketunda 2 jam. Jadi baru akan terbang jam 13.25. Mula-mula hanya ada Aqua, tapi beberapa saat kemudian diumumkan ada service lain: nasi kotak + ayam dari AW. Buat Ido saja, kali.
Tuesday, December 18, 2007
Sunday, December 16, 2007
Medan 3 – 8 Desember 2007
Acara sesungguhnya dimulai dari tanggal 3 dan berakhir tanggal 7 Desember jam 11.00 pagi, tapi aku baru bisa pulang 8 Desember 2007. Seperti biasa acaranya adalah Training/Workshop on ICT for Quality Improvement of Graduate Study. Dengan pak AS, aku di kamar 130, lantai 2, hotel tua Inna Dharma Deli. Lokasinya sesungguhnya bagus. Dekat dengan gedung tua Balaikota Medan, berseberangan dengan kantor pos yang pada dinding depan luarnya tertulis “Anno 1911” (sayang aku nggak sempat masuk lihat interiornya). Di seberangnya lagi ada Merdeka Walk, semacam food bazar sekaligus tempat kongkow anak muda (kebanyakan amoy Medan). Berbatasan dengan Merdeka Walk, ada tanah lapang. Agaknya semacam lapangan publik. Di salah satu ujung lapangan ada pendapa, mirip pendapa Kabupaten (barangkali juga memang pendapa Kota Medan). Di depan pendapa itu, ada tanah lapang yang pinggirnya berupa jogging atau running track. Anehnya, di sekeliling tepian lapangan, terdapat banyak peralatan gimnastik (beberapa sky walker, dan alat-alat lain dari besi-besi kokoh) yang bisa dipakai gratis.
Mengelilingi lapangan sore hari, tanggal 7 Desember ketika tertinggal sendiri di hotel setelah rombongan terakhir (AR, BD, DP, dan AS) check out, aku banyak menemukan ‘keindahan’ tersembunyi di pusat kota Medan ini. Bangunan-bangunan tua mengelilingi lapangan dan lahan Merdeka Walk ini. Bangunan Balaikota (yang dibelakangnya siap berdiri hotel Astor (?), bangunan Bank Mandiri, stasiun Kereta Api, Kantor Pos, dan bangunan baru (hasil renovasi?) di pojok jalan seberang Pasar Buku dengan atap berarsitektur Cina, adalah contoh gedung-gedung eksotik yang semoga bisa terus dijaga bentuknya.
Kantor Pos Medan yang dibangun 1911 (foto diambil 7 Desember 2007)
Di Samping Dharma Deli, kelihatan jembatan penyeberangan di latar belakang
Inna Dharma Deli dilihat dari depan
Kamar 130, luas tapi tua dan kurang terawat!
Merdeka Walk, dari arah Balaikota
Nah, bangunan tua yang bagus bukan? Kayak bangunan di kota lama Semarang
Rumah tingkat berarsitektur Cina, dilihat dari Pasar Buku
Stasiun Kereta Api Medan, dilihat dari sebuah kios di Pasar Buku
Pohon-pohon besar di sekeliling lapangan, membatasi Merdeka Walk dengan jalan raya yang mengelilinginya, adalah contoh bagaimana pohon-pohon tua ini masih bisa dilestarikan. Paginya, ketika pakai ‘taksi’ hotel menuju bandara, baru aku tahu bahwa ternyata pohon-pohon besar di pinggir jalan di Medan ini nyaris seperti pohon-pohon besar di kota Bogor. Menurut sopir ‘taksi’ hotel (yang sebenarnya Kijang Inova), pohon-pohon itu memng peninggalan sejak jaman Belanda.
Kalau dipikir-pikir sih, Semarang juga punya sudut menarik, yaitu bangunan kuno yang terutama berada di wilayah kota lama. Tapi, pohon-pohon besar di pinggir jalan di Semarang nyaris tidak ada. Paling-paling pohon yang agak-agak ‘kuno’ ada di sepanjang jalan Sultan Agung. Pohon randu alas tua yang dulu ada di pojok jalan Diponegoro, di depan Vina House, sudah raib nyaris setahun lalu, setelah beberapa bulan bertahan dengan diukir segala (konyol, pohon hidup diukir!!).
Kotor dan semrawutnya kota Medan juga mewakili kotor dan semrawutnya nyaris semua kota lain di Indonesia. Becak motor maupun becak sepeda dengan tempat penumpang di samping (bukan di depan seperti di Jawa) berseliweran di mana-mana. Angkot ngebut dan ngerem tiba-tiba banak ditemui. Sampai-sampai pak AS tidak berani menyeberang lantaran nggak percaya mereka angkot atau mobil-mobil punya rem.
O, ya, ada jembatan penyeberangan yang menghubungkan lahan Inna Dharma Deli dengan lahan Kantor Pos. Tapi, jembatan penyeberangan itu sudah karatan lantainya dan rupanya menjadi tempat menginap seorang tunawisma. Bekas-bekas nasi bungkus berserakan di lantai jembatan menjadikan kesan kotor dan kumuh, cermin ketidakmampuan pemerintah kota merawat kotanya.
UMSU, singkatan dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, menjadi host pelatihan kali ini. Tidak jelas, apa pertimbangannya menjadikan universitas ini menjadi tempat pelatihan. Laboratorium komputernya sempit sehingga 30 peserta berdesak-desakkan, ditambah listrik yang voltasenya naik-turun dan aircon yang tidak dingin, menambah derita para peserta pelatihan (juga instrukturnya!). Untung, kami instruktur, bisa menempati ruang direktur LP3AI yang lumayan sejuk. Hari pertama benar-benar menjadi siksaan bagi para instruktur yang standby karena memang tak ada tempat buat ngumpul. Baru pada hari kedua, pak AS yang kenal dengan direktur LP3AI, minta ijin ‘nunut’ di ruangan beliau. Untungnya lagi, direktur tersebut kemudian pergi ke luar kota, sehingga kami bebas menggunakan ruangannya.
Rumor bahwa bu PP mau lengser dari SMLC mendapat konfirmasi langsung dari sumber utamanya. Bu PP mengatakan pasti!, kendati memang belum ada keputusan hitam di atas putih. Jadilah, kalau belum ada sertijab, per 1 Januari 2008 bu PP akan menjadi ‘hanya’ acting director. Sayang juga, sebab direktur SMLC yang ini sepertinya lebih membuat SMLC dikenal luas dibanding dengan dua direktru sebelumnya. Sayang juga, program PJJPGSD yang diawalinya bisa terancam kelangsungannya (setidaknya style kepemimpinannya diperlukan untuk terus mengawal program baru itu setidaknya sampai meluluskan satu angkatan). AR memberiku cerita banyak tentang kepribadian dan keseharian direktur SMLC ini, termasuk apa yang semula kuanggap sebagai nama ‘marga’ atau ‘fam’ yang dimilikinya.
Malam-malam, bersama AS dan AR, makan kerang di Merdeka Walk. Lalu nyusul DP dan BD yang kemudian beli ice cream di McD. Sempat beliin kaos untuk Ido.
Acara sesungguhnya dimulai dari tanggal 3 dan berakhir tanggal 7 Desember jam 11.00 pagi, tapi aku baru bisa pulang 8 Desember 2007. Seperti biasa acaranya adalah Training/Workshop on ICT for Quality Improvement of Graduate Study. Dengan pak AS, aku di kamar 130, lantai 2, hotel tua Inna Dharma Deli. Lokasinya sesungguhnya bagus. Dekat dengan gedung tua Balaikota Medan, berseberangan dengan kantor pos yang pada dinding depan luarnya tertulis “Anno 1911” (sayang aku nggak sempat masuk lihat interiornya). Di seberangnya lagi ada Merdeka Walk, semacam food bazar sekaligus tempat kongkow anak muda (kebanyakan amoy Medan). Berbatasan dengan Merdeka Walk, ada tanah lapang. Agaknya semacam lapangan publik. Di salah satu ujung lapangan ada pendapa, mirip pendapa Kabupaten (barangkali juga memang pendapa Kota Medan). Di depan pendapa itu, ada tanah lapang yang pinggirnya berupa jogging atau running track. Anehnya, di sekeliling tepian lapangan, terdapat banyak peralatan gimnastik (beberapa sky walker, dan alat-alat lain dari besi-besi kokoh) yang bisa dipakai gratis.
Mengelilingi lapangan sore hari, tanggal 7 Desember ketika tertinggal sendiri di hotel setelah rombongan terakhir (AR, BD, DP, dan AS) check out, aku banyak menemukan ‘keindahan’ tersembunyi di pusat kota Medan ini. Bangunan-bangunan tua mengelilingi lapangan dan lahan Merdeka Walk ini. Bangunan Balaikota (yang dibelakangnya siap berdiri hotel Astor (?), bangunan Bank Mandiri, stasiun Kereta Api, Kantor Pos, dan bangunan baru (hasil renovasi?) di pojok jalan seberang Pasar Buku dengan atap berarsitektur Cina, adalah contoh gedung-gedung eksotik yang semoga bisa terus dijaga bentuknya.
Pohon-pohon besar di sekeliling lapangan, membatasi Merdeka Walk dengan jalan raya yang mengelilinginya, adalah contoh bagaimana pohon-pohon tua ini masih bisa dilestarikan. Paginya, ketika pakai ‘taksi’ hotel menuju bandara, baru aku tahu bahwa ternyata pohon-pohon besar di pinggir jalan di Medan ini nyaris seperti pohon-pohon besar di kota Bogor. Menurut sopir ‘taksi’ hotel (yang sebenarnya Kijang Inova), pohon-pohon itu memng peninggalan sejak jaman Belanda.
Kalau dipikir-pikir sih, Semarang juga punya sudut menarik, yaitu bangunan kuno yang terutama berada di wilayah kota lama. Tapi, pohon-pohon besar di pinggir jalan di Semarang nyaris tidak ada. Paling-paling pohon yang agak-agak ‘kuno’ ada di sepanjang jalan Sultan Agung. Pohon randu alas tua yang dulu ada di pojok jalan Diponegoro, di depan Vina House, sudah raib nyaris setahun lalu, setelah beberapa bulan bertahan dengan diukir segala (konyol, pohon hidup diukir!!).
Kotor dan semrawutnya kota Medan juga mewakili kotor dan semrawutnya nyaris semua kota lain di Indonesia. Becak motor maupun becak sepeda dengan tempat penumpang di samping (bukan di depan seperti di Jawa) berseliweran di mana-mana. Angkot ngebut dan ngerem tiba-tiba banak ditemui. Sampai-sampai pak AS tidak berani menyeberang lantaran nggak percaya mereka angkot atau mobil-mobil punya rem.
O, ya, ada jembatan penyeberangan yang menghubungkan lahan Inna Dharma Deli dengan lahan Kantor Pos. Tapi, jembatan penyeberangan itu sudah karatan lantainya dan rupanya menjadi tempat menginap seorang tunawisma. Bekas-bekas nasi bungkus berserakan di lantai jembatan menjadikan kesan kotor dan kumuh, cermin ketidakmampuan pemerintah kota merawat kotanya.
UMSU, singkatan dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, menjadi host pelatihan kali ini. Tidak jelas, apa pertimbangannya menjadikan universitas ini menjadi tempat pelatihan. Laboratorium komputernya sempit sehingga 30 peserta berdesak-desakkan, ditambah listrik yang voltasenya naik-turun dan aircon yang tidak dingin, menambah derita para peserta pelatihan (juga instrukturnya!). Untung, kami instruktur, bisa menempati ruang direktur LP3AI yang lumayan sejuk. Hari pertama benar-benar menjadi siksaan bagi para instruktur yang standby karena memang tak ada tempat buat ngumpul. Baru pada hari kedua, pak AS yang kenal dengan direktur LP3AI, minta ijin ‘nunut’ di ruangan beliau. Untungnya lagi, direktur tersebut kemudian pergi ke luar kota, sehingga kami bebas menggunakan ruangannya.
Rumor bahwa bu PP mau lengser dari SMLC mendapat konfirmasi langsung dari sumber utamanya. Bu PP mengatakan pasti!, kendati memang belum ada keputusan hitam di atas putih. Jadilah, kalau belum ada sertijab, per 1 Januari 2008 bu PP akan menjadi ‘hanya’ acting director. Sayang juga, sebab direktur SMLC yang ini sepertinya lebih membuat SMLC dikenal luas dibanding dengan dua direktru sebelumnya. Sayang juga, program PJJPGSD yang diawalinya bisa terancam kelangsungannya (setidaknya style kepemimpinannya diperlukan untuk terus mengawal program baru itu setidaknya sampai meluluskan satu angkatan). AR memberiku cerita banyak tentang kepribadian dan keseharian direktur SMLC ini, termasuk apa yang semula kuanggap sebagai nama ‘marga’ atau ‘fam’ yang dimilikinya.
Malam-malam, bersama AS dan AR, makan kerang di Merdeka Walk. Lalu nyusul DP dan BD yang kemudian beli ice cream di McD. Sempat beliin kaos untuk Ido.
Wednesday, December 05, 2007
Rasanya novel Laskar Pelangi ini harus aku beli. Baru baca disini saja aku sudah berkaca-kaca. Kalau saja Ido mau membaca (eh, dia bisa baca dan paham isinya berita2 olahraga, mustinya dia bisa juga baca dan pahami novel. Gimana ya caranya bikin dia seneng baca novel?
Monday, May 09, 2005
Pagi tadi aku (pak budi, pak susilo, dan 3 org lagi dari SLB/SDLB: uus, lilis, moko) ketemu untuk ngebahas materi pelatihan komputer bagi guru-guru SLB. Lumayan untuk mengisi waktu dpd bengong nunggu komprehensif. Rencananya di Donohudan 16-21 Mei. Ah paling juga kaya pelatihan lain di Dins P dan K itu. Pokoknya instruktur sih santai.
Pulangnya aku ke BPD ambil dana talangan untuk kegiatan pelatihan digitalisasi dokumen. Hanya saja masih bingung SPJnya, soalnya dari bag. Keu minta SPJ, padahal kan mestinya diberikan ke P2U.
Gimana nanti aja.
Pulangnya aku ke BPD ambil dana talangan untuk kegiatan pelatihan digitalisasi dokumen. Hanya saja masih bingung SPJnya, soalnya dari bag. Keu minta SPJ, padahal kan mestinya diberikan ke P2U.
Gimana nanti aja.
Thursday, May 27, 2004
Saat ini aku lagi nungguin presentasi peserta Pelatihan Presentation Skills untuk Dosen-dosen muda Unnes yang telah berlangsung sejak hari Senin (24 Mei 2004). Pekerjaan yang mulai menjadi rutin namun belum cukup membosankan.
Pagi tadi aku sempat minta tanda tangan SPPD dari Asdir II (ASP) untuk ke Pelatihan Kiat Menulis Buku Ajar yang rencananya diselenggarakan di Graha Dinar Cisarua (2-12 Juni 2004). Rasanya agak enggan, soalnya banyak acara yang harus (dimintakan untuk) ditunda, misalnya ujian TKPP dan Inst. Biomedik dari AS dan TSW (UGM). Belum lagi memberi kuliah SPSS dan Pengembangan Media di PPs. MHs. S1 juga masih ada kelas sampai akhir Juni.
Yang lebih memusingkan adalah tugas dari MEW untuk merangkum usulan SP4-2005 dari MKU, Perpus, dan PPL agar diikat dengan benang merah Sistem Informasi Manajemen. Proposal untuk 2 tahun (500 jpth) yang cukup detil ini perlu dilengkapi dengan SWOT yang aku tidak tahu bahannya. Hery Kis yang katanya bawa sraft dari ketiga UPT juga belum bisa dihubungi. Pokoknya besok harus ke Gd. H, supaya langkah berikutnya bisa ditentukan.
Ke Cisarua enggak ya ? Kata ASP sayng kalau ditinggalkan.
Pagi tadi aku sempat minta tanda tangan SPPD dari Asdir II (ASP) untuk ke Pelatihan Kiat Menulis Buku Ajar yang rencananya diselenggarakan di Graha Dinar Cisarua (2-12 Juni 2004). Rasanya agak enggan, soalnya banyak acara yang harus (dimintakan untuk) ditunda, misalnya ujian TKPP dan Inst. Biomedik dari AS dan TSW (UGM). Belum lagi memberi kuliah SPSS dan Pengembangan Media di PPs. MHs. S1 juga masih ada kelas sampai akhir Juni.
Yang lebih memusingkan adalah tugas dari MEW untuk merangkum usulan SP4-2005 dari MKU, Perpus, dan PPL agar diikat dengan benang merah Sistem Informasi Manajemen. Proposal untuk 2 tahun (500 jpth) yang cukup detil ini perlu dilengkapi dengan SWOT yang aku tidak tahu bahannya. Hery Kis yang katanya bawa sraft dari ketiga UPT juga belum bisa dihubungi. Pokoknya besok harus ke Gd. H, supaya langkah berikutnya bisa ditentukan.
Ke Cisarua enggak ya ? Kata ASP sayng kalau ditinggalkan.
Monday, March 29, 2004
Kamis yang lalu, setelah memberikan ujian kompetensi susulan untuk peserta kuliah Komputer, aku sempat terkejut, dan heran. Salah satu di antara peserta datang menemui sambil berusaha menyerahkan amplop putih sambil ngomong: "Ini untuk transport Bapak". Heran, darimana mereka punya ide untuk nyangoni dosen? Untuk apa? Apa ini termasuk 'uang suap' atau kasihan sama dosen yang dikiranya kurang uang dan mau menerima pemberian seperti itu. Tentu saja aku menolak.
Melihat caranya, sempat terpikir oleh aku, pasti ini bukan pertama kalinya dilakukan. Masalahnya, adakah dosen yang mau menerima pemberian seperti itu?
Bukan munafik, aku juga perlu uang. tapi yang seperti barusan itu rasanya masih belum bisa ketelen. Soalnya, dibalik pemberian seperti itu pasti mereka berharap 'tidak dipersulit' kelulusannya. Dan itu berarti amplop putih tadi adalah 'harga' kelulusannya.
Yang lebih mengherankan, yang berusaha memberi itu adalah yang sehari-harinya juga dosen di sebuah PT swasta di Semarang juga. Pertanyaannya: apakah ia juga diperlakukan sama oleh mahasiswanya? Apakah dia mau menerima pemberian seperti itu? KKN-kah namanya.
Tidak usah berfilosofi, yang pasti hati nurani bisa 'melihat' ketulusan pemberian seperti itu dan kewajaran untuk menolaknya.
Kejadian dengan nuansa sama tetapi sedikit berbeda pernah juga aku alami setahun yang lalu. Pelakunya pejabat pemerintahan (orang kedua di salah satu Kabupaten di dekat Kota Semarang) yang tiba-tiba saja mengirimkan sekeranjang buah-buahan ke rumah melalui 'sopir' atau 'ajudannya'. Kebetulan aku tidak dirumah, dan melalui telepon istri minta pendapat, diterima atau tidak pemberian itu. Aku jawab terima saja, tetapi, jangan dibuka dulu.
Ketika sampai di rumah, baru aku tahu bahwa di antara buah-buah itu terselip surat dengan kop dinas jabatannya, dan berisi permintaan surat tanda kelulusan kuliah yang aku ampu. Kuliah yang aku ampu bukanlah kuliah penting, hanya kuliah 0 SKS tetapi menjadi prasyarat penulisan proposal dan kelulusan. Tentu saja aku menolak, dan balas memberi pengumuman bahwa ybs bagaimanapun juga harus mengikuti uji kompetensi. Ketika bertemu ybs aku jelaskan bahwa mestinya dia tidak perlu mengirim sesuatu untuk ujian seperti ini. Orangnya telah cukup berumur sehingga aku tidak sampai hati untuk 'menegur' ketidaksopanannya dengan mengirimkan sopir dan memberi aku memo berkop jabatan. Aku toh bukan bawahannya. meski demikian, aku toh meluluskannya juga karena melihat kesungguhannya berusaha mengerjakan soal yang aku berikan.
Bagaimanapun, perilaku itu masih lebih baik daripada kelakuan seorang pejabat level Universitas di tempat aku sendiri. Beliau menempuh S2 dan seharusnya juga ikut mata kuliah yang aku ampu. Sampai suatu saat menjelang ujian tiba-tiba kawan dekatnya yang juga dosen senior di jurusanku menelpon dan menanyakan kesediaanku menerima kedatangan beliau (sang pejabat itu) sambil jelas mengatakan bahwa itu berkaitan dengan surat kelulusan ujian komputer yang bahkan kuliahnya pun tidak pernah beliau ikuti. Dengan sangat hati-hati aku memberitahu dosen senior di jurusanku itu, bagaimanapun juga beliau (temannya itu) harus mengikuti uji kompetensi.
Tidak ada kabar beritanya lagi setelah itu, hanya yang aku tahu kemudian tiba-tiba saja namanya tercantum dalam daftar peserta ujian tesis. Ketika direktur aku beritahu bahwa ybs belum ikut ujian komputer, direktur berpesan supaya aku diam saja dan selanjutnya akan diselesaikan sendiri.
Masalahnya memang selesai dengan sunyi sepi, dan beliau melenggang tanpa harus memenuhi syarat yang SKnya ditulis sendiri oleh direktur itu.
Ternyata, buku yang sedang aku buka memang masih jauh dari selesai. Banyak 'pengetahuan' baru yang membuat aku terkejut-kejut. Maka, yakinkah pembaca (jikalau kebetulan membaca tulisan ini) kalau KKN, katabelece, suap, dan segala macemnya bisa hilang di Indonesia ini. Saya bekerja di lembaga pendidikan tempat calon tenaga kependidikan dididik dan dilatih. yang bersemi adalah bibit-bibit semacam itu. Tidak bolehkah kita pesimis dengan keadaan kita di masa depan. Bila ada tanggapan, email saya di hariwibawanto@yahoo.com
Melihat caranya, sempat terpikir oleh aku, pasti ini bukan pertama kalinya dilakukan. Masalahnya, adakah dosen yang mau menerima pemberian seperti itu?
Bukan munafik, aku juga perlu uang. tapi yang seperti barusan itu rasanya masih belum bisa ketelen. Soalnya, dibalik pemberian seperti itu pasti mereka berharap 'tidak dipersulit' kelulusannya. Dan itu berarti amplop putih tadi adalah 'harga' kelulusannya.
Yang lebih mengherankan, yang berusaha memberi itu adalah yang sehari-harinya juga dosen di sebuah PT swasta di Semarang juga. Pertanyaannya: apakah ia juga diperlakukan sama oleh mahasiswanya? Apakah dia mau menerima pemberian seperti itu? KKN-kah namanya.
Tidak usah berfilosofi, yang pasti hati nurani bisa 'melihat' ketulusan pemberian seperti itu dan kewajaran untuk menolaknya.
Kejadian dengan nuansa sama tetapi sedikit berbeda pernah juga aku alami setahun yang lalu. Pelakunya pejabat pemerintahan (orang kedua di salah satu Kabupaten di dekat Kota Semarang) yang tiba-tiba saja mengirimkan sekeranjang buah-buahan ke rumah melalui 'sopir' atau 'ajudannya'. Kebetulan aku tidak dirumah, dan melalui telepon istri minta pendapat, diterima atau tidak pemberian itu. Aku jawab terima saja, tetapi, jangan dibuka dulu.
Ketika sampai di rumah, baru aku tahu bahwa di antara buah-buah itu terselip surat dengan kop dinas jabatannya, dan berisi permintaan surat tanda kelulusan kuliah yang aku ampu. Kuliah yang aku ampu bukanlah kuliah penting, hanya kuliah 0 SKS tetapi menjadi prasyarat penulisan proposal dan kelulusan. Tentu saja aku menolak, dan balas memberi pengumuman bahwa ybs bagaimanapun juga harus mengikuti uji kompetensi. Ketika bertemu ybs aku jelaskan bahwa mestinya dia tidak perlu mengirim sesuatu untuk ujian seperti ini. Orangnya telah cukup berumur sehingga aku tidak sampai hati untuk 'menegur' ketidaksopanannya dengan mengirimkan sopir dan memberi aku memo berkop jabatan. Aku toh bukan bawahannya. meski demikian, aku toh meluluskannya juga karena melihat kesungguhannya berusaha mengerjakan soal yang aku berikan.
Bagaimanapun, perilaku itu masih lebih baik daripada kelakuan seorang pejabat level Universitas di tempat aku sendiri. Beliau menempuh S2 dan seharusnya juga ikut mata kuliah yang aku ampu. Sampai suatu saat menjelang ujian tiba-tiba kawan dekatnya yang juga dosen senior di jurusanku menelpon dan menanyakan kesediaanku menerima kedatangan beliau (sang pejabat itu) sambil jelas mengatakan bahwa itu berkaitan dengan surat kelulusan ujian komputer yang bahkan kuliahnya pun tidak pernah beliau ikuti. Dengan sangat hati-hati aku memberitahu dosen senior di jurusanku itu, bagaimanapun juga beliau (temannya itu) harus mengikuti uji kompetensi.
Tidak ada kabar beritanya lagi setelah itu, hanya yang aku tahu kemudian tiba-tiba saja namanya tercantum dalam daftar peserta ujian tesis. Ketika direktur aku beritahu bahwa ybs belum ikut ujian komputer, direktur berpesan supaya aku diam saja dan selanjutnya akan diselesaikan sendiri.
Masalahnya memang selesai dengan sunyi sepi, dan beliau melenggang tanpa harus memenuhi syarat yang SKnya ditulis sendiri oleh direktur itu.
Ternyata, buku yang sedang aku buka memang masih jauh dari selesai. Banyak 'pengetahuan' baru yang membuat aku terkejut-kejut. Maka, yakinkah pembaca (jikalau kebetulan membaca tulisan ini) kalau KKN, katabelece, suap, dan segala macemnya bisa hilang di Indonesia ini. Saya bekerja di lembaga pendidikan tempat calon tenaga kependidikan dididik dan dilatih. yang bersemi adalah bibit-bibit semacam itu. Tidak bolehkah kita pesimis dengan keadaan kita di masa depan. Bila ada tanggapan, email saya di hariwibawanto@yahoo.com
Tuesday, March 23, 2004
Jam 12.00 sesi workshop perancangan bahan presentasi dengan PPT untuk dosen bahasa Inggris berakhir.
Tidak ada lagi yang harus dilakukan, jadi aku browsing ke situs-situs multimedia untuk bahan ngajar mhs S2 TP.
Pak Sopyan barusan bilang, jam Pengembangan MM yang aku ampu dengan Prof. Binadja mau dipake pak Siskandar. Jadi jamku mundur menjadi jam 17.00 dan seterusnya. Nggak tahu, pak Binadja mau atau tidak.
Bukuku yang dipinjam pak Sopyan katanya sudah ada di mejanya, bisa aku ambil.
Tidak ada lagi yang harus dilakukan, jadi aku browsing ke situs-situs multimedia untuk bahan ngajar mhs S2 TP.
Pak Sopyan barusan bilang, jam Pengembangan MM yang aku ampu dengan Prof. Binadja mau dipake pak Siskandar. Jadi jamku mundur menjadi jam 17.00 dan seterusnya. Nggak tahu, pak Binadja mau atau tidak.
Bukuku yang dipinjam pak Sopyan katanya sudah ada di mejanya, bisa aku ambil.
Hari ini, jam 08.00 - 12.00 aku membantu teman-teman dosen Inggris belajar PowerPoint. Sekali-kali ninggalin kuliahnya pak Anto.
Jam 09.00 baru pada datang. Jadi dimulailah pada jam itu. Sampai jam 10.30 ada 8 dari 15 orang yang direncanakan ikut. Maklum, dosen banyak kesibukan.
Baru aku dengar hari ini, LCD proyektornya Bahasa Inggris hilang dicolong maling. Juga komputer punya Bahasa Jepang.
Untuk aku sudah tidak lagi KorLab Multimedia. Jadi tidak perlu lagi mikirin kehilangan barang-barang itu.
Jam 09.00 baru pada datang. Jadi dimulailah pada jam itu. Sampai jam 10.30 ada 8 dari 15 orang yang direncanakan ikut. Maklum, dosen banyak kesibukan.
Baru aku dengar hari ini, LCD proyektornya Bahasa Inggris hilang dicolong maling. Juga komputer punya Bahasa Jepang.
Untuk aku sudah tidak lagi KorLab Multimedia. Jadi tidak perlu lagi mikirin kehilangan barang-barang itu.
Sampai saat ini, kalau aku ingat-ingat lagi cara Jurusan mengambil keputusan membuat 'ruang dosen' (sebenarnya lebih mirip bazar atau pasar terbuka), aku masih nggak habis pikir. Apa sih maunya? Konyol kalau dibilang 'lebih memudahkan monitoring dosen'. Fuck you !
Artinya, dosen mau diawasi seperti mandor mengawasi kuli bangunan?
Padahal dana yang pasti lebih dari 25-jutaan itu akan lebih berguna untuk, misalnya membelikan lemari baku agar bisa digunakan dosen menyimpan buku-buku teks. Ruang-ruang kecil yang menampung 3-4 dosen dalam lingkup ilmu yang sama akan lebih baik, dalam arti bisa menyemaikan dialog yang lebih intelek dan berbobot daripada bazzar yang pasti hanya bisa dipakai ngerumpi.
Tapi apa boleh buat, otak para 'mandor' itu memang seperti aspal -- hitam dan beku -- jadi tak bisa diajak dialog. Kualitas, man, kualitas.
Artinya, dosen mau diawasi seperti mandor mengawasi kuli bangunan?
Padahal dana yang pasti lebih dari 25-jutaan itu akan lebih berguna untuk, misalnya membelikan lemari baku agar bisa digunakan dosen menyimpan buku-buku teks. Ruang-ruang kecil yang menampung 3-4 dosen dalam lingkup ilmu yang sama akan lebih baik, dalam arti bisa menyemaikan dialog yang lebih intelek dan berbobot daripada bazzar yang pasti hanya bisa dipakai ngerumpi.
Tapi apa boleh buat, otak para 'mandor' itu memang seperti aspal -- hitam dan beku -- jadi tak bisa diajak dialog. Kualitas, man, kualitas.
Subscribe to:
Posts (Atom)